Pelangi di Penghujung Senja

Rio Astiawan
Chapter #4

Permainan Yang Menyenangkan

Hari ini setelah mata pelajaran Bahasa Indonesia lalu mata pelajaran selanjutnya adalah Penjaskes (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan). Salah satu mata pelajaran yang tentunya sangat aku sukai. Jangankan diriku semua murid pun tahu betapa menyenangkannya aktifitas fisik di luar ruangan sana apalagi setelah duduk lama di dalam kelas tadi sambil mencatat serta mendengarkan materi yang diberikan oleh guru. Jarum jam dinding di dalam kelas nampaknya telah menunjukkan hampir saja mendekati pukul delapan pagi. Aku rasa di waktu - waktu seperti itu cuaca masih sangat bersahabat dan belum terlalu cukup panas. Setelah menyimpan semua alat tulis beserta buku pelajaran ke dalam tas, lalu kami pun segera saja berganti pakaian olahraga. Sebagian murid ada yang berganti pakaian di dalam kelas dan ada pula yang berganti di kamar kecil. Berganti pakaian di kamar kecil biasanya dilakukan oleh murid - murid perempuan. Kalau kami murid laki - laki tidak masalah jika harus langsung berganti pakaian di dalam kelas saja. Toh nantinya yang malu - malu dan menghindar dengan sendirinya juga anak - anak perempuannya. Walaupun masih saja ada beberapa dari mereka yang masa bodoh dengan hal tersebut. Aku kira karena mereka memang cuek atau mungkin juga memiliki sifat agak tomboi, jadi tidak terlalu peduli dengan hal - hal yang semacam itu. Namun ada juga murid yang sebelumnya telah mengenakan pakaian olahraganya secara berlapis dari rumah sehingga sekarang hanya perlu melepaskan seragam luarnya saja. Kalau hal yang seperti ini aku kira biasa dilakukan oleh anak yang suka dengan sesuatu yang praktis, mungkin. Aku juga pernah melakukannya sesekali, pakaian berlapis begitu tentunya akan terasa gerah sekali apalagi kita harus menunggu hampir satu jam sampai mata pelajaran pertama tadi selesai. Tapi setelah pergantian mata pelajaran Penjaskes selanjutnya memang benar - benar sangat praktis dan tidak perlu repot - repot lagi, tinggal kita buka seragam luarnya saja. Kalau saja ada lomba berganti pakaian dengan cepat pastinya dialah yang akan menjadi pemenangnya. 

"Hari ini kita akan menuju lapangan bola." Ujar Pak Soleh guru Penjaskes kami. "Hore" Sontak sorak murid lainnya serempak penuh semangat. Karena memang hal itulah yang sedang dinanti - nantikan, bermain serta bersenang - senang di luar ruangan sana untuk menghilangkan kejenuhan setelah belajar - mengajar di dalam kelas tadi. Jarak antara lapangan bola dan sekolah kami tidaklah terlalu jauh mungkin hanya sekitaran tiga ratus meteran saja. Lalu kami pun harus berjalan bersama - sama untuk menuju ke sana. Tapi percayalah perjalanan bersama - sama menuju lapangan bola tersebut terasa sangatlah menyenangkan. Lapangan bolanya luas, sering digunakan oleh anak - anak dan masyarakat umum bermain bola ketika sore hari tiba, ataupun juga biasa pula digunakan untuk pertandingan jika ada turnamen kejuaraan sepak bola antar kampungnya. 

Saat ini kelas dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok laki - laki akan bermain sepak bola dan kelompok perempuannya bermain lempar bola kasti. Karena saat ini memang belum ada ujian pengambilan nilai untuk caturwulan ataupun kenaikan kelasnya, maka kami hanya bermain bebas saja sampai akhir pelajaran Penjaskes nanti selesai. Dan Pak Soleh guru Penjaskes kami hanya sekadar mengawasi kami sambil sesekali memberikan arahan. Setelah sebelumnya melakukan pemanasan terlebih dahulu, pertandingan sepak bola pun akhirnya dimulai. Di awal - awal waktu, permainan sempat terasa buntu. Lalu setelah itu tiba - tiba saja operan bola Odi dari daerah pertahanan kami meluncur dengan sangat cantiknya di kakiku. Dengan gerakan refleks aku mengontrol bola tersebut dengan baik. Aku lihat Alwi berdiri di depan gawang lawan menunggu peluang emasnya, tanpa ragu aku kemudian mengoper kembali bola tersebut kepada Alwi. Dengan kecepatan serta ketepatan yang luar biasa ia langsung saja menyambar dan menembakkan bola tersebut ke arah gawang yang di jaga oleh Erwis. Goolll sorak kami serentak meluapkan kegembiraan. Alwi melompat dengan penuh kegirangan. Skor 1 - 0 untuk keunggulan tim kami. Sementara itu untuk permainan lempar bola kasti oleh kelompok perempuannya juga tidak kalah menarik.

Setelah selesai bermain bola rasanya lelah sekali dan hari juga telah terasa sangat panas terik. Nampaknya sang surya sudah mulai terlihat sangar untuk membakar kulit siapa pun yang berani menantangnya berhadap - hadapan. Tidak seperti pagi tadi rupanya ia hanya memaklumi kami saja. Kami pun lalu segera berteduh di sekitar gubuk yang letaknya persis di pinggir lapangan bola. Sebuah gubuk tua yang terbuat dari kayu papan serta beratapkan genteng, akan tetapi pintunya terkuncikan oleh gembok besi dan di antara celah - celah papannya itu, di dalamnya kosong melompong. Gubuk tersebut sepertinya sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Bagi kami pelajaran Penjaskes hari ini tidak hanya sekadar bermain dan berolahraga saja tapi juga mengajarkan tentang pentingnya kebersamaan serta kekompakkan dalam sebuah tim dan tentunya juga lebih mengeratkan lagi hubungan persahabatan di antara kami sebagai sebuah keluarga yang lebih besar dari rumah kedua kami yakni sekolah. Bisa ditebak hal yang paling menyebalkan selanjutnya adalah masih adanya mata pelajaran lain setelah pelajaran penjaskes ini berakhir. Itu rasanya seperti kita telah kehabisan tenaga tetapi masih harus dipaksa untuk menerima pelajaran lagi. 

Lihat selengkapnya