Paviliun Randa Tapak

Moli
Chapter #9

Muthe

Tok tok.

Aku mengetuk pintu pelan, mendekatkan telingaku ke celah-celah pintu untuk mendengar suara langkah yang terdengar samar. Mengetuk pintu saja tidak cukup; aku harus memencet bel di dinding dan mengumumkan kedatanganku. Jika masih tidak ada yang keluar, aku akan menggunakan cara kotor dengan pura-pura pingsan atau menjual kesedihan. Aku memejamkan mata untuk memikirkan skenario mana yang kiranya paling cocok, sambil berharap dalam hati, “Terbukalah, wahai pintu!”

Krieet.

Pintu terbuka. Sebaiknya aku simpan saja skenario pingsan untuk lain waktu. Saat aku membuka mata, aku melihat seorang wanita berusia kurang lebih 50 tahun. Bisa saja tebakanku salah. Sebelum wanita tersebut menanyakan identitasku dan dari mana aku berasal, aku sudah mendahuluinya.

“Siang, Bu! Saya Muthe, usia kurang dari 30 tahun, tinggi 165 cm, berat ideal, makanan favorit pecel lele, minuman favorit kopi hitam, dan saya seorang pelukis. Maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk menawarkan hasil karya saya dan tidak ada niat lain lagi. Saya berani bersumpah. Jadi, apakah Ibu ada waktu?” Aku mengucapkan kalimat tersebut bait demi bait dalam satu napas. Eminem juga minder kalau dia tahu. 

Mungkin tempoku terlalu cepat atau pelafalanku kurang jelas, sehingga wanita tersebut tertegun. “Silakan masuk dulu.”

“Terima kasih, Bu…?”

“Ah, saya Lastri. Ayo duduk. Saya siapkan minum dan camilan.”

“Wah, Bu. Nggak usah repot-repot, lho.” Ucapku sungkan, padahal aku senang.

Setelah menghabiskan waktu untuk berjalan ke sana ke mari, duduk di sofa yang empuk memang enak. Seperti menghadiahkan diri sendiri karena sudah bekerja keras hari ini. Aku meluruskan kakiku, melemaskan punggungku, dan mengistirahatkan kepalaku di sandaran sofa. Jika bukan karena Bu Lastri yang muncul dari dapur dan menaruh minuman serta camilan di meja tamu, mungkin aku sudah ketiduran. Tidak ingin bersikap terlalu santai dan kurang ajar, aku kembali duduk tegak dan mengatur posisiku sedemikian rupa.

Di atas meja kayu telah tersaji dua gelas es teh beserta camilan pendamping seperti wafer rolls, kue kering, kue cokelat, martabak asin, dan juga bolu. Wah, bagiku ini setara dengan menyambut kedatangan keluarga kerajaannya dan menjamunya dengan berbagai macam hidangan untuk memuaskannya. Aku kan juga bukan tamu undangan. Apakah beliau terbiasa menyambut tamu seperti ini ya? Jika langsung dimakan, aku merasa tidak enak. Namun, jika tidak dimakan, aku akan merasa bersalah.

“Ayo, silakan dimakan. Jangan malu-malu.” Ucap Bu Lastri sambil menyerahkan piring kertas yang biasa ada di pesta ulang tahun. 

“Oh iya, Bu. Ibu juga makan.” Aku mengambil piring tersebut dengan kedua tangan.

Duh, ngomong apa sih aku ini? Kenapa malah jadi aku yang bertingkah seperti tuan rumah? 

Tanganku tidak bergerak, mulutku tidak bersuara, namun mataku sudah menargetkan kue cokelat yang terpoles dengan cantik dengan potongan kacang almond di atasnya. 

“Ini, ayo dimakan.” Bu Lastri memindahkan potongan kue tersebut ke atas piringnya dan menyuruhku untuk memakannya.

Terkejut dan sedikit malu, aku mengambil piring tersebut dan memotong kue menggunakan garpu menjadi potongan kecil yang bisa dimakan.

Lihat selengkapnya