Jangan gampang menaruh kepercayaan pada siapa pun, tak terkecuali orang terdekatmu. Ada kalanya kita diperbolehkan untuk menaruh curiga pada mereka. Bukan berarti kita harus selalu berprasangka buruk, namun hal ini bisa mencegah segala malapetaka yang datang di kemudian hari. Coba saja, aku bisa mengingatkan diriku sendiri tiga tahun yang lalu. Mungkin aku tidak akan berakhir di lapas wanita. Aku bukan seorang penjahat. Aku tidak mampu melakukan tindakan kriminal. Aku hanya terlalu bodoh dan gampang percaya. Itu saja.
Keluarga kecilku tidak bisa dibilang kaya raya, namun kita juga tidak melarat. Setiap hari, selalu ada santapan yang bisa dimakan dan kita pun tidak pernah merasa kekurangan. Dengan kata lain, kita hidup berkecukupan. Lagipula, apa lagi yang paling penting dalam hidup ini selain papan, sandang, dan pangan? Tidak perlu berutang demi memenuhi kebutuhan saja sudah wajib disyukuri. Namun, ternyata suamiku memiliki pandangan yang berbeda. Ia merasa hidup kami terpuruk. Rupanya ia memiliki definisinya sendiri tentang hidup yang berkecukupan. Tiap hari, selalu saja ada hal yang membuatnya berkecil hati. Saat tetangga sebelah melakukan renovasi rumah, ia mengomel tentang betapa kecilnya rumah yang kami huni. Saat tetangga depan membeli mobil baru, ia menyinggung betapa enaknya pergi ke mana pun tanpa takut kepanasan maupun diterpa hujan. Intinya, saat orang lain memiliki sesuatu yang tidak kami miliki, ia akan mengeluh.
Dulu, ia bukanlah pribadi yang suka mengomel tentang hal-hal yang tidak penting. Atau begitulah menurutku. Semua ini bermula ketika ia diberhentikan dari pekerjaannya karena suatu alasan yang tidak pernah ia ungkapkan. Karena tidak bekerja, ia pun tidak memiliki hal lain atau hobi yang bisa dilakukannya. Setiap hari, kerjaannya hanya duduk di teras sambil memerhatikan gerak-gerik tetangga. Tak jarang ia juga ikut berkomentar di depan orangnya langsung. Jika sudah begitu, aku akan turun tangan dan meminta maaf. Di kalangan tetangga pun, ia terkenal sebagai penggerutu. Segala macam topik pembicaraan akan ia ubah menjadi ajang kompetisi dan berhasil membuatnya tersinggung. Tidak heran rasanya jika tidak ada yang ingin mengajaknya bicara lagi. Ia yang bersikap sembarangan, namun aku yang menanggung semua cibiran yang dilontarkan kepadanya. Sebagai istri yang baik, aku meminta maaf kepada semua orang yang pernah ia sakiti dengan kata-katanya.
Kami memang tidak memiliki harta berlimpah, namun setidaknya aku masih memiliki pemasukan tetap dari usaha salon yang kujalani sebelum suamiku dipecat. Meskipun salonnya tidak begitu luas, kami memiliki pelanggan tetap. Jika ada pendapatan lebih, sisanya akan kutabung untuk kebutuhan mendesak. Dari salon kecil inilah kami bertahan hidup. Jika suatu saat salon ditutup, maka perkataan suamiku tentang hidup terpuruk mungkin akan benar terjadi.
Aku tidak mengharapkan akan ada perubahan drastis seperti mendapat rezeki nomplok yang datangnya tiba-tiba, namun suatu hari aku dikejutkan oleh suamiku yang terlihat lebih riang. Ingatan tentang hari itu mustahil untuk kulupakan meskipun aku berusaha keras untuk tidak mengingatnya lagi. Pagi itu saat aku hendak pergi ke salon, suamiku bersenandung riang dari kamarnya. Ia mengenakan setelan rapi yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya. Sambil menenteng tas, ia menyuruhku untuk duduk karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan padaku. Tas tersebut diletakkan di atas meja makan sebelum ia membukanya dan mengeluarkan segala macam dokumen yang ia simpan di dalam tas tersebut. Dengan mata berbinar yang penuh harapan, ia melihatku dan memegang kedua tanganku.
“Bu, mulai hari ini kamu nggak perlu capek-capek kerja di salon, melayani pelanggan yang permintaannya aneh.” Suaranya terdengar mantap.
“Memangnya kenapa, Pak?”
“Daripada harus kerja di salon, lebih baik kita jadi distributor produk perawatan rambut kan? Kita cuma perlu jadi penyedia barang untuk salon-salon lain. Gimana?”
“Boleh juga, Pak. Tapi duit dari mana? Toh salonnya juga masih jalan.”
“Salonnya kita bikin jadi gudang aja, Bu. Justru lebih enak daripada harus berjam-jam berdiri; kita tinggal menjual barang dan menerima hasilnya. Buat modal nanti kita pinjem aja dari si juragan, Pak Abdul. Pasti dia mau minjemin uang buat kita. Yah, itung-itung juga investasi. Nanti kita bagi hasil.”
Memang terdengar menjanjikan dan tidak merepotkan, apalagi jika mengingat kondisiku yang tidak lagi prima. Setelah berpikir sejenak, aku menyetujui ide suamiku dan menandatangani berbagai dokumen demi kepentingan membuka usaha bersama dan peminjaman uang. Siapa yang akan menyangka bahwa ini adalah awal dari sebuah kehancuran? Setelah menutup salon, aku bergegas menuju rumah dan memasak makanan kesukaannya, yaitu ikan bandeng acar. Aku menganggap hari itu sebagai permulaan baru baginya dan hanya ini yang bisa kulakukan untuk merayakan dan menghargai usahanya untuk bangkit kembali. Sore berubah menjadi malam. Malam berubah menjadi dini hari. Dan aku masih menunggu kedatangannya. Pikiranku sudah tidak karuan. Aku khawatir jika ia terlibat dalam suatu masalah atau bahkan jadi korban kecelakaan.
Nasi serta lauk-lauk yang masih berada di atas meja berubah menjadi dingin. Ini sudah tidak wajar. Ia tidak pernah pergi keluar rumah sampai larut malam. Aku tahu bahwa ia bukan anak kecil yang harus selalu diawasi, namun tetap saja aku khawatir. Tak sabar menunggu kedatangannya, aku memutuskan untuk meneleponnya. Bukan suaranya yang kudengar di ujung telepon, melainkan pemberitahuan bahwa nomornya sudah tidak aktif. Awalnya aku kira ia terlalu sibuk. Ternyata aku salah. Hari itu, ia tidak pulang ke rumah untuk selamanya.
Lalu bagaimana dengan usaha bersama yang diusulkannya? Apakah itu hanya akal-akalannya saja untuk kabur dari rumah ini? Apakah sedari awal ia memang berencana mengabaikan kewajibannya sebagai kepala keluarga dan memulai hidup baru? Setelah meninggalkan rumah selama sebulan, barulah musibah mendatangiku. Pak Abdul yang meminjamkan uang untuk modal usaha datang ke rumah bersama dengan para anak buahnya yang terlihat seperti preman.
“Heh, Bagyo! Jangan harap kamu bisa kabur, ya!” Teriaknya dari depan pintu.
Aku menemuinya dan mengajaknya masuk untuk membicarakan semua ini dengan kepala dingin, tanpa perlu membuat keributan, apalagi sampai harus menggunakan kekerasan.