Paviliun Randa Tapak

Moli
Chapter #16

Winny

Rupanya Gina masih berada di kampus. Perhitunganku meleset. Kukira waktu yang kutempuh selama perjalanan setara dengan 2 SKS mata kuliah Filsafat Hukum. Aku menunggu di ruang tamu, ditemani oleh ibunya. Perasaan canggung menyelimuti kami berdua karena ini pertama kalinya aku bertemu dengan ibunya Gina secara langsung. Walaupun tidak banyak topik yang bisa kita bicarakan, Bu Lastri tetap menjamuku dan tidak meninggalkanku duduk sendirian seperti orang bodoh. Percakapan kami pun berlangsung dengan santai tanpa harus membahas sesuatu yang kurang menyenangkan dan mungkin bisa menyinggung perasaanku.

“Gina sering cerita soal kamu. Saya selalu penasaran seperti apa rupa sahabatnya. Eh, akhirnya ketemu juga.”

“Haha. Iya, tante. Maaf karena sebelumnya nggak pernah main ke rumah.”

“Nggak apa-apa. Teman Gina emang jarang main ke sini. Mungkin karena Gina sendiri nggak pengen temennya merasa kurang nyaman karena kesannya seperti diawasi ya, kalau di rumah orang lain? Tapi saya nggak begitu, kan?”

Aku nyaris tersedak saat mendengar Bu Lastri yang begitu peduli terhadap apa yang orang lain rasakan dan sangat teliti dalam pemilihan kata-katanya, tidak seperti ibuku.

“Justru dengan adanya Bu Lastri di sini bikin saya jadi nyaman. Bisa-bisa saya malah ngobrol sama dinding.”

Pertemuan yang awalnya terasa canggung berubah menjadi obrolan hangat yang mengalir begitu saja, seolah jarak di antara kita perlahan mengecil seiring dengan waktu yang kita habiskan. Percakapan terus bercabang ke beberapa topik, mulai dari rencananya untuk menanam berbagai jenis bunga dengan warna yang berbeda di kebunnya sampai cerita-cerita lucu para penghuni di paviliun ini. Gina memang pernah cerita bahwa ia dan ibunya mengelola semacam kos atau tempat penginapan. Namun, aku tidak menyangka jika suasananya terasa seperti rumah sendiri. Akan sangat menyenangkan jika bisa tinggal di sini. Aku pun bisa lebih dekat dengan Gina. Hanya dengan membayangkan berada di antara perempuan sudah cukup untuk memberikan rasa aman bagiku karena aku yakin bahwa perempuan akan saling melindungi satu sama lain. Saat melarikan diri dari klinik, aku tidak berpikir panjang untuk mencari tempat tinggal. Akan tetapi, aku juga tidak ingin kembali ke rumah orang tuaku. Setelah mengungkapkan semuanya kepada Gina, aku akan mengungkit keinginanku untuk tinggal di sini.

Sosok yang kutunggu pun akhirnya muncul. Gina nampak tergesa-gesa dan panik, namun terlihat lega saat mengetahui aku tengah duduk di ruang tamu. Rasanya campur aduk melihat seseorang yang sudah lama tidak kutemui. Anehnya, aku tidak merasa asing. Bahkan setelah aku menjauhinya dengan kesadaran penuh, Gina masih menyambutku.

“Kalau gitu, saya pergi dulu ya supaya kalian lebih leluasa ngobrolnya. Gina, kalau camilannya kurang, ambil sendiri di dapur ya. Mama mau ke tempat Kak Odie dulu.”

“Iya, Ma. Hati-hati di jalan.” Gina mengantar ibunya sampai ke gerbang sebelum kembali. “Ada masalah apa?”

“Harusnya waktu itu aku dengerin semua kata-katamu. Dengan begitu, semua ini nggak akan terjadi.” Jelasku sambil terisak.

“Cerita aja pelan-pelan, Win.” Gina menyodorkan gelas berisi air minum agar aku bisa lebih tenang, namun aku menolaknya.

“Aku salah besar soal Elios. Ternyata benar kata kamu, dia nggak sebaik yang aku kira.”

Mendengar hal ini, Gina terlihat semakin serius untuk mendengarkan cerita lengkapku. Genggaman tangannya membuatku berani untuk berterus terang, seolah-olah menandakan bahwa ia berada di pihakku.

“Yah, sebenarnya aku juga nggak sepenuhnya paham pribadi Elios karena aku cuma dengar dari mulut ke mulut. Memangnya kenapa? Dia…nggak ngapa-apain kamu, kan?”

“Aku hamil, Gin.”

Gina tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Sorot matanya berubah. Walaupun ia tidak mengatakan apa-apa, aku bisa tahu bahwa ia geram mendengar apa yang Elios lakukan padaku. 

“Kurang ajar! Kenapa kamu nggak langsung cerita?” Gina terdiam saat menyadari perkataannya salah. “Maaf, bukannya aku mau nyalahin kamu, tapi selama ini aku selalu khawatir. Ternyata kekhawatiranku ini bukan tanpa alasan. Apa kamu udah cerita ke orang tuamu?”

“Udah, tapi percuma. Ibuku malah nggak percaya, sementara ayahku menganggap aku nggak pernah ada. Waktu itu mereka malah adain ritual buat membasmi arwah jahat yang katanya bersemayam di tubuhku. Hari ini, ibu nyuruh aku untuk aborsi.”

“Gila. Gila, semua gila.”

“Aku pun sempat gila, sampai kepikiran untuk mengakhiri hidup. Baik hidupku maupun hidup anak yang ada dalam kandunganku. Ketika berada di klinik tersebut, barulah aku sadar. Aku nggak punya hak untuk memutus hidup seseorang yang belum punya dosa. Aku kira aku sama sekali nggak punya tempat untuk berteduh dan seseorang untuk bertumpu, hingga pesan teks dari kamu datang di saat yang tepat. Bisa dibilang, kamu secara tidak langsung menyelamatkanku.”

“Jujur aja, perasaanku kurang enak akhir-akhir ini. Aku udah pasrah kalau misal pesanku kali ini juga kamu abaikan, makanya aku nggak nyangka kalau kamu langsung jawab saat itu juga.”

Gina memandang perutku dengan tatapan iba, mungkin ia memikirkan seperti apa masa depan anak ini nanti. Aku pun belum tahu, namun saat ini aku hanya ingin berjuang untuk hidup lebih lama dan melahirkannya. 

“Terus sekarang gimana? Apa kamu sempet lapor ke polisi?”

“Belum. Selama ini aku dikurung oleh orang tuaku dan akhirnya pun terbiasa untuk hidup pasrah. Aku pernah mikir untuk melapor ke polisi. Tapi kamu tahu sendiri, kan, bagaimana polisi menangani kasus seperti ini? Pasti mereka akan menawarkan mediasi dan pada akhirnya, aku tidak mendapatkan keadilan yang aku inginkan. Bukankah miris kalau mahasiswa Fakultas Hukum yang jelas-jelas tinggal di negara berlandaskan hukum justru tidak bisa membela dirinya sendiri dan merasa bersalah karena menjadi korban?”

“Benar, untuk kasus ini kita emang nggak bisa sepenuhnya bergantung dan berharap sama polisi aja. Tapi nggak ada salahnya untuk mencoba. Kebetulan, aku kenal seorang pengacara. Jangan takut, dia perempuan.”

Gina menyebutkan bahwa pengacara yang dimaksud pernah menangani urusan perceraian salah satu penghuni dan dia bisa diandalkan. Berangkat dari keinginanku untuk mendapat keadilan, akhirnya aku bersama Gina menemui pengacara yang dimaksud. Kantornya tidak bisa dibilang terlalu besar seperti kantor pengacara kondang lainnya, sehingga aku tidak merasa begitu terintimidasi. Salah satu pegawai mempersilakan kami untuk duduk di ruang tunggu terlebih dahulu karena beliau sedang memiliki urusan dengan klien lain. 

Mengisi kekosongan, Gina mengajakku bicara seputar perkuliahan dan kesibukannya selama ini. Di tengah perbincangan, ponsel Gina tidak bisa menyembunyikan pemberitahuan yang terus datang tanpa henti, bahkan dalam mode getar sekalipun. Setiap kali ia berbicara, selalu ada notifikasi yang mengganggunya. Ia berusaha mengacuhkannya, namun aku menyarankan untuk membukanya terlebih dahulu.

“Cek aja. Siapa tau penting.”

Gina kemudian membuka layar ponsel dan mengikuti anjuranku untuk mengecek pesan atau notifikasi lain yang masuk. Katanya, sebagian besar datangnya dari grup angkatan. Aku dan Gina sama-sama bukan tipe orang yang sering membaca percakapan di ruang obrolan grup angkatan karena terkadang isinya kurang relevan. Gina hanya melihat sekilas, namun raut wajahnya seketika berubah.

“Ada apa?” Aku refleks bertanya dengan nada penasaran.

Lihat selengkapnya