Paviliun Randa Tapak

Moli
Chapter #12

Maesaroh

Di dalam taksi, aku dan Lastri melepas rindu dengan berbincang seperti biasa. Mobil terus melaju diiringi gelak tawa yang terkadang lepas akibat membicarakan sesuatu yang jenaka. Contohnya, seperti cerita saat permen karet menempel pada rambut Gina yang mengharuskan ia memotong rambutnya menjadi pendek dan menangis setelahnya. Sudah diceritakan berkali-kali pun, masih terdengar lucu di telingaku karena aku ingat betul kejadian tersebut beserta ekspresi Gina yang sedih dan kecewa. Beberapa kejadian memang sulit untuk dilupakan, termasuk tragedi yang menimpa keluargaku. Nasi memang sudah menjadi bubur. Namun, kadang aku masih suka mengkhayal bagaimana jadinya jika saat itu aku tidak gegabah menandatangani dokumen tersebut. Apakah aku dan Dipta akan baik-baik saja? Atau kejadian ini memang sudah ditakdirkan untuk terjadi dalam garis hidupku? Semua hanya tinggal menunggu waktu.

“Apa kamu dengar kabar soal Dipta?” Lastri mengubah topik pembicaraan.

Aku menggeleng pelan dan tersenyum lesu. “Belum. Waktu itu aku memang melarang dia pergi berkunjung. Sudah sewajarnya dia sakit hati. Aku hanya tidak ingin dia melihatku dengan baju tahanan dan harus berbicara melalui pembatas. Setelah itu, aku tidak pernah melihatnya lagi.”

Hening. Supir taksi yang sedari tadi hanya mendengarkan kita berbicara tiba-tiba mengeluarkan suara batuk yang dibuat-buat. Ia melirik ke arah kami melalui kacanya dan membesarkan suara radio untuk menutupi keheningan. Aku tidak keberatan. Stasiun radio saat itu memutar lagu yang tidak kukenal, namun terasa cocok didengarkan di hari yang terlihat sendu. Sesekali aku mengangguk sesuai alunan lagu sambil memerhatikan jalanan. Tidak banyak yang berubah dalam tiga tahun, namun aku tetap merasa asing. Berada di penjara benar-benar membuatku terisolasi dari dunia luar sehingga sekarang aku merasa seperti berada di kota yang sepenuhnya baru. 

“Selama tiga tahun ini, ada perubahan apa saja?” Tanyaku kepada Lastri murni karena penasaran.

“Yah lumayan banyak. Beberapa toko tutup, brand besar seperti kehilangan warna, dan sekarang AI sudah lebih canggih. Tahu AI, kan?”

“Tahu, kamu ini bicara seolah-olah aku orang gua.”

“Iya itu, AI. Pokoknya sekarang kalau gaptek, kita bisa dibodohin sama teknologi itu sendiri. Ah, lihat nih.” Lastri menunjukkan sebuah video hasil generasi AI. Di dalam video tersebut, terdapat seorang artis ternama yang menyatakan bahwa ia akan membagikan uang secara cuma-cuma kepada siapa saja yang menyukai video tersebut dan meninggalkan komentar berupa nama lengkap dan nomor rekening.

“Wah, kok bisa semulus ini?”

“Aku bilang juga apa? Yang lebih gila lagi, banyak orang yang kasih nomor rekening mereka begitu saja.”

“Kalau model penipuannya begini, sepertinya aku masih punya akal. Tapi ya toh ujung-ujungnya aku juga kena tipu.” Aku dengan santai menertawakan sesuatu yang seharusnya memberikan trauma mendalam bagiku. Lastri melihatku dengan waspada sebelum mengeluarkan tawanya. Kami pun tertawa terbahak-bahak.

“Kalau suatu saat aku kena tipu semacam ini, gantian kamu yang mengunjungiku di lapas ya.” 

Lihat selengkapnya