Paviliun Randa Tapak

Moli
Chapter #14

Winny

Menurutmu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghancurkan hidup seseorang? Satu tahun? Satu bulan? Tidak. Tidak perlu waktu lama untuk menunggu semua itu terjadi, seperti melihat barisan domino yang saling berjatuhan satu per satu dalam sekejap. Hidupku pun runtuh hanya dalam satu malam. Selama ini, aku selalu hidup dengan lurus berpegang teguh pada pedomanku dan senantiasa mendengar nasihat dari kedua orang tuaku. Mereka tidak pernah berhenti mengingatkanku agar selalu waspada terhadap segala macam bahaya yang akan kuhadapi seiring waktu. Aku selalu berusaha menjauhi larangan dan menuruti perintah mereka. Tak heran jika terkadang banyak orang yang bilang bahwa hidupku membosankan. Bahkan ada yang menyamakan hidupku dengan hidup para napi di penjara. Aku sendiri tidak pernah menghiraukan omong kosong seperti itu. Justru, aku masih bersyukur bahwa orang tuaku masih peduli kepadaku. 

Semasa sekolah, aku tidak pernah mengalami kejadian khas anak remaja seperti bermain setelah pulang sekolah bersama teman-teman, menginap di rumah teman saat akhir pekan, maupun pulang lewat tengah malam setelah mengikuti acara sekolah karena pengawasan ketat dari orang tuaku. Setiap hari, mereka selalu mengantar dan menjemputku dari sekolah tepat waktu. Tidak hanya itu, mereka memastikan bahwa aku hanya bergaul dengan orang-orang yang benar. Sekelompok murid dengan latar belakang yang jelas dan selalu menduduki peringkat atas-lah yang menurut mereka cocok berteman denganku. Mereka percaya bahwa lingkungan adalah faktor paling penting untuk membentuk karakter seseorang. Jika mereka tahu bahwa aku berteman dengan sembarang orang, mereka tidak segan-segan untuk memarahiku dan menghukumku. Aku bisa memaklumi kekhawatiran mereka karena aku adalah anak tunggal yang diharapkan bisa hidup sesuai dengan kemauan mereka, tapi menurutku itu sudah keterlaluan. Dengan siapa aku berteman seharusnya bukan menjadi urusan penting yang perlu mereka ributkan. Menduduki peringkat atas tidak menjadi tolok ukur bahwa mereka juga pribadi yang baik. Terkadang banyak dari mereka yang berpikiran licik dan aku sendiri tidak mau berteman dengan orang seperti itu. 

Aku sempat mempertanyakan kapan kiranya orang tuaku bisa mempercayaiku sepenuhnya dan memberi keringanan padaku untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang seusiaku. Tidak mungkin, kan, mereka akan terus menceramahiku seperti anak kecil bahkan jika usiaku sudah kelewat dewasa? Baru setelah aku masuk kuliah, mereka mulai memberi kelonggaran. Mereka masih mengawasiku, namun tidak seketat dulu. Berkat ini, aku bisa menjalani kehidupan perkuliahan dengan normal. Seperti bergabung dalam suatu organisasi, mengikuti beberapa kepanitiaan, dan bergaul dengan siapa saja. Hidup hanya sekali, tentu saja aku tidak ingin melewatkan ini semua. Walaupun sudah lumayan bebas, orang tuaku masih suka menanyakan dengan siapa aku berteman. Sehingga wajar jika mereka tahu semua nama teman-temanku, termasuk Gina. 

Gina adalah teman yang paling dekat denganku. Menurutku, ia adalah tipe orang yang gampang disukai oleh orang banyak karena sifatnya yang supel dan menyenangkan. Pada hari pertama orientasi kampus, ia tidak ragu-ragu untuk mengajak berkenalan. Dengan santai, ia menyapa setiap mahasiswa dan menjabat tangan mereka sambil menyunggingkan senyum tulus. Siapa pun pasti ingin berteman dengannya, tak terkecuali aku. Sebuah perkenalan singkat berubah menjadi pertemanan yang berlangsung lama. Tidak ada persaingan dan tidak ada perkelahian karena masalah sepele. Kami berdua saling mendukung dan menjaga satu sama lain. Peran orang tua untuk mengawasiku di kampus kini dipegang oleh Gina. Selain supel, Gina juga pandai menilai orang. Berkali-kali ia mengingatkanku untuk tidak terlalu dekat dengan sekelompok orang karena reputasi mereka yang buruk, namun bukan dengan cara yang terlalu menggurui. Tidak seperti kedua orang tuaku. Karena Gina kenal dengan banyak orang, aku mempercayai penilaiannya. Saat aku dekat dengan seseorang pun, Gina tak henti-hentinya menyuruhku untuk lebih berhati-hati. 

Selama 17 tahun, aku tidak pernah terlibat dalam suatu hubungan asmara dengan lawan jenis karena banyak hal. Pertama, tentu saja karena orang tuaku yang sangat protektif. Kedua, aku terlalu sibuk dengan studiku sehingga tidak bisa memikirkan hal lain. Dan yang terakhir, karena tidak ada yang mendekatiku untuk menyatakan perasaan mereka. Saat itu, aku pikir mungkin aku tidak menarik di mata mereka. Namun, beberapa temanku mengatakan bahwa aku terlihat terlalu dingin sehingga menimbulkan kesan bahwa aku susah digapai. Maka dari itu, aku tidak pernah menduga bahwa ada seseorang yang tertarik dengan sifatku yang dinilai dingin ini. Ia adalah Elios. 

Aku dan Elios pertama kali bertemu di sebuah kepanitiaan untuk festival kampus yang dilaksanakan tiap semester untuk menyambut mahasiswa baru. Semacam pentas seni dengan berbagai macam hiburan tidak hanya terpaku pada penampilan seni di panggung saja. Kami tergabung dalam divisi acara yang bertanggung jawab atas jalannya acara. Demi meminimalisir kesalahan, kami sering berkumpul untuk rapat atau berbincang santai. Dari situlah aku dan Elios menjadi dekat. Aku tidak bisa memungkiri bahwa kedekatan kami memicu sebuah perasaan yang belum pernah aku alami sebelumnya. Apakah ini perasaan suka? Untuk hal itu, aku perlu memastikannya lebih lanjut. Karena kurangnya pengalamanku dalam hal semacam ini, aku mengandalkan internet untuk memberiku sebuah jawaban yang pasti.

“Bagaimana kamu tahu kalau kamu jatuh cinta?” adalah kalimat yang aku ketik ke dalam kolom pencarian. 

Melihat banyak jawaban yang muncul membuatku sedikit lega karena aku bukan satu-satunya manusia yang payah dalam hal ini. Rasa penasaran membuatku mengunjungi situs-situs tersebut satu per satu. Tidak ada jawaban yang pasti karena pengalaman setiap orang berbeda-beda. Akan tetapi, ada beberapa jawaban yang paling mendekati. Seperti menantikan pesan teks darinya, menunggu datangnya hari kita akan bertemu kembali, kurang fokus, dan merasa berdebar setiap kali Elios berada dekat denganku. Saat aku menceritakan hal ini kepada Gina, ia sekali lagi menyuruhku untuk waspada. Aku selalu menghargai Gina sebagai teman, namun ini bukan hal yang ingin kudengar. 

“Berdebar? Kamu tahu kan, itu bukan salah satu tanda kamu jatuh cinta?” Tanya Gina dengan kedua bola matanya yang membelalak, tidak percaya dengan yang ia dengar. 

Lihat selengkapnya