Paviliun Randa Tapak

Moli
Chapter #13

Retta

“Retta? Kenapa tiba-tiba ganti nama?” Tanya Lastri saat hanya ada kami berdua di dapur setelah Muthe mendapat panggilan dari galeri seni untuk menyelesaikan beberapa penyesuaian.

“Aku udah nggak mau tinggal di bayang-bayang Maesaroh. Kamu tahu nggak kalau nama itu mengandung arti?”

“Terus, apa arti nama Retta?”

“Aku sendiri juga nggak tahu, karena itu nama yang mendadak muncul di pikiranku. Tapi aku menganggap nama ini sebagai awal baru untukku.”

“Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya kamu cocok dengan nama Retta. Benar-benar sesuai penampilan dan watakmu.”

“Iya, kan? Aku nggak sabar, deh. Mau ketemu dengan penghuni lain.” Ucapku seraya memotong kacang panjang. 

Karena sudah lewat jam makan siang dan hanya kami yang berada di rumah, kami memutuskan untuk memasak makanan yang sederhana dan mudah dibuat, yaitu sayur pecel dengan ayam goreng. Aku bertugas menyiapkan sayur dan bumbu pecel, sementara Lastri sibuk menggoreng ayam. Bau khas ayam goreng yang telah dibumbui menyebar dan memenuhi dapur saat ayam meluncur ke lautan minyak. Aku tidak pernah sebahagia ini mencium bau yang identik dengan rumah. Sebelum menghabiskan hari-hari di lapas, aku selalu memasak untuk keluargaku dengan bahan apa pun yang tersedia. Walaupun hanya ada tempe, cabai, dan bawang, aku bisa menyulapnya menjadi makanan rumahan khas yang penuh arti. Kurasa, jika dihadapkan pada situasi mendesak, semua orang bisa menjadi lebih kreatif. Tak terkecuali para ibu yang harus bisa memanfaatkan segala bahan makanan supaya tidak terbuang sia-sia.

“Nah, sudah jadi. Duduk dulu, ayo kita makan. Maaf ya, cuma bisa masak ini. Aku takut kamu pingsan karena lapar. Kalau ada Mbak Asih, mungkin dia bisa bantu-bantu menyiapkan bahan.” Ujar Lastri, meletakkan piring berisi ayam goreng yang sudah terlebih dahulu disisihkan.

“Mbak Asih?”

“Asisten rumah tangga yang dibawa Citra, salah satu penghuniku, ke sini. Kebetulan dia lagi pulang kampung karena ibunya sakit.”

“Ohh. Semoga ibunya cepat sembuh ya. Wuuh, dari baunya aja udah menggoda.” Tanpa sungkan, aku mengambil satu potong ayam goreng dan segala macam sayur yang sudah direbus beserta bumbu kacang khas sayur pecel.

“Kamu ini, kayak nggak biasanya masak ayam goreng aja.”

“Hei, aku udah tiga tahun nggak pernah masak lho.”

“Aku kira kalian dibolehin masak. Semacam program dari mereka.”

“Semua dapat jatah makanan dari lapas. Kalau program itu beda lagi, jenisnya juga beragam.”

“Oalah, begitu ya? Terus kamu ambil program apa?”

Lihat selengkapnya