Pelangi di Penghujung Senja

Rio Astiawan
Chapter #1

Senja di Sebuah Pinggiran Kota Kecil

Lonceng pertanda berakhirnya kelas telah berbunyi. "Soal latihan hari ini silahkan di kerjakan di rumah dan dikumpulkan minggu depan". Ujar Bu Rini guru matematika kami. "Kecuali Milan! Karena minggu depan Milan sudah tidak lagi bersekolah di sini! Mulai minggu depan Milan sudah pindah ke sekolahnya yang baru." Katanya lagi melanjutkan ucapannya tersebut. Pada saat itu semua mata tertuju padaku, diantara mereka ada yang merasa bingung, sekadar penasaran, bahkan mungkin juga aku kira ada yang merasa iri denganku. Aku yang biasanya duduk di pojokan kelas tanpa banyak bicara pada hari itu mendadak menjadi pusat perhatian. Pernyataan Bu Rini dihadapan semua murid barusan tadi membuat diriku seakan - akan menjadi seseorang yang paling diistimewakan sendiri di kelas ini. Itu karena aku tidak perlu mengerjakan pekerjaan sekolah (PR) lagi. Coba saja pernyataan semacam ini dilontarkan juga oleh Bu Rini jauh di hari - hari sebelumnya. Biasanya beberapa menit sebelum lonceng berbunyi, Bu Rini akan memberikan beberapa pertanyaan terlebih dahulu kepada kami dan bagi siapa saja yang bisa menjawab pertanyaannya dengan benar maka akan diperbolehkan keluar kelas serta pulang lebih awal. Hal ini dilakukan Bu Rini untuk memotivasi kami agar lebih semangat serta berlomba - lomba untuk belajar lebih giat lagi. Tapi siang itu hal tersebut tidak dilakukannya, mungkin saja ia lupa atau memang sengaja dilupakannya karena dari tadi ia hanya duduk saja di kursi mengajarnya seraya sesekali mengawasi kami. Dari tadi kami hanya mengerjakan soal - soal latihan yang diberikannya itu. 

Siang itu setelah ketua kelas kami selesai memimpin doa lalu kami pun keluar kelas bergiliran kemudian bersegera pulang menuju rumahnya masing - masing. Aku perhatikan di depan pintu gerbang sekolah sepertinya ayah tidak menjemputku. Jika ayah tidak menjemput biasanya aku akan naik becak dengan sisa uang jajanku tadi. "Milan!" Tiba - tiba saja seseorang memanggilku sambil melambaikan tangannya ke arahku. Dan setelah aku perhatikan dengan lebih seksama karena becak yang ditumpanginya pun perlahan mendekat, ternyata ia adalah Romi teman sekelasku. "Tidak dijemput ya hari ini Milan! Kalau begitu ikut denganku saja!". Ajaknya seraya bergeser memberikan ruang duduk di dalam becak langganannya tersebut "Ayolah Milan jangan sungkan, lagi pula hari ini kan kamu juga tidak dijemput oleh ayahmu!" Katanya lagi. Rumahnya Romi memang searah dengan rumahku makanya ia mengajakku serta untuk pulang bersama - sama dengannya.Tapi sebelum itu sekali lagi aku memperhatikan di sekelilingku untuk memastikan bahwa ayah memang benar - benar tidak menjemputku siang ini, setelah itu tanpa pikir panjang aku pun langsung saja naik ke dalam becak langganannya tersebut, hitung - hitung bisa menghemat sisa uang jajanku tadi. "Eh iya Milan, apa benar yang Bu Rini bilang di kelas tadi kalau kamu akan pindah ke sekolah yang baru minggu depan?" Tanya Romi kali ini dengan perasaan yang masih saja penasaran. "Iya memang benar sih, soalnya ayahku akan dipindah tugaskan ke tempat yang baru, jadi kami semua juga harus ikut pindah." Jawabku kemudian sedikit memberikan penjelasan pada dirinya agar dapat menghilangkan rasa penasarannya itu. "Kalau begitu nanti kita sudah tidak bisa bertemu lagi dong. Kamu pastinya akan lupain aku juga!" Sambungnya lagi. "Ah enggak mungkinlah Rom, kamu masih tetap menjadi teman terbaikku kok sampai dengan saat ini." Jawabku segera saja memberikan kepastian padanya. Pindah sekolah dan meninggalkan salah satu teman baikku merupakan sebuah kehilangan yang tak terduga - duga bagiku. Itu karena dari kelas satu sampai dengan kelas lima aku belajar di sini, di Sekolah Dasar (SD) Negeri 95 Kota Palembang, Sumatera Selatan yang penuh dengan kenangan ini. "Stop dulu di sini sebentar ya Pak! Soalnya kita sudah sampai di tempatnya Milan!" Ujar Romi tiba - tiba saja ketika becak langganannya tersebut telah lebih dulu sampai di depan sebuah lorong yang letaknya tidak jauh lagi dari rumahku. Di depan lorong dari jalan raya tadi untuk menuju ke rumahku memang agak sedikit lagi masuk ke dalam, tinggal berjalan kaki sebentar saja untuk sampai ke sana. "Makasih ya Rom atas tumpangannya. "Kemudian ujarku mengucapkan terima kasih atas tumpangan becak yang diberikannya tadi. "Iya sama - sama, sampai ketemu besok lagi di sekolah ya Milan." Lalu sambungnya. 

"Assalamualaikum. Ma Milan sudah pulang!" Ucapku ketika telah sampai di depan pintu rumah. Akan tetapi tidak ada jawaban sama sekali dan lagi pula pintunya juga tidak terkunci. Mungkin saja ibuku saat ini sedang keluar sebentar, barangkali sedang membeli sesuatu di warung. Aku lihat di dalam rumah sepertinya tampak lebih lengang dan kosong dari biasanya. Ini dikarenakan sebagian barang - barang yang ada di rumah kami memang sudah dikemas bahkan beberapa barang lainnya ada yang sudah dikirim terlebih dahulu dengan menggunakan jasa ekspedisi. Saat ini aku merasa seolah - olah setiap sudut ruangan dari rumah kami ini seakan berbisik tentang kenangannya sendiri, mengenang canda, tawa dan tangis yang pernah ada di dalamnya. Laksana sebuah cerita, beberapa bab sengaja dihapus dan potongan yang lain siap di susun kembali di halaman berikutnya. "Eh ada Milan toh rupanya yang sudah pulang dari sekolah!" Lalu kejut ibuku tiba - tiba saja. "Ah Mama ngagetin aja. Milan kira tadi Mama sedang enggak ada di rumah!" Ujarku kemudian. "Tadi Mama lagi sibuk bersih - bersih dan beresin rumah jadinya enggak tahu kalau kamunya juga sudah pulang!" Katanya lagi. "Lalu kenapa ayah enggak menjemput Milan di sekolah hari ini Ma?" Tanyaku. "Mungkin saja ayah kamu lagi sibuk di kantornya. Maklumlah kan sebentar lagi kita juga akan pindah rumah." Jawab ibuku mencoba untuk memberikan alasannya. "Kalau kamu memang sudah lapar, itu Mama sudah siapin makanan kesukaan kamu di atas meja makannya!" Lalu lanjutnya. "Oh iya Ma, tempat tinggal baru kita gimana ya? Apakah mungkin di sana nanti juga akan menyenangkan! Soalnya Milan masih saja merasa penasaran!" Sambungku kemudian yang ketika itu masih saja merasa penasaran dengan tempat tinggal baru kami nantinya. "Kok kamu tanyanya ke Mama sih Milan? Kan Mama juga belum pernah ke sana! Kalau menurut saran Mama sih, kamu tinggal ikutin saja bagaimana jalan alurnya nanti. Mudah - mudahan saja di sana, di tempat baru kita nanti kamu bisa betah dan lingkungannya juga bisa buat kamu senang." Ucap ibuku kali ini berusaha meyakinkanku sekali lagi. "Iya sih Ma Milan harap juga begitu." Kali ini jawabku singkat saja. Memang ayahku adalah seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) di lingkungan Kementerian Pertanian pada Badan Karantina Tumbuhan Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Dan pada saat ini, mungkin karena jejak recordnya yang baik ataupun juga karena memiliki integritas yang cukup bagus dalam melaksanakan tugas serta pekerjaannya, oleh sebab itu ayah mendapatkan promosi kenaikan jabatan sebagai kepala dinas di sebuah kota kecil tepatnya di Kota Tanjung Pandan Pulau Belitung. Oleh sebab itu kami sekeluarga pun harus ikut pindah serta termasuk juga dengan sekolahku. Begitulah adanya terkadang seiring dengan bergulirnya waktu akan membawa masing - masing dari kita ke jalan cerita yang berbeda - beda menuju bab - bab baru dalam hidup yang penuh teka - teki ini.

Pagi itu kami diantar oleh salah seorang rekan kerja ayahku menuju bandara. Tepatnya Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II yang ada di Kota Palembang Povinsi Sumatera Selatan. Dan ini adalah kali pertamanya aku menaiki sebuah pesawat. Sepertinya sebuah pesawat penerbangan komuter yang akan kami naiki. Tidak sama seperti pesawat penerbangan komersial lainnya yang ada pada saat ini, berisik dan bising sekali selama penerbangan dengan menggunakan pesawat bertipe Short SD-360 dari sebuah maskapai penerbangan Deraya Air tersebut.Tapi tenang saja, semua itu akan tergantikan dengan pemandangan yang sangat indah dari atas ketinggian pesawat ini. Saat kita memandang ke bawah dari dalam kaca jendela semuanya terlihat sangat kecil dari biasanya, kita tidak akan bisa lagi melihat orang - orang dengan jelas di bawah sana. Rumah - rumah pun bagaikan tanda titik - titik yang sangat halus dalam sebuah buku tulis ataupun buku catatan kita, beberapa sungai meliuk - liuk di antara daratan bak cacing yang meninggalkan jejaknya di tanah yang gembur, bayang - bayang awan di lautan yang bergerak lambat bagaikan pola abstrak dari sebuah lukisan, bahkan sebuah pulau yang cukup besar sekali pun bisa terlihat utuh dari atas ketinggian sebuah pesawat ini, padahal kalau kita sendiri berada di pulau tersebut dan mencoba untuk mengelilinginya langsung dengan kendaraaan bermotor sekali pun pastinya akan membutuhkan waktu berjam - jam atau mungkin saja seharian penuh. 

Tidak terasa sebentar lagi pesawat yang kami tumpangi akhirnya akan segera mendarat. Penerbangan kami kali ini memakan waktu sekitar satu jam lebih lima belas menit, cukup lama untuk membuat telingaku terasa kebas akan suara di sekitar dan berdenging akibat bisingnya deru mesin pesawat ini. Di ujung pendaratan tersebut aku melihat sebuah landasan sederhana yang di kanan kirinya masih di kelilingi oleh rimbunnya pepohonan. Sebuah imajinasi liar yang aku tangkap pertama kali pada saat itu adalah bahwa kami akan segera mendarat di sebuah pulau yang di dalamnya terdapat suku primitif kanibal seperti yang pernah aku lihat dalam film - film. 

~~~//~~~    

Lihat selengkapnya