Paviliun Randa Tapak

Moli
Chapter #15

Winny

Selama ini aku berusaha untuk bersikap normal di depan kedua orang tuaku, bahkan ketika kejadian tersebut menimbulkan trauma mendalam bagiku. Saat mereka menanyakan keadaan Elios, aku mengatakan yang sebenarnya bahwa ia tengah mengikuti kompetisi di luar kota dan meninggalkan cerita tentang ia melakukan sesuatu yang buruk padaku. Berbohong bukanlah suatu hal yang mudah karena aku mendapati diriku mual setiap kali aku mengucapkan suatu kebohongan. Berawal dari sesuatu yang kecil, perlahan aku mulai terbiasa untuk berbohong demi menutupi kebohongan yang lain. Rasa bersalah kepada orang tuaku masih ada, namun tidak sebesar dulu.

Hari-hari berlalu dengan tenang tanpa ada yang menaruh curiga pada gerak-gerikku yang semakin aneh. Aku jadi mudah panik dan sulit mengendalikan emosiku. Seluruh badanku rasanya nyeri. Di antara semua perubahan yang terjadi padaku, ada satu yang paling signifikan. Aku sering mual tanpa alasan yang pasti. Awalnya aku mengira ini hanyalah efek samping dari kebohongan yang aku utarakan. Akan tetapi, saat aku tidak berbohong pun, aku merasa mual. Sebenarnya aku tidak bodoh. Aku tahu segala macam gejala yang kualami ini juga sering terjadi pada ibu hamil. Namun, aku lebih memilih untuk membohongi diriku sendiri daripada harus menghadapi kenyataan. 

Tak ada busuk yang tak berbau. Sepandai-pandainya aku menutupi kebohongan, toh pada akhirnya akan ketahuan juga. Terlebih, aku tidak bisa selalu membohongi kedua orang tuaku yang kelewat kritis dan teliti. Merasa ada yang aneh denganku, mereka memaksaku untuk membuka diri. Kejadian malam itu terulang lagi di ingatanku, namun tidak ada kata yang keluar dari mulutku. Aku hanya melihat mereka dengan tatapan kosong, seperti seseorang yang tidak bisa menggunakan otaknya untuk berfungsi dengan baik. Untuk pertama kalinya, aku terlihat bodoh. Sangat bodoh. Aku yang selalu tahu apa yang harus dikatakan mendadak berubah menjadi orang yang diam seribu bahasa. Melihat hal ini, ibuku menjadi histeris. Ia menangis dan berteriak tanpa henti sementara ayahku memarahi ibuku yang bersikap demikian.

Di tengah keributan dan suara yang saling bersahutan, aku merasa dadaku sesak. Kamar yang tadinya luas tiba-tiba menjadi sempit. Rasanya seperti tidak ada oksigen yang tersisa bagiku untuk bernapas. Kepalaku seperti berputar, perutku kram, dan seluruh sel di dalam tubuhku seolah-olah sepakat untuk menyiksaku lebih lanjut. Apakah ini yang orang-orang rasakan sebelum ajal menjemput? Entahlah, aku harap aku mati saat itu juga, namun saat membuka mata, aku sudah berada di tempat lain. Lebih tepatnya, di kamar rawat inap.

Dengan sisa-sisa kesadaranku, aku melihat ke sekeliling. Hanya ada ibu yang menemaniku. Ia tengah membersihkan makanan dan merapikan barang–barang yang terletak di atas meja. Jika ia tahu aku sudah sadar, ia pasti akan bertingkah histeris lagi dan lanjut menginterrogasiku seperti tersangka. Aku memilih untuk kembali memejamkan mata, sehingga ia mengira aku masih tertidur. Namun, ia sudah terlebih dulu menyadari aku bangun lima detik yang lalu. Ia sontak berjalan menghampiriku dan duduk di sebelah ranjang.

“Apa ada yang ingin kamu katakan?”

Mendengar pertanyaan tersebut, aku menelan ludah dan enggan membuka mataku.

“Winny! Kalau ada orang tua tanya, kamu harusnya langsung jawab!”

Aku menghela napas. “Memangnya ada yang harus aku katakan?”

“Kamu mungkin bisa berbohong selama ini. Tapi hasil pemeriksaan medis nggak akan bisa bohong. Dokter mendeteksi adanya peningkatan hormon hCG dalam tubuh kamu. Bagaimana bisa kamu punya hormon kehamilan?”

Ah, tamatlah sudah. Apa yang harus kukatakan? Aku bisa saja jujur, tapi apakah kedua orang tuaku akan percaya? Selain itu, aku sungguh tidak ingin menjelaskan apa yang terjadi kepadaku pada malam itu. Menceritakannya kembali sama saja menyiksa diriku. Ini bukan sekadar luka pada kulit yang bisa hilang seiring berjalannya waktu. 

Lihat selengkapnya