Berbeda dengan tempat tinggal kami sebelumnya, salah satu hal yang menarik di sini adalah ketika menjelang malam hari beberapa tetangga di sekitar lingkungan tempat tinggal kami yang memang di rumahnya belum mempunyai televisi suka menonton televisi di rumah kami. Hal ini dikarenakan masyarakatnya memang masih memiliki rasa kekeluargaan yang sangat baik. Selain itu juga orang tuaku adalah sosok yang mudah membaur dan bersahabat di lingkungannya. Kadang juga ayah sengaja membeli hoklopan (martabak manis), pampi (kwetiau) ataupun gorengan untuk sekadar dimakan bersama - sama sambil menikmati tontonan yang ada. Biasanya kegiatan nonton bareng tersebut dimulai sehabis sholat isya atau sekitaran jam tujuh malam. Lagi pula pada waktu itu acara yang dihadirkan memang sedang bagus - bagusnya. Benar saja apa yang baru aku katakan, Bu Titin dan anaknya yang sebaya denganku, si Asep tiba untuk pertama kali. Biasanya juga ada keluarga yang lainnya lagi. Kadang - kadang ketua RT di lingkungan tempat tinggal kami, Pak Komas beserta Bu Komas sering kali ikut nimbrung, walaupun di rumah mereka sebenarnya juga telah ada televisinya sendiri. Mungkin kultur kehidupan bermasyarakat yang seperti ini sudah sangat jarang bisa kita temui. Apalagi di perkotaan zaman sekarang, sekiranya sekadar bertegur sapa saja ketika bertemu sudah tidak pernah dilakukan lagi, seakan - akan mereka telah disibukkan dengan urusannya masing - masing.
Ketika sedang menonton televisi biasanya Asep sering kali ketiduran. Hal tersebut sering dimanfaatkan oleh ayahku untuk menanyakan berapa nomor buntut. Ketika acara televisi telah selesai dan mereka akan segera beranjak untuk pulang, Asep yang dalam keadaan setengah sadar ketika dibangunkan sering kalinya mengigau. Nah disaat seperti itulah ayahku biasanya iseng menanyakan berapa nomor buntut padanya. Buntut adalah nomor togel yang pernah berjaya dan merajalela pada masa itu. Tentunya salah satu penyakit masyarakat ini sangat digemari oleh ayah dan ibuku. Pernah suatu ketika orang tuaku memasang nomor buntut lalu tembus tiga angka hampir saja tembus empat angka, dan sering kali hanya tembus dua angka, akan tetapi lebih seringnya lagi tidak tembus sama sekali. Aku kira mereka suka memasang nomor buntut seperti itu mungkin hanya sebagai hiburannya semata atau juga sekadar untuk menghilangkan kegabutannya saja.
Awan yang berarak - arakan, seperti siang - siang yang biasa - biasanya. Waktu pun telah menunjukkan pukul 14.00 Wib. Ibu dari salah satu teman sebayaku si Yudi yang juga seorang sales buntut keliling dengan ketangin keranjangnya lalu menghampiri rumah kami. Pada saat itu terjadilah transaksi ilegal jual beli keberuntungan. Bukan seperti matematika yang pernah kuketahui bila empat dikurang dua sama dengan dua, akan tetapi buaya itu adalah empat puluh dua. Aku juga tidak mengerti bagaimana jalan rumusnya, tapi itulah padanan angka dan gambar yang telah dikeramatkan dalam buku mimpi tersebut. Dan yang lebih membuat diriku tidak habis pikir bilamana nomor buntut yang mereka pasang tadi tidak ada satu pun yang tembus keluar. Percayalah itu tidak akan membuat mereka menjadi jera dan berhenti untuk bermain buntut. Malahan itu akan membuat mereka semakin merasa penasaran dan mencoba kembali untuk mencari mimpi - mimpi yang lainnya lagi esok. Termasuk juga di sini salah satu dari korbannya adalah diriku, tidak hanya si Asep saja. Walaupun bagi mereka uang yang digunakan untuk memasang nomor buntut tersebut tidaklah terlalu berlebihan, tapi aku pikir itu hanya sugesti mereka saja. Aku kira inilah representasi yang tepat dari pribahasa "sedikit - sedikit lama - lama menjadi bukit." Hanya saja sebaliknya, jikalau uang yang digunakan untuk memasang nomor buntut tersebut seharusnya digunakan untuk ditabung. Ya walaupun juga mereka pernah menang beberapa kali akan tetapi kan lebih banyak lagi kalahnya. Benar juga apa yang dikatakan oleh Bang Haji Rhoma Irama dengan lagunya yang berjudul "Judi." Tidak akan mungkin berjaya orang - orang yang bermain buntut.
Sama halnya seperti diriku, ibuku juga biasa menggunakan ketanginnya sendiri ketika pergi ke pasar. Pada saat itu ketangin adalah kendaraan yang mendominasi di kota kecil ini. Tidak seperti sekarang, di jalan - jalan umumnya telah dipadati oleh kendaraan bermotor yang tentunya akan menimbulkan kemacetan dan polusi udara. Bahkan saat ini telah sangat jarang kita temui orang yang menggunakan ketanginnya lagi di jalanan. Hal lainnya yang juga berbeda di kota ini tentunya isi alam dari pasarnya. Misalnya, jika kita masuk ke dalam pasar ikan, di sini kita tidak akan menemukan sama sekali berbagai jenis ikan air tawar yang biasa ditemukan di kota asal kami sebelumnya seperti ikan patin, nila, belut, lele serta mujair yang menjadi menu pilihan utama dan selalu berjajar segar di atas lapak - lapak penjualnya. Di tempat baru kami saat ini semua itu seperti menghilang begitu saja. Akan tetapi berbagai jenis ikan laut melimpah ruah. Lapak - lapak yang ada lebih banyak memajang hasil laut seperti cumi - cumi, udang, ikan tenggiri, kerapu dan juga berbagai macam jenis tiram serta kerang berserakan di atas tumpukan es batunya. Itu artinya kami harus merubah kebiasaan makan kami yang biasanya menu serta lauk pauknya adalah olahan dari berbagai macam ikan air tawar lalu sekarang menjadi serba hidangan laut. Sebenarnya sama saja sih bagiku, baik ikan air tawar maupun ikan laut. Kedua menu tersebut sebenarnya sama - sama lezat, tergantung bagaimana keahlian yang memasaknya saja. Akan tetapi ayahku telah mengantisipasi akan kesukaannya mengomsumsi hidangan dari ikan air tawar ini. Biasanya ketika telah habis hujan pastinya ayah akan memancing ikan lele di tebat. Pada saat habis hujan tentunya tebat akan mengalami debit air yang cukup besar, deras serta keruh dan pada saat seperti itulah ikan lele akan memakan umpan. Di sini masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama ikan kelik. Selain itu juga ketika hari libur tiba biasanya ayah akan mengajakku ataupun Om Teguh pergi memancing di kolong - kolong bekas pertambangan timah. Kolong - kolong adalah bekas galian pertambangan timah yang telah mereka keruk hasilnya lalu setelah itu mereka biarkan begitu saja bekas galiannya tanpa menunjukkan rasa tanggung jawab sama sekali untuk menutup serta menimbunnya kembali, sehingga lambat laun bekas galian itu akan dipenuhi oleh air kemudian berubah menjadi layaknya danau yang berpetak - petak dengan ukuran yang cukup besar. Tapi ini adalah lubang - lubang kerukan yang memang disengajakan sama persis seperti ucapan yang dibuat - buat oleh orang yang sedang beralasan ketika telah diketahui letak kesalahannya. Kali ini target sasarannya biasanya ikan mengkawak atau yang sering disebut dengan ikan gabus. Oh iya, Om Teguh adalah seorang hononer di tempat kerja ayahku dan juga merupakan tetangga di lingkungan tempat tinggal kami saat ini.
Jarak menuju kolong tersebut memang lumayan agak jauh kurang lebih sekitar tiga puluh kilometer dari pusat kota. Tepatnya di sekitaran pantai Tanjung Tinggi yang merupakan salah satu pantai paling indah yang ada di Pulau Belitung ini. Dengan bebatuan granit berusia jutaan tahun, bertumpuk - tumpuk menjulang tinggi bagaikan raksasa tersebar di seluruh garis pantainya serta menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan. Yang menariknya lagi kolong - kolong itu letaknya tidak begitu jauh, hanya berseberangan jalan saja dengan pantai Tanjung Tingginya tersebut. Oleh sebab itu suara deburan ombak dan semilir angin laut masih bisa didengarkan serta dirasakan ketika kami sedang asyik memancing. Di tengah perjalanan, sebelumnya kami akan berhenti sebentar mengambil beberapa bilah bambu yang tumbuh di pinggiran jalannya untuk digunakan sebagai tajur. Ketika telah sampai di lokasi lalu aku pun bersegera mungkin memancing ikan lampu - lampu kecil menggunakan cacing tanah yang telah diambil dari halaman belakang rumah kami. Ikan lampu - lampu kecil itu akan dijadikan sebagai umpan hidup untuk ditajur. Sebenarnya aku tidak tahu nama asli ikan ini, tapi karena memiliki tanda seperti strip putih di bagian atas kepalanya dan juga terlihat menyala makanya aku menyebutnya sebagai ikan lampu - lampu saja. Ikan lampu - lampu tersebut hanya seukuran jari kelingking orang dewasa dan merupakan makanan alami bagi ikan mengkawak di kolong - kolong ini. Benar saja tanpa menunggu waktu yang lama sebagian tajuran yang telah kami pasang tadi sepertinya telah ada seekor ikan yang menyambar. Ikan mengkawak berukuran sedang nampaknya telah menyambar umpan yang aku pasang tadi. "Yuhuu." Teriakku sambil menaikkan ikan tersebut ke atas, melepaskan kailnya lalu segera memasukkannya ke dalam jaring yang digunakan untuk menampung ikan hasil tangkapan kami. Ketika memasuki tengah hari dan perut sudah mulai terasa lapar biasanya kami akan bersiap untuk menyantap bekal yang telah dibawa dari rumah sebelumnya. Walaupun nasi dan lauk pauk seadanya, lahap sekali rasanya bersantap setelah seharian memancing, walau hanya sekadar nasi dan telur dadar dengan sambalnya lalu ditambah kerupuk, wah, itu pun rasanya sangat begitu nikmat.
Hari itu sore telah berlalu dan langit pun mulai beranjak gelap ketika azan magrib berkumandang menggema di seluruh penjuru, suara merdu muadzin seolah mengundang semua orang untuk berkumpul dalam khusyuknya ibadah. Aku pun lalu bersegera membersihkan diri serta bersiap - siap dengan pakaian yang lebih rapi untuk menuju surau yang letaknya juga sangat dekat dengan lingkungan tempat tinggal kami. Hanya butuh waktu tidak lebih dari dua menit saja dengan berjalan kaki untuk sampai ke surau tersebut. Kebetulan Angga juga sudah menungguku di depan teras rumah untuk mengajakku sholat magrib berjamaah di sana. Surau tidaklah lebih besar dari sebuah masjid yang tentunya hanya bisa menampung jamaah yang lebih sedikit. Surau kami hanya berukuran 7 x 6 meter dan bahkan ada beberapa surau yang lebih kecil lagi dari itu. Walaupun begitu surau kami yang sederhana itu tidaklah pernah terlalu sepi dari jemaah untuk setiap kali sholat lima waktunya.