“Maaf, Kak. Pembayaran ditolak. Apakah ada metode pembayaran lain yang ingin dicoba?”
Aku berani bertaruh bahwa ini adalah ulah Papa. Pasti ia sengaja memblokir kartu kreditku dengan harapan bahwa aku akan kembali ke rumah dan memohon ampun. Sayang sekali, caranya sama sekali tidak ampuh.
“Pakai kartu debit aja kalau gitu, Kak.”
Slip transaksi kemudian keluar dari mesin EDC, menandakan bahwa pembayaran telah berhasil.
Sebelumnya aku tidak terlalu peduli dengan sisa saldo di akunku, namun sekarang aku harus pandai mengatur keuanganku. Apalagi ketika aku sudah tidak mendapat dukungan dari keluarga serta pemasukan. Walaupun aku tidak berniat untuk menghabiskan banyak uang dalam waktu dekat ini, tidak ada salahnya bagiku untuk belajar hidup hemat sambil memikirkan rencana masa depan.
Setelah puas membeli tas, Muthe mengajakku untuk bersantai di kedai kopi yang berada di dekat taman mall. Kali ini, giliran Muthe yang mentraktirku satu gelas kopi hitam dingin dan satu potong kue stroberi. Kami duduk di luar kedai sambil menikmati pemandangan taman yang dilengkapi dengan kolam berisi ikan dan air mancur.
“Eh, beneran nggak apa-apa?” Raut wajah Muthe terlihat khawatir.
“Apanya?”
“Ini.” Muthe mengangkat tas yang baru dibeli secara perlahan.
“Oh, nggak apa-apa. Santai aja kali. Kartu kredit diblokir bukan akhir dari segalanya. Aku masih punya tabungan.”
Muthe menghela napas lega karena tidak perlu lagi merasa khawatir maupun bersalah.
“Tapi aku nggak bisa kayak gini terus. Kalau sampai Papaku tahu aku hidup santai dari sisa kekayaannya, dia pasti akan senang mengetahui bahwa aku memang bukan siapa-siapa tanpanya.”
“Ah, kamu coba bikin usaha aja.”
Aku mengibaskan tanganku pelan. “Aku nggak cocok jadi pemilik usaha yang cuma nyari keuntungan. Seumur hidupku, aku udah kenyang liat orang-orang di sekitarku mengelola usaha.”
“Hm…jadi PNS. Katanya kan PNS itu mantu idaman.”
Kali ini aku memutar bola mataku. “Cape banget kalau aku harus repot belajar dan juga aku nggak mau jadi mantu idaman siapa pun. Alasan aku keluar dari rumah kan karena aku nggak mau nikah. Lupa, ya?
“Jadi kurator seni?”
“Boleh juga, tapi aku nggak terlalu paham soal seni. Ah, gimana aku bisa tahu apa yang bakal aku lakuin kalau aku nggak tahu minatku sendiri?”
Aku mengistirahatkan kepalaku, menopang pada kedua tangan yang kuletakkan di atas meja sebelum membenamkannya lantaran frustrasi memikirkan masa depan. Kubiarkan mataku terpejam untuk beberapa waktu, membayangkan adegan mengerikan yang enggan aku lakukan, yaitu menikah dengan seseorang tanpa ada cinta. Saat aku perlahan mendongak dan membuka mata, aku memperhatikan Muthe yang duduk di seberang. Ia sedang asyik dengan dunianya sendiri, yaitu menggambar. Pandangannya tidak teralihkan sedikit pun dari objek yang sedang ia abadikan dalam bentuk gambar. Muthe adalah sosok yang santai, supel, bahkan mungkin tidak terlihat serius. Namun, saat Muthe melakukan apa yang ia suka, ia seperti berubah menjadi orang yang sepenuhnya berbeda. Mungkin itulah yang bisa dilakukan oleh mimpi: membuat seseorang memiliki tujuan hidup yang jelas.