Paviliun Randa Tapak

Moli
Chapter #8

Muthe

Sejak kecil, aku selalu melihat dunia dengan cara yang berbeda. Eitts. Ini bukan sekadar kata-kata yang diucapkan para filsuf tentang “melihat dunia dengan cara berbeda” setelah melalui proses meditasi, meluangkan waktu untuk berpikir lebih dalam, dan sejenisnya. Tapi ini memang terjadi padaku dalam arti yang sebenarnya. Kalau orang lain melihat langit berwarna biru, menurutku warnanya hijau. Kalau orang lain melihat ladang padi berwarna kuning, menurutku warnanya merah muda keabu-abuan.

Aku, yang sewaktu kecil tidak tahu apa-apa, menganggap hal ini normal. Mana mungkin tiap orang punya penglihatan yang berbeda? Memangnya ini semacam undian, ya? Pikirku waktu itu, hingga suatu saat orang tuaku memutuskan untuk memeriksakan kondisiku ke dokter mata atas rekomendasi guruku. Kalian tahu kan, saat penerimaan rapor, para guru pasti melaporkan tindak-tanduk kita selama di sekolah kepada orang tua. Aku memperhatikan teman-temanku dan orang tua mereka setelah selesai menerima rapor. Ada yang dimarahi oleh orang tuanya di tempat, ada yang tersenyum lega, ada pula yang terlihat biasa saja. Lucu sekali. Setelah itu, tibalah giliranku untuk mengambil rapor.

“Muthe?”

Dengan langkah mantap, aku berjalan menuju meja guru dan duduk berseberangan, begitu juga dengan ibuku. Aku tidak perlu khawatir karena selama ini sikapku baik-baik saja. Maksudnya, tidak ada hal yang tidak wajar. Yah, seperti murid pada umumnya saja. Di antara murid lainnya, aku memang tidak terlalu menonjol. Namun, aku bisa mengikuti pelajaran tanpa kesulitan. Lagian, apa lagi yang bisa diharapkan dari seorang siswa kelas 1 SD? Medali emas? Ikut kejuaraan Olimpik? Bisa lancar membaca saja sudah hebat. Aku yakin sekali bahwa tidak banyak yang bisa dikatakan Bu Guru tentangku. Paling tidak, hanya saran biasa untuk mengisi waktu liburan dengan belajar. Namun saat itu, Bu Sandra, wali kelasku, memasang raut wajah yang serius. Wah, ada apa ini?

“Bu, maaf sebelumnya jika saya lancang. Namun, saya ingin bertanya. Apakah Ibu kebetulan buta warna?” Ucapnya sambil melepas kacamata.

Ibuku terlihat heran. “Tidak, Bu. Memangnya ada apa?”

“Ah, soal penglihatan Muthe. Saya rasa Ibu tidak tahu, ya?”

Bu Sandra kemudian mengeluarkan selembar kertas yang menampilkan gambar yang bisa disebut sebagai mahakaryaku. Kebanyakan anak seusiaku akan menggambar sawah dengan gunung sebagai latar belakangnya dan rumah di ujung jalan. Oh, jangan lupa elemen paling penting, yaitu matahari di pojok atas. Namun, aku ingin menjadi berbeda dari yang lain. Hehe. Aku menggambar sebuah kolam cukup besar dengan banyak ikan yang berenang di dalamnya. Jenisnya ada macam-macam. Kolam tersebut dilengkapi dengan hiasan seperti air terjun yang hanya dengan melihatnya saja orang-orang bisa mendapat ilusi bahwa air tersebut mengalir. Gambar ini terinspirasi dari kolam milik nenekku. Itu adalah sudut yang paling aku suka. 

Ah, Bu Guru juga pasti memahami bahwa aku memiliki nilai seni yang tinggi. Mungkin dia ingin menyarankan ibu untuk mengasah kemampuan menggambar yang kumiliki lebih dalam lagi. Atau sekiranya begitulah yang terlintas di pikiranku.

“Silakan Ibu lihat sendiri. Menurut Ibu, ini gambar apa?” Bu Sandra terdengar seperti menginterogasi ibuku.

“Kolam?” Jawab ibuku masih terdengar heran.

“Betul. Lalu, apa warna airnya?”

Ibuku terdiam untuk beberapa waktu sebelum bisa menjawab pertanyaan Bu Sandra yang terdengar sederhana.

“Hijau.”

Lihat selengkapnya