Paviliun Randa Tapak

Moli
Chapter #20

Gina

Waktu adalah sebuah konsep yang tidak bisa aku pahami. Beberapa hal terasa lebih lama daripada yang seharusnya. Namun, terkadang juga bisa berjalan lebih cepat. Bagaimana mereka bisa sepakat bahwa satu menit terdiri dari 60 detik dan memutuskan bahwa satu tahun terdiri dari 365 hari? Tidak terasa tiga tahun sudah berlalu semenjak ibu memutuskan untuk mendirikan sebuah kos yang ia beri nama Paviliun Randa Tapak. Ibu bersikeras menyebutnya paviliun karena terdengar lebih hangat dan terasa seperti rumah. Itulah yang ia harapkan. Semoga semua penghuni yang tinggal di sini tidak merasa kesepian walaupun jauh dari rumah dan bisa menganggap tempat tinggal sementara ini sebagai rumah kedua mereka. 

Setelah ayah meninggal, aku bisa melihat bahwa ibu merasa kesepian walaupun ia tidak pernah benar-benar mengutarakannya. Dalam lubuk hatiku, aku juga merasa sedikit kesepian. Ah, bukan. Mungkin kehilangan adalah kata yang tepat. Wajar, karena aku terbiasa melihat sosok ayah yang tidak pernah absen di dalam hidupku. Di mata orang lain, keluarga kecilku ini bisa dibilang sebagai keluarga cemara sebab kami jarang bersiteru satu sama lain. Bukan berarti kita tidak pernah bertengkar, namun jika hal itu terjadi, kedua orang tuaku akan duduk saling berhadapan dan membicarakan pokok permasalahan dengan kepala dingin. Bukan dengan emosi yang meluap-luap. Kedua orang tuaku adalah tipe manusia yang bisa menyeimbangkan urusan hati dan pikiran.

Karakter seseorang dapat dibentuk oleh beberapa faktor, dengan lingkungan sekitar sebagai faktor paling penting. Banyak hal yang bisa kupelajari dari orang tuaku. Salah satunya adalah berbelas kasih kepada mereka yang membutuhkan. Aku tidak mengatakan bahwa mereka adalah manusia suci tanpa dosa. Namun, setidaknya mereka berusaha menebar kebaikan tanpa pamrih, saat dunia menganggap kebaikan sebagai suatu transaksi atau hal yang dilakukan orang agar bisa lebih diterima.

Sejak kecil, aku hidup berkecukupan karena jabatan ayah yang cukup tinggi dan terhormat. Tidak heran jika aku tidak pernah merasa kekurangan sedikit pun. Hal ini tidak membuatku besar kepala maupun merendahkan orang lain. Ketika ayah belum pensiun, rumah kami tidak pernah sepi karena pasti selalu ada tamu yang berkunjung. Saat itu, aku masih terlalu kecil untuk mengerti permasalahan yang dihadapi orang dewasa. Kukira mereka hanya sekadar berkunjung; ternyata sebagian dari mereka datang untuk meminta bantuan. Hal ini baru kuketahui setelah ayah tiada. Betapa banyak orang yang datang melayat, mulai dari teman dekat, kolega, anak buah, bahkan orang lain yang tidak pernah kudengar namanya.

Mereka semua berterima kasih atas kerendahan hati dan kebaikan ayah karena senantiasa bersedia untuk membantu mereka. Saat itu aku sadar bahwa orang yang sudah meninggal pun masih bisa meninggalkan sesuatu untuk orang-orang di sekitarnya berupa warisan. Bukan dalam bentuk materi yang bisa dilihat wujudnya, melainkan sebuah kenangan dan kebaikan yang mereka perbuat semasa hidupnya. Warisan inilah yang aku dan ibu pertahankan sehingga rasanya seperti ayah masih ada bersama kami di sini. Hal ini juga terus kutanamkan bahkan setelah kepergian ibu sebulan yang lalu. Rasanya ia masih ada di sini. Melihat, mengawasi, dan membimbingku dari jauh. Meskipun begitu, fakta bahwa ada tawa dan suara yang hilang tidak bisa terelakkan. Aku menatap sebuah kursi santai yang terletak di pojok, tempat ibu biasa duduk sambil memandang ke luar melalui jendela.

“Hayoo, kok ngelamun?” Tante Retta menepuk pundakku pelan.

“Nggak ngelamun kok, Te.”

“Pasti kamu kangen ya sama Ibu?”

Lihat selengkapnya