Keesokan harinya, setelah berjalan berkeliling tanpa ada yang melirik lukisanku, aku mampir ke rumah Bu Lastri untuk melepas lelah. Matahari seolah-olah berada tepat di atas kepalaku. Tidak ada yang bisa mematahkan semangatku kecuali terik matahari yang menyengat. Sekarang aku paham kenapa ada yang bisa pingsan atau bahkan sampai meninggal karena panas matahari. Kulitku terasa lengket dan tenggorokanku kering.
“Uhuk! Uhuk!” Aku terbatuk saat meneguk es teh. Mungkin karena terlalu bersemangat. Orang bilang jika tersedak saat mengonsumsi makanan atau minuman yang diberikan orang lain, maka itu adalah pertanda bahwa orang tersebut sebenarnya tidak ikhlas memberikannya. Namun, ini murni kesalahanku karena Bu Lastri sekali lagi merepotkan dirinya dengan menjamuku, padahal aku hanya mampir sebentar.
“Pelan-pelan minumnya, Muthe.” Bu Lastri menepuk punggungku pelan, khawatir jika terjadi apa-apa.
Sedikit panik, aku mencengkeram bajuku kemudian memukul dadaku berkali-kali untuk meredakan batuk. Bu Lastri berlari ke dapur dan kembali dengan segelas air putih di tangannya.
“Minum air putih dulu pelan-pelan, supaya batuknya reda.”
Sesuai ucapannya, keadaanku pun perlahan membaik. Batuk perlahan menghilang dan yang tersisa hanyalah sisa-sisa dahak yang masih menyangkut di tenggorokan. Aku berdeham beberapa kali hingga suaraku terdengar normal kembali.
“Waaah, kirain aku bakal mati di sini.”
“Rumah ini bakal jadi TKP dong? Terus bisa-bisa saya jadi salah satu tersangka karena jadi orang terakhir yang lihat kamu.”
“Tenang, Bu. Nanti arwah saya bakal gentayangan buat buktiin kalau Ibu nggak bersalah. Ngomong-ngomong, emang biasanya sesepi ini ya, Bu?”
“Kalau pagi sampai siang ya sepi, karena anak saya kuliah. Dua penghuni lainnya sibuk bekerja. Nah, salah satu penghuni punya dua anak. Kebetulan saat ini mereka lagi jalan-jalan.”
Aku mengangguk kecil sambil mengerucutkan bibir. Tidak lama kemudian, seseorang masuk dengan dua anak kecil. Ah, pasti merekalah yang dimaksud oleh Bu Lastri.
“Oma!” seru seorang anak kecil yang lebih tinggi. Aku yakin dia adalah kakaknya. Seruannya disusul oleh anak kecil lainnya yang, kuduga, adalah adiknya.
“Mila, Mona. Dari mana aja kalian?”
“Habis jalan-jalan. Ini, aku bawain Oma oleh-oleh.”
Anak kecil yang lebih tinggi tersebut menyerahkan sebuah bungkusan besar yang terlihat berat.
“Aduh, makasih ya. Tapi lain kali, kalian nggak perlu kasih Oma oleh-oleh. Buat kalian sendiri aja. Puas-puasin makan sama main.”
“Nggak apa-apa, Bu. Kalau masih banyak makanan, bisa dipanasin buat nanti malam atau ditaruh di kulkas supaya nggak basi.”
“Ibu taruh dulu di kulkas ya, kalau gitu. Ah, kalian duduk dulu. Sekalian kenalan sama Muthe.”
Bu Lastri menggalkanku dengan seorang wanita dan dua anaknya. Wanita ini adalah gambaran perempuan karier yang sukses dengan setelan formalnya dan rambut hitam legamnya yang pasti selalu terawat. Berbeda denganku yang rambutnya kering, kusut, dan kadang juga terdapat cat yang menempel. Aku mengusapkan kedua telapak tanganku ke kain baju untuk menyeka keringat yang mungkin keluar sebelum berjabat tangan dengan wanita karier tersebut.
“Muthe.” Ucapku riang dengan senyum lebar khas duta gigi.
“Citra. Muthe mau tinggal di sini?”
Aku mengibas-ngibas tanganku. “Oh, nggak. Saya cuma mampir ke tempat Bu Lastri. Kemarin saya sempat ke sini untuk menjual lukisan. Ah, itu lukisan yang dipajang di situ kebetulan hasil karya saya.” Aku menunjuk ke dua lukisan yang dipajang dengan rapi di dinding pembatas kamar.
Kak Citra menoleh ke arah dinding, seolah raut wajahnya mengatakan, “Oh, jadi ini pelukisnya.”
“Bagus. Aku nyadar ada perubahan. Sempat mikir juga. Kapan Bu Lastri membeli lukisan? Ternyata dari kamu toh.”
“Hehe, iya. Mau kecil, sedang, besar, saya punya semua. Cuma kalau ke mana-mana bawa lukisan besar, berat juga ya. Bisa pingsan duluan sebelum nyampe rumah.”
Tak kuduga, Kak Citra yang terlihat cuek bisa tertawa karena lawakan yang garing.
“Ada e-commerce? Lumayan beli yang ukuran sedang buat di kamar.”
“Ada, Kak!” Aku menunjukkan lapak jualanku dan hasil karyaku yang lain kepadanya.
Kami berdua pun akhirnya bertukar kontak. Kak Citra bilang ingin menghubungiku suatu saat nanti dan melanjutkan percakapan karena ia harus kembali ke kantor. Suara langkah yang dihasilkan dari sepatu hak tingginya menggema di ruang tamu. Tak. Tak. Tak. Ah, aku tidak akan bisa memakai sepatu seperti itu. Dibandingkan dengan penampilannya yang terlihat rapi dan memancarkan aura sukses, penampilanku terlihat compang-camping dengan kemeja seadanya, celana jeans, dan sepatu kets yang sudah berlumuran cat. Ya, mungkin ini yang terbaik.
Saking terpesonanya melihat Kak Citra, aku sampai lupa ada dua makhluk kecil yang duduk di sebelahku. Mereka melihatku seperti baru saja melihat alien. Aku juga melihat mereka seperti aku baru saja melihat gajah yang terbang. Pandangan kita sama-sama memiliki arti.
“Mau?” Aku menawarkan bolu kukus kepada si kecil dan ia hanya menggeleng kepalanya pelan.
“Kata Mama, kita nggak boleh terima pemberian dari orang asing.” Ucap yang lebih besar.
Ada benarnya sih. Sepertinya semua anak kecil zaman sekarang sudah mendapatkan PR training yang lebih bagus daripada jamanku. Walaupun ibuku sudah sering mengingatkanku untuk tidak menerima pemberian dari orang asing, aku tetap menerimanya tanpa perasaan curiga. Untung saja waktu itu aku tidak diracuni atau diculik. Tunggu, apa jangan-jangan orang tuaku yang sekarang adalah orang tua palsu?! Ah, aku harus menanyakannya pada mereka suatu hari nanti.
“Kakak lagi mikir apa?”
“Ah…? Nggak mikir apa-apa. Eh, ngomong-ngomong nama kamu siapa?” Aku berusaha mengisi kekosongan dengan menanyakan nama mereka. Sepertinya aku tadi sekilas mendengar namanya, namun masih belum yakin.
“Mila.”
“Oh, Mila. Berarti yang kecil ini pasti Mona.”
“Kalian lagi kenalan sama Tante Muthe, ya?” Ucap Bu Lastri yang kedatangannya seperti penyelamat.
“Tante…nggak nyangka kalau hari aku dipanggil Tante akan tiba dan inilah harinya…Mmm kalian boleh panggil aku Kak Muthe. Jangan pakai Tante ya.”