Berjemur di pantai, menikmati pemandangan, merasakan angin sepoi-sepoi dengan segelas minuman dingin di tangan merupakan gambaran liburan yang sempurna, andai saja Papa berhenti menceramahiku lewat telepon. Sudah lebih dari 15 menit ia membahas tentang aku yang melewatkan rapat penting, padahal kenyataannya aku sudah mengajukan cuti jauh-jauh hari sebelumnya. Liburan yang seharusnya aku nikmati menjadi rusak bukan semata-mata karena omelannya, melainkan karena ia mulai membahas pernikahan. Papa menjodohkanku dengan penerus Harlan Group yang menguasai properti skala kota dan kawasan industri. Pernikahan kami akan menjamin perluasan jaringan bisnis serta memperkuat aliansi.
Bagaimana bisa tiba-tiba menikah jika sebelumnya kami tidak pernah bertemu? Lagipula, aku masih 25 tahun dan pernikahan sama sekali tidak masuk ke dalam daftar hal-hal yang harus aku lakukan dalam waktu dekat. Setiap orang memiliki mimpinya masing-masing. Ada yang ingin menikah di usia muda, ada yang ingin cepat sukses, ada yang ingin memiliki peternakan, ada juga yang ingin mengelilingi dunia selama satu tahun penuh. Dan hei, aku menghargai semua mimpi tersebut.
Mimpiku sederhana, yaitu keluar dari rumah. Selama ini, aku selalu berada di bayang-bayang keluargaku dengan segala pencapaian luar biasa yang telah mereka raih. Hal tersebut tidak langsung membuatku bangga karena bukan aku yang berhasil melakukannya. Pujian yang mereka lontarkan tidak serta merta tertuju kepadaku, melainkan kepada leluargaku. Sedari kecil, hidupku seperti sudah ditentukan oleh mereka. Contohnya seperti sekolah tempatku belajar, universitas yang kutuju, apa yang harus kulakukan setelah lulus, dan sekarang dengan siapa aku harus menikah.
Semuanya sudah diatur oleh mereka. Rasanya seperti seorang putri yang dikutuk untuk tidak boleh menentukan pilihannya sendiri dan terkurung di dalam istana dingin. Beberapa kali aku mencoba untuk memutus kutukan ini dengan melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran mereka, namun hasilnya selalu berujung tidak baik. Alih-alih menghirup udara segar, istana dingin tersebut mengunciku rapat selama bertahun-tahun. Ini bukanlah dongeng yang kubaca saat masih kecil di mana seorang pangeran tampan akan menyelamatkan sang putri di siang bolong. Bukan. Tidak ada seorang pun yang bisa kuandalkan untuk saat ini kecuali diriku sendiri. Akulah si pangeran tampan itu.
Selama ini aku menunggu saat yang tepat untuk keluar dari istana. Yah, supaya lebih dramatis saja sih. Aku bisa menyanggupi semua permintaan ayahku kecuali menikah. Jika aku sampai melakukannya, itu sama saja dengan mengumumkan kepada mereka bahwa aku adalah boneka keluarga yang senantiasa mengabulkan permintaan demi kepentingan mereka. Memberi orang lain sebuah kesan bahwa aku lemah dan gampang ditindas adalah hal terakhir yang kuinginkan.
Sembari menyeruput minumanku dengan santai, Papa di ujung telepon masih terdengar bersemangat dengan ocehannya yang tiada henti. Terlalu sering mendengar ia mengomel, aku sampai bisa menebak bagaimana percakapan akan berakhir. Sebelum menutup telepon, dia pasti akan bilang sesuatu tentang gaya hidupku, atau bagaimana ia muak melihatku tumbuh menjadi seseorang yang tidak ia kenal.
“Papa udah arrange date buat kamu sama Frans.”
Hah? Tunggu, seharusnya tidak begini.
“Nggak bisa, kan aku masih liburan. Kalau mau, Frans aja yang kesini.”
“Iya, memang Frans yang akan ke tempatmu, kok. Untuk kali ini saja, kamu nurut sama Papa.” Ucapnya sebelum menutup telepon.
Ini bukan pertama kalinya aku menuruti keinginannya. Yah, liburanku toh juga sudah rusak, jadi pergi berkencan sebentar mungkin tidak begitu buruk. Apa yang mungkin bisa terjadi? Paling-paling kami hanya akan berkenalan, basa-basi, makan, dan setelah itu aku bisa bebas.
Keesokan harinya, aku pergi ke tempat yang sudah ditentukan untuk menemui Frans. Papa telah memesan ruangan privat milik restoran Jepang dengan harapan kami bisa lebih nyaman bercakap tanpa harus canggung dilihat atau didengar orang lain. Untuk hal ini, aku harus berterima kasih karena aku lebih menyukai suasana hening ketimbang ramai. Sepertinya Papa memang menaruh harapan besar supaya aku mempertimbangkan pernikahan ini. Sayang sekali bahwa jawabanku dari dulu sampai sekarang hanyalah satu, yaitu tidak.
Seorang pelayan membuka pintu geser untukku sebelum pergi dan meninggalkanku dengan Frans Harlan. Ia menopangkan dagu di atas kedua tangannya sebelum melambai kecil ke arahku. Tanpa basa-basi, aku segera duduk dan memulai percakapan.
“Aku masih ada urusan habis ini, jadi nggak bisa lama-lama.”
“Oke. Paling nggak makan dulu, jangan sampai kamu sia-sia datang ke sini.”
“Aku terkekeh kecil. Sejak menginjakkan kaki di restoran ini, aku sudah membuang waktuku yang seharusnya bisa kupakai untuk hal yang jauh lebih menyenangkan.
“Aku nggak tahu apa yang kamu suka. Maaf kalau misalnya hidangan ini nggak sesuai seleramu. Ah, ini, kamu bisa pesan lagi.”