Paviliun Randa Tapak

Moli
Chapter #7

Citra

Sosoknya selalu membawa petaka di mana pun dia berada. Itulah Andre. Kedatangannya yang tiba-tiba membuat suasana yang tadinya tenang menjadi gaduh. Sial. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku ada di sini? Apakah dia benar memiliki mata-mata seperti yang pernah ia bilang sebelumnya?

Sesaat aku teringat bahwa kami berdua terhubung dalam aplikasi map yang sama. Aplikasi tersebut mengizinkan penggunanya untuk menambahkan kontak ke dalam lingkup mereka, sehingga mereka bisa saling mengetahui lokasi satu sama lain secara real-time. Fitur ini tentu saja sangat menguntungkan dalam keadaan tertentu, seperti kehilangan ponsel atau, yang lebih buruk, diculik. Hal yang menjadi keunggulan justru menjadi perkara. Mimpi buruk mulai menghampiriku dalam sekejap, seakan tidak menyisakan waktu untukku bermimpi indah.

Ketika aku berniat mengabaikannya, Bu Lastri sudah terlebih dahulu membuka pintu. Andre tidak menduga kejadian ini, sehingga ia mundur satu langkah. Aku hanya bisa pasrah jika ia ingin memulai keributan di sini, akan tetapi di saat yang sama aku juga tidak enak terhadap Bu Lastri dan semuanya.

“Maaf, Pak. Ada perlu apa?” Bu Lastri dengan perawakannya yang tenang bertanya dengan sopan, sesuatu yang tidak mungkin aku lakukan kepada Andre.

“Anu...saya mau cari istri saya, Bu. Dia tiba-tiba kabur dari rumah membawa anak-anak saya.” Andre mengarahkan telunjuknya ke arahku dengan berapi-api.

“Bukankah kamu seharusnya bahagia dan lega saat menemukan istri dan anakmu baik-baik saja? Lalu, apakah menurutmu pantas bagi seorang tamu untuk membuat keributan saat tuan rumah ada di sini? Ya, itu sih terserah kamu saja. Kalau kamu kuat menahan malu, silakan rebut di sini. Tapi asal kamu tahu, dengan kamu berteriak sepanjang jalan, kamu sudah menarik perhatian tetangga dan membuat mereka keluar. Lihat saja, mereka sudah siap merekam setiap kejadian.

Ucapan menohok dari Bu Lastri membuat Andre menoleh dan melihat beberapa warga diam-diam memperhatikannya dari berbagai macam celah. Ada yang mengintip dari balik jendela, ada yang berpura-pura tidak peduli namun sesekali melirik, ada juga yang rela berjalan melewati gerbang demi memuaskan rasa ingin tahunya.

“Jika ada yang ingin dibicarakan, bersikaplah seperti seorang pria sejati. Duduk, dengarkan, barulah kamu berbicara. Sudah, alangkah baiknya kamu masuk dulu.”

Bu Lastri mempersilakan Andre untuk duduk di ruang tamu dan menyuguhkan air putih. Terdengar langkah kaki kecil menuruni tangga. Mila, yang saat itu melihat bayangan Andre, pun segera meluncur untuk kemudian memeluknya.

“Papa!”

Aku memutar bola mataku. Benar-benar ingin muntah rasanya. Andai saja Mila tahu bahwa ayah yang ada di depan matanya ini telah berbuat kasar pada ibu yang melahirkannya, apakah dia masih bisa melihat Andre dengan tatapan kagum?

“Heeei, Mila. Baru pulang, ya?” Andre membawa Mila ke pangkuannya.

“Iya. Aku tadi dapet kue dari kakak roti.”

“Kakak roti? Enak dong. Tadi Mila ngapain aja di sekolah?”

“Belajar. Nonton film.”

“Oh ya? Seru dong.”

Bukan hanya Mila, sekarang Mona juga mendekati Andre dengan langkahnya yang tidak stabil. Melihat hal itu, Andre menggendong Mona tinggi-tinggi. Aku tidak ingin Andre berada di sini terlalu lama, di tempat yang seharusnya aman bagiku. Tanpa basa-basi, aku mengatakan sesuatu padanya secara lantang.

“Aku mau cerai. Akan aku urus berkasnya paling lambat besok. Sementara itu, kamu sama sekali tidak boleh menghubungiku, apalagi datang ke sini tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Kalau ada yang ingin kamu ucapkan, tolong sampaikan saja ke kuasa hukummu.”

Andre mengepal tangannya. “Kenapa…tiba-tiba?”

“Oh, nggak. Ini bukan keputusan yang datangnya tiba-tiba. Aku udah mikirin ini dari lama, cuma baru ada keberanian buat melakukannya.”

Hening. Jantungku berdegup kencang sambil menunggu jawaban atau paling tidak reaksi darinya. Aku tahu dia tidak akan sekonyong-konyong menyakitiku, melihat aku tidak sendiri di sini. Namun, ketakutan itu masih ada.

“Oke, kalau itu yang kamu mau.” Andre kemudian beranjak dari kursinya dan mendekatkan dirinya padaku sambil berbisik pelan. “Tapi jangan harap kamu bisa tidur tenang. Aku akan membuat hidupmu seperti tinggal di neraka.”

Seharusnya aku takut, tapi aku sudah menduga dia akan mengatakan hal seperti ini dan itu membuatku lebih mudah untuk bereaksi terhadap perkataannya maupun perbuatannya yang tidak menyenangkan. Hidup bersama Andre selama bertahun-tahun menyadarkanku bahwa percuma untuk terus mengharapkan kebaikan karena hidup tidak seindah itu.

“Sekarang aku minta kamu pergi dari sini.” Aku membuka pintu rumah dan melihat Andre berjalan melewatiku. Di depan pintu, ia berpamitan kepada Mila dan Mona.

“Papa pergi dulu, ya. Nanti kalau ada waktu, Papa jemput kalian, terus kita main.”

Perkataannya disambut dengan seruan gembira dari Mila dan Mona.

Itu adalah terakhir kalinya aku bertatapan langsung dengan Andre sebelum bertemu dengannya di pengadilan karena ia menyanggupi panggilan sidang. Akibat mediasi yang gagal karena aku tetap bersikukuh ingin menceraikan Andre, sidang berlanjut ke tahap berikutnya. Satu minggu telah berlalu semenjak pembacaan gugatan. Tibalah waktu pembacaan jawaban tergugat.

“Agenda hari ini adalah penyerahan jawaban dari Tergugat. Kuasa hukum Tergugat, mohon untuk maju dan menyerahkan berkas. Berikan satu rangkap Salinan kepada Pihak tergugat.”

Pengacara Andre kemudian bergerak sesuai perintah. Setelah salinan sudah diberikan, hakim memperkenankan kuasa hukum Andre untuk membacakan isi jawaban. Sepanjang pembacaan, aku hanya bisa menggelengkan kepala karena fitnah yang dilayangkan oleh Andre. Karena aku menggugat cerai Andre dengan alasan selingkuh, ia sekarang membalikkan fakta dengan mengatakan bahwa akulah yang pertama kali selingkuh darinya. Di dalam jawaban tersebut, ia juga mengatakan bahwa aku bukan ibu yang baik bagi kedua anakku hanya karena aku bekerja, dan memang kuakui, ada kalanya aku pulang malam. Namun, bagaimanapun juga, aku tetap memenuhi kewajibanku sebagai seorang ibu dan tidak semerta-merta menelantarkan anak-anakku. Alasan aku mulai bekerja lagi setelah melahirkan adalah untuk memenuhi kebutuhan. Aku tidak tahu ke mana perginya semua gaji Andre. Dia hanya menafkahiku seadanya, sedangkan aku tahu gajinya lebih daripada yang ia berikan selama ini. Mungkin untuk investasi, mungkin untuk modal bisnis yang tidak pernah kudengar, atau mungkin untuk membiayai orang lain.

“Saudari Penggugat, apakah Anda mengerti isi dari jawaban Tergugat?” Ucap Hakim Ketua.

“Mengerti, Yang Mulia.” Jawabku.

“Apakah Anda ingin menanggapi jawaban dari Tergugat?”

“Betul, Yang Mulia.”

“Apakah Saudari Penggugat sudah siap dengan jawabannya?”

“Belum, Yang Mulia.”

“Baik. Untuk mendengarkan replik dari pihak Penggugat, pemeriksaan perkara ini ditunda dan akan dilanjutkan pada pekan depan.” Hakim kemudian mengetuk palu sebanyak tiga kali sebelum meninggalkan ruangan.

Dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, aku bersama pengacaraku sudah menyiapkan tanggapan atas jawaban Andre yang sama sekali tidak masuk akal. Intinya, aku menyangkal segala tuduhannya yang tak beralasan dengan berbagai macam alasan yang kuat. Tentu saja, hal tersebut disanggah lagi oleh Andre beserta pengacaranya. Proses pemeriksaan pun berlanjut ke tahap pembuktian dan saksi. Akhirnya, inilah yang aku tunggu-tunggu. Pengacara membantuku untuk mengumpulkan bukti-bukti berupa foto pesan perselingkuhan Andre dan hasil visum dokter.

“Suami kamu ini licik. Aku yakin dia akan bermain kotor dengan menunjukkan bukti palsu. Makanya, kamu harus siap-siap. Kita juga bisa bertindak sejauh itu. Apa kamu tahu rahasianya? Rahasia yang cukup untuk membuktikan bahwa dia bukan orang tua yang baik, tentu saja, selain bukti perselingkuhan dan hasil visum ini. Walaupun jika dilihat sekilas saja sebenarnya sudah cukup kuat.” Ujar Anna, pengacaraku.

“Sebenarnya ada satu…”

“Anna melihatku dengan saksama, menunggu jawaban dariku.”

“Jangan ragu, semua hal yang kamu ketahui soal Andre itu penting di muka hukum.”

“Saya sering kali memergoki Andre bermain judi online. Tapi bukannya saya juga bersalah karena tidak segera melaporkannya?”

“Kita bisa bilang kalau kamu terlalu takut untuk membongkar rahasianya, sama seperti halnya kamu terlalu takut untuk melapor tentang kekerasan rumah tangga. Apa kamu pernah menikmati hasil dari judi online yang dilakukan Andre?”

Aku menggelengkan kepalaku, tidak ingin dituduh membawa lari atau menikmati hasil yang Andre dapatkan dari judi.

Lihat selengkapnya