Hari ini adalah hari minggu, aku sengaja memberanikan diri keluar rumah menuju lingkungan sekitar tempat tinggalku sekadar untuk mencari teman bermain. Seorang anak lelaki yang sebaya denganku terlihat sedang duduk - duduk di depan pelataran teras rumahnya. Lalu aku pun segera mendekatinya dan berusaha memperkenalkan diriku sebagai anak pindahan baru di lingkungan ini. Namanya adalah Angga, seumuran denganku akan tetapi kami berbeda sekolah. Letak sekolahannya agak sedikit lebih jauh dari sekolahku. Rumahnya tepat di seberangan jalan. Ibunya merupakan seorang bidan di rumah sakit umum, sedangkan ayahnya adalah seorang wiraswasta. "Kamu yang baru pindah ke rumah yang ada di depan itu ya?" Sapanya. "Iya benar." Jawabku kemudian. "Oh iya, namaku Milan." Lalu aku mencoba untuk memperkenalkan diriku lebih dulu. "Aku Angga." Jawabnya. Angga adalah teman yang pertama kali aku kenal di lingkungan ini. Biasanya di hari minggu seperti ini ada beberapa anak - anak lainnya yang sebaya dengan kami sedang bermain - main atau sekadar berkumpul. Mungkin saja saat ini mereka memang belum keluar atau juga sedang ada kegiatan lainnya. Karena hari ini kebetulan ibunya Angga sedang mendapatkan tambahan shif kerja di rumah sakit dan ayahnya juga sedang ada urusan di luar sana, jadi Angga hanya sendirian saja di rumahnya dan tidak bisa kemana - mana. Sebenarnya Angga juga mempunyai saudara kembar perempuan lainnya namanya adalah Anggi. Mungkin sekarang dia sedang ada di dalam kamarnya. "Ayo Milan kita masuk ke dalam." Kemudian Angga langsung saja mengajakku ke lantai dua rumahnya yang sepertinya memang khusus didesain sebagai ruangan terbuka untuk bersantai. Memang tidak terlalu besar, kita hanya menuju ke lantai atas menaiki tangga yang terbuat dari bilik - bilik kayu lalu memasuki sebuah ruangan dan selebihnya lagi di luarnya adalah teras tempat untuk bersantai. Di terasnya itu terasa cukup nyaman dan sejuk karena ada beberapa pohon rindang yang menaungi di dekatnya. Di situ juga ada ayunan dan tempat untuk duduk - duduk. "Sebelumnya yang tinggal di rumah yang sekarang kamu tempati itu namanya adalah Kak Rafa. Ungkap Angga kemudian memberitahukanku. Orangnya baik dan sering ajak aku jalan - jalan. Tapi sekarang Kak Rafa sudah pindah ke kota yang lainnya lagi karena harus ikut serta bersama orang tuanya." Jelasnya. Aku baru tahu karena selama ini ayahku tidak pernah menceritakan hal ini padaku. Bisa saja suatu saat nanti aku pun harus mengalami hal yang sama dengan Kak Rafa sebagaimana yang diceritakan Angga tadi.
Karena kami asyik mengobrol tidak terasa waktu pun sudah hampir memasuki tengah hari. "Assalamualaikum. Angga bukaiin pintunya!" Terdengar suara seorang wanita paruh baya dari bawah pintu belakang rumah yang sepertinya itu adalah ibunya Angga, nampaknya baru saja pulang dari kerja. "Iya Bu tunggu sebentar!" Sahut Angga kemudian dari lantai atas. Lalu aku pun juga segera mengikutinya untuk turun ke bawah. Setelah Angga membukakan pintunya terlihat seorang wanita berperawakan sedang dengan kostum putih khas seorang perawat dibalut dengan cardigan berwarna hijau muda. "Oh iya Bu, perkenalkan ini Milan anak baru pindahan yang ada di depan rumah kita gantinya Kak Rafa! Ujar Angga saat itu berusaha memperkenalkanku kepada ibunya. "Oh benarkah, kalau begitu berarti sekarang Nak Milan yang gantiin Kak Rafa tinggal di rumah depan itu ya?" Lalu katanya "Iya Tante" Jawabku kemudian. Karena waktu pun sudah hampir memasuki tengah hari dan aku sepertinya baru tersadar kalau nantinya aku juga bisa dicariin oleh ibuku, lalu saat itu sekalian saja aku pamit pulang dengan Angga dan ibunya. "Nak Milan makan siang bareng Angga saja terlebih dahulu di sini setelah itu baru pulang! Ajak ibunya Angga. "Ah enggak usah repot - repot kok Tante, nanti kalau Milan kekenyangan kasihan ibunya Milan masakannya enggak ada yang makan." Jawabku menolak secara halus. "Tapi nanti sore ke sini lagi ya Milan! Lalu sahut Angga langsung saja menimpali. "Oke pastinya kok" Jawabku segera.
Sore itu aku lihat Angga sudah menungguku di depan teras rumahnya. Nampak juga ia sudah dalam keadaan rapi. "Bagaimana kalau sore ini kita jalan - jalan dengan menggunakan ketangin!" Kemudian ajaknya dengan sangat antusias. "Dengan ketangin, apa itu?" Tanyaku merasa penasaran karena merasa bingung dengan sebuah kata asing yang baru saja ia ucapkan tadi. "Ketangin itu adalah sepeda." Jawabnya menjelaskan. "Oh sepeda!" Mungkin kalimat lengkapnya adalah kereta angin gitu kali ya! Lucu juga sih pikirku. "Kalau begitu kamu tunggu di sini dulu sebentar, biar aku ambil ketanginku terlebih dahulu." Tidak lama kemudian aku lihat Angga membawa serta ketanginnya. Warnanya merah marun bermotif garis - garis yang membuatnya terlihat semakin gahar. "Ayo Milan kita jalan - jalan dengan ketanginku ini." Ajaknya bersemangat. Lalu aku pun segera saja naik berdiri tegak menginjak dua pijakan kaki kuda yang berada tepat di roda belakang ketangin sambil memegangi pundaknya. Sepertinya asyik juga jalan - jalan sore dengan menggunakan ketangin ini. Tidak seperti di kota - kota besar lainnya, di kota ini tidak begitu banyak kendaraan bermotor yang berlalu - lalang jadi udaranya pun masih sangat bersih. Apalagi bila kita berketangin sambil melewati jalan di sepanjang pesisir pantainya. Memang jalan yang dibuat persis berdampingan dengan pesisir pantainya itu cukup panjang, jadi pemandangan yang disajikan juga sangat beragam. Kadang kami melewati orang - orang yang sedang bermain volly pantai, anak - anak yang asyik bermain - main dengan pasir dan air laut, hingga pasangan muda - mudi yang sedang dimabuk asmara sekadar duduk mojok di pinggiran pantai. Sesekali kami juga singgah sebentar sekadar untuk menikmati suasana pantai dan keindahan pemandangannya, setelah itu baru melanjutkan perjalanan kembali. Tanpa sadar sepertinya hampir dari setengah kota ini telah kami kelilingin dengan berketangin hingga akhirnya kembali lagi ke tempat semula di mana kami memulai perjalanan. Hal tersebut dikarenakan kota ini memang tidaklah terlalu luas. Bahkan kami pun sepertinya telah melewati batas - batas kota tadi. Persahabatanku dengan Angga menjadi semakin akrab setelah perjalanan sore ini. "Sampai ketemu besok lagi ya Milan" ucap Angga setelah dirinya menurunkanku tepat di depan rumahku yang menjadi akhir dari perjalanan yang menyenangkan kami hari ini.
~~~//~~~
Pagi ini di jalan aku lihat banyak anak - anak lainnya yang pergi ke sekolah dengan menggunakan ketanginnya masing - masing dan sebagian lainnya dengan berjalan kaki, aku kira mungkin karena mereka tidak memiliki ketangin atau juga memang letak rumahnya yang cukup dekat dengan sekolahan. Terlihat beberapa dari mereka menganyuh ketanginnya dengan penuh keceriaan. Sesekali terdengar tawa serta canda ketika mereka saling berlomba - lomba untuk mencapai sekolahannya lebih dulu. Sedangkan aku masih saja diantarkan oleh ayahku dengan motor Honda GL Maxnya tersebut. Terkadang kalau ayah terlambat datang menjemput ataupun kelas pulang lebih awal dikarenakan para guru beserta kepala sekolah sedang ada rapat, terpaksa aku pun juga harus pulang dengan berjalan kaki. Lumayan jauh sih apalagi kalau cuaca lagi panas terik, ketika sampai di rumah mungkin seragamku sudah cukup basah oleh peluh keringat.
Setelah lebih satu bulan bolak - balik mengantar dan menjemputku ke sekolah dengan menggunakan motornya, akhirnya ayah membelikanku ketangin juga. Hari ini setelah menjemputku dari sekolah, tidak seperti biasanya ayah tidak langsung mengantarku pulang. Akan tetapi kami langsung menuju ke sebuah toko sepeda yang letaknya berada di pasar tidak jauh dari pusat kota. Lantas saja aku yang duduk di belakang jok motornya merasa heran dan penasaran. "Kita mau ke mana Pa?" Tanyaku kemudian. "Nanti juga kamu akan tahu sendiri!" Jawabnya singkat saja meninggalkan rasa penasaran yang lebih mendalam. Perjalanan kami akhirnya berhenti di depan sebuah toko sepeda. Mataku langsung terpana pada sederet ketangin yang berjajar rapi di depannya, dengan beraneka ragam model dan juga sebagian tampak mengkilap karena dibiaskan oleh cahaya matahari. Hatiku mulai berdegup lebih kencang, ada harapan kecil yang tumbuh ketika itu. "Sekarang silahkan pilih mana sepeda yang kamu sukai Milan!" Tanya ayah padaku kemudian. Saat itu perasaan seakan tidak percaya sekaligus senang bercampur aduk menjadi satu. Benar saja akhirnya ayah membelikan sebuah ketangin untukku. Aku bingung untuk memilih, karena beberapa ketangin yang di pajang di tokonya tersebut memang terlihat sangat bagus. "Yang warna biru laut itu saja Pa!" Langsung tunjukku dengan bersemangat. Lalu ayah memanggil penjaga tokonya untuk membantu kami mengambilkan ketangin yang kuinginkan itu. ""Nanti minta tolong untuk sekalian diantarkan ke rumah juga ya Ko!" Pinta ayahku sambil menuliskan alamatnya pada secarik kertas. "Enggak usah Pa! Nanti biar Milan saja yang langsung mengendarainya sendiri sampai ke rumah." Sahutku segera. "Apa kamu sudah bisa mengendarai sepeda dengan baik Milan?" Tanya balik ayahku kali ini untuk benar - benar memastikan kalau aku memang telah bisa bersepeda dengan baik. "Bisalah Pa, kan selama ini Milan belajar menggunakan ketangin dengan Angga!" Jawabku meyakinkan. Sepertinya aku makin tidak sabar untuk menujukkan ketangin baruku ini kepada teman - teman lainnya lalu membayangkan diriku mengayuhnya dengan gembira di jalan - jalan.