Ting tong.
Suara bel yang berbunyi dari dalam rumah terdengar sampai ke luar. Setelah beberapa saat, muncul seorang wanita yang setidaknya masih berumur 20-24 tahun dengan paras yang hangat. Apakah dia pemiliknya?
“Permisi, Kak. Apa masih ada kamar kosong?” Aku bertanya dari ambang pintu.
“Masih, Kak. Kebetulan tinggal sisa satu. Mari duduk dulu. Saya panggilkan Bu Lastri. Ah, beliau pemilik paviliun ini.”
Mengikuti langkahnya, aku berjalan menuju sebuah ruang kecil yang terlihat seperti ruang serbaguna. Terdapat sofa, kursi kayu, meja kopi, berbagai macam lukisan yang bersandar pada dinding, dan sebuah gramofon tua. Rasnaya seperti ditarik ke dalam pusaran waktu. Suara lembut yang datang dari belakang membawaku kembali ke masa kini.
“Saya dengar ada yang sedang mencari kamar? Kebetulan sekali ada satu kamar kosong. Letaknya di lantai atas. Kalau Anda mau, bisa saya antar untuk melihat langsung bagaimana keadaannya. Nanti biar Nak…”
“Gladys.” Ucapku sambil mengulurkan tangan.
“Nah, nanti biar Nak Gladys yang menentukan. Apakah cocok atau tidak.”
Kami berjalan menaiki tangga. Melihat Bu Lastri yang berpegangan erat pada pegangan tangga membuatku berinisiatif untuk memapahnya, akan tetapi ia menolak dengan halus. Walau begitu, aku tetap memerhatikannya dari belakang, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Di lantai dua terdapat empat kamar yang saling berhadapan. Terlihat papan nama di masing-masing pintu kamar. Aku membaca nama-nama tersebut dalam hati. Retta, Gina dan Winny, Citra. Hanya ada satu kamar yang bersih dari papan nama. Aku yakin ini adalah satu-satunya kamar yang tersedia. Kami berhenti di depan kamar tersebut.
Krek.
Suara khas putaran kunci berbunyi, menandakan pintu telah berhasil dibuka. Berjalan di belakang Bu Lastri, aku mengikuti langkahnya sampai kami berada di dalam kamar. Memang tidak seluas kamarku, namun ruangannya cukup lega dan terasa hangat meskipun sarat akan barang. Jika aku menaruh beberapa barangku, mungkin akan terasa lebih hidup dan mencerminkan kepribadianku.
“Bagaimana?” Bu Lastri tersenyum penuh harap.
“Saya ambil kamarnya, Bu.”
“Boleh. Untuk berapa lama?”
“Selama yang saya inginkan.” Itulah jawabanku sebelum membayar uang sewa selama enam bulan. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan tinggal di sini, namun sepertinya enam bulan adalah waktu yang pas bagiku untuk bersembunyi dari keluargaku, terutama Papa.
“Tapi malam ini saya nggak langsung tinggal di sini ya, Bu. Saya masih harus mengambil koper dan err…mengurus beberapa keperluan. Mungkin besok baru bisa pindah.”
“Oh iya, nggak apa-apa. Saya akan bereskan kamarnya terlebih dahulu.”
Aku mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompet dan memberikannya kepada Bu Lastri. Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk memberi tips kepada orang. Beberapa dari mereka akan berterima kasih, sedangkan untuk sebagian orang gestur ini mungkin terkesan menghina. Sebelum Bu Lastri salah paham, aku buru-buru menjelaskan.