Ramalan Banyu benar. Hujan di Jakarta selalu membawa masalah, dan masalah malam ini datang tepat lima menit setelah pemuda "startup" tadi menghilang di tikungan gang.
Awalnya hanya suara.
Di sela-sela gemuruh hujan yang menghantam atap seng ruko, Banyu mendengar sesuatu yang lain. Bukan suara langkah kaki yang tegas, melainkan suara seretan. Srek... srek... srek. Seperti karung beras basah yang ditarik paksa di atas trotoar semen yang kasar.
Banyu tidak langsung beranjak dari kursinya. Dia masih sibuk dengan ritual pasca-transaksi: membersihkan meja kasir. Dia menuangkan sedikit alkohol murni ke atas kain lap yang sudah dekil, lalu menggosok noda darah mikroskopis yang tertinggal di permukaan kayu. Bau spiritus yang tajam menguar, bertarung dengan aroma cengkeh rokoknya, menciptakan parfum kematian yang khas di ruangan itu.
BUGH.
Sesuatu menabrak pintu besi ruko. Berat. Basah.
Banyu berhenti menggosok. Dia menatap pintu itu. Dia tahu siapa—atau apa—yang ada di baliknya. Hanya ada satu jenis manusia yang datang dengan cara seperti itu di jam sebegini: mereka yang sudah kehabisan segalanya.
Lonceng kuningan di atas pintu bergemerincing malas saat pintu didorong terbuka. Bukan oleh tangan, melainkan oleh berat tubuh seseorang yang ambruk menimpanya.
Sosok itu masuk—atau lebih tepatnya, tumpah—ke dalam toko.
Air hujan yang hitam dan berminyak menggenang di sekeliling tubuhnya yang gemetar di lantai. Baunya langsung menyebar, mengalahkan bau alkohol dan rokok. Itu adalah bau selokan yang mampet, bau pakaian yang tidak dicuci seminggu, dan di bawah itu semua... bau ketakutan yang asam.
"Nyu..."
Suara itu terdengar basah, seolah ada lendir kental yang menyumbat tenggorokannya.
Banyu menghela napas panjang. Asap rokok keluar dari hidungnya dengan kasar, membentuk dua kolom abu-abu. Dia tidak terkejut. Dia hanya lelah.
"Bangun, Pak Tono," kata Banyu datar, tanpa beranjak dari balik benteng meja kasirnya. "Lantai itu kotor. Lebih kotor dari hidup Bapak."
Sosok di lantai itu bergerak. Tangan-tangan kurus dengan kuku hitam mencengkram kaki meja etalase, berusaha menarik tubuhnya berdiri. Dengan susah payah, pria itu berhasil menegakkan badan.
Itu Pak Tono. Atau setidaknya, sisa-sisa reruntuhan dari apa yang dulunya bernama Pak Tono.
Banyu ingat betul, sebulan yang lalu pria ini datang dengan setelan batik korpri yang rapi. Saat itu Pak Tono menjual "Rasa Malu Korupsi Kecil-kecilan". Dua minggu lalu, dia datang lagi dengan kemeja lusuh, menjual "Rasa Takut Miskin".
Sekarang? Dia terlihat seperti gedung tua yang pondasinya sudah dicuri satu per satu.
Kulit wajahnya abu-abu, kusam seperti kertas koran bekas yang kehujanan. Matanya cekung sedalam sumur kering, dilingkari warna hitam legam. Bibirnya pecah-pecah berdarah. Dan yang paling mengerikan adalah lehernya—penuh dengan goresan kuku. Dia menggaruk lehernya sendiri sampai lecet, mencoba menggaruk rasa gatal yang tidak ada di kulit, tapi ada di dalam jiwa.
"Obatnya..." Pak Tono meracau, matanya liar menyapu ruangan, mencari-cari sesuatu di rak botol di belakang Banyu. "Mana obatnya, Nyu... Aku butuh obat..."
"Ini bukan apotek, Pak Tono," jawab Banyu dingin. Tangannya kembali menggosok meja dengan kain lap, gerakan ritmis yang sengaja dia lakukan untuk menunjukkan ketidakpedulian. "Dan Bapak bukan sakit fisik. Bapak itu 'kosong'. Bapak sudah overdosis."
"BOHONG!"
Teriakan Pak Tono pecah, melengking tidak wajar. Dia memukul kaca etalase dengan kepalan tangannya yang lemah. Kaca itu bergetar, tapi tidak pecah. Kaca itu sudah ditempa mantra, lebih kuat dari keputusasaan manusia manapun.
"Kau punya obatnya di situ!" Pak Tono menunjuk rak dengan jari telunjuk yang gemetar hebat. "Ambilkan! Ambilkan yang bikin lupa! Ambilkan yang bikin diam!"
Banyu meletakkan kain lapnya. Dia menatap Pak Tono tepat di mata.
"Pulanglah, Pak," kata Banyu, suaranya melunak sedikit—bukan karena kasihan, tapi karena dia tahu bahayanya berurusan dengan pecandu di tahap akhir. "Peluk istri Bapak. Makan nasi hangat. Atau setidaknya, cobalah tidur. Bapak butuh tidur, bukan butuh saya."
Pak Tono tertawa. Tawa yang mengerikan. Suaranya seperti kaca yang diinjak.
"Tidur? Kau suruh aku tidur?"
Pria tua itu merosot lagi, wajahnya menempel di kaca etalase yang dingin, meninggalkan jejak uap napas dan air liur.
"Tiap kali aku merem, Nyu... aku lihat dia. Anak kecil itu. Bajunya merah. Sepedanya roda tiga. Aku lihat dia senyum sebelum bemper trukku menghajar dia."
Pak Tono mulai menangis. Tapi air matanya sedikit sekali. Kelenjar air matanya sudah kering. Yang keluar hanyalah isakan kering yang menyakitkan dada.
"Aku denger suaranya, Nyu. Suara tulangnya patah di bawah ban trukku. Krek! Kayak ranting kering yang diinjak sepatu lars. Bunyi itu nggak mau ilang! Dia muter terus di kupingku! Krek! Krek! Krek!"
Pak Tono memukul telinganya sendiri dengan brutal, mencoba mengusir suara hantu itu.
"Jantungku berisik! Otakku muter film itu terus menerus! AMBIL INI KELUAR! AMBIL RASA BERSALAH INI, BANYU!"
Banyu terdiam. Dia membiarkan rokoknya terbakar habis di asbak sampai menyentuh filter.
Dia mengaktifkan penglihatannya. Pupil mata peraknya melebar, menembus daging dan tulang Pak Tono, melihat ke dalam esensi jiwanya.
Pemandangan di sana menyedihkan.
Jiwa Pak Tono ibarat sebuah gelas kaca yang sudah retak seribu. Aura yang biasanya berwarna-warni—merah marah, biru sedih, kuning bahagia—sudah nyaris padam. Yang tersisa hanyalah kabut hitam pekat, tebal seperti aspal cair, yang menempel erat di batang otak Pak Tono.
Itu adalah Rasa Bersalah Tabrak Lari.
Emosi itu sangat kuat. Sangat korosif. Ia memakan kewarasan Pak Tono seperti rayap memakan kayu. Tapi, Banyu tahu satu hal yang tidak diketahui Pak Tono: Kabut hitam itulah satu-satunya "lem" yang menahan kepingan jiwa Pak Tono agar tidak buyar.
Rasa bersalah itulah yang membuatnya masih manusia. Rasa sakit itulah bukti bahwa dia masih punya hati nurani, meski sedikit.
"Pak," suara Banyu merendah, memberi peringatan serius. "Dengar saya baik-baik. Jiwa Bapak itu sudah tipis. Bapak sudah jual takut. Bapak sudah jual malu. Kalau saya ambil rasa bersalah ini... gelasnya pecah."
Banyu mencondongkan tubuh.
"Kalau saya ambil ini, Bapak bukan jadi lega. Bapak jadi kosong. Bapak akan jadi Cangkang. Dan saya tidak melayani mayat hidup."
"AKU NGGAK PEDULI!"
Gerakan Pak Tono tiba-tiba menjadi cepat. Tangan kanannya merogoh saku celana bahan yang sudah robek.
Klik.
Sebuah pisau lipat karatan keluar. Bilahnya bergerigi dan kotor.
Banyu tidak bergerak mundur. Dia sudah sering ditodong. Biasanya, orang menodongkan pisau ke arahnya untuk meminta uang atau botol gratis.
Tapi Pak Tono tidak mengarahkan pisau itu ke Banyu.
Dengan tangan gemetar namun tekad bulat, Pak Tono menempelkan mata pisau yang dingin dan kotor itu ke urat nadi lehernya sendiri. Tepat di bawah telinga. Kulit lehernya yang tipis langsung tertekan, setetes darah merembes keluar.
"Ambil..." desis Pak Tono, matanya melotot gila. "Ambil rasa sakit ini... atau aku iris leherku di sini. Sekarang."
"Kau mengancamku di rumahku sendiri?" tanya Banyu tenang, meski tangannya perlahan turun ke bawah meja, mendekati tombol alarm diam.
"Biar tokomu jadi TKP!" teriak Pak Tono, ludahnya muncrat ke kaca. "Biar polisi dateng! Biar mereka lihat semua botol setan ini! Biar mereka segel tempat terkutuk ini!"
Pak Tono menekan pisau itu lebih dalam. Darah mulai mengalir membasahi kerah kemejanya yang dekil. Dia serius. Dia tidak takut mati. Dia lebih takut hidup dengan rasa bersalahnya satu detik lagi.
Banyu terdiam. Matanya menyipit, menghitung probabilitas.
Jika Pak Tono bunuh diri di sini, polisi akan datang. Mereka akan menggeledah. Mereka akan menemukan botol-botol itu. Banyu harus menyuap banyak orang, atau kabur dan membangun identitas baru. Rugi besar. Sangat merepotkan.
Banyu benci rugi.
"Baik," kata Banyu tajam. Keputusan bisnis sudah dibuat.
Dia mematikan sisa rokoknya dengan jempol—mematikan baranya langsung tanpa merasa sakit.
"Kau yang minta, Tono. Jangan bilang aku tidak memperingatkanmu saat kau lupa namamu sendiri nanti."
Banyu menarik laci meja dengan kasar. Bunyi besi beradu dengan kayu terdengar nyaring.
Dia tidak mengeluarkan kotak P3K. Dia mengeluarkan peralatan "panen"-nya: Sebuah kotak beludru hitam yang berisi suntikan besar dari kuningan dengan jarum setebal paku beton, dan sebuah botol kaca kosong yang masih berdebu.
"Naik ke kursi," perintah Banyu, menunjuk kursi besi tempat pemuda startup tadi duduk.