Rasa takut Candramaya memuncak ketika Mat Tabiin berlari kencang kearahnya, detak jantung Candramaya memacu kakinya agar lari sekencang mungkin untuk menghindari bahaya nyata dari orang gila itu.
Nahas, kali ini tangan kasar dari orang gila yang berumur sekitar lima puluh tahunan itu berhasil mencengkram erat tangan mungil Candramaya, menyeret paksa kedalam semak rumput resam yang berjejer kusut sepanjang jalan setapak yang sepi. Candramaya berteriak lantang berharap siapapun dapat mendengarnya, mungkin sosok jawara kampung, polisi, bahkan mungkin pangeran kecil pemberani yang saban waktu pernah menolongnya itu kembali datang. Sejauh rumput resam yang tersibak paksa oleh langkah tergesah mereka berdua tampaknya tak satupun manusia yang mendengar. Makin masuk kedalam sana yang ada hanya kutu babi yang melompat berpindah dari anggota tubuh ke anggota tubuh yang lainnya. Pasalnya rumput resam adalah tempat favorit kawanan babi hutan.
Setelah sekitar sepuluh meter menyibak rumput resam yang tumbuh mengganas itu, tibalah mereka pada sebuah gubuk reot. Dindingnya terbuat dari pelupuh bambu yang sebagian besar termakan jamur, serta tiangnya yang terbuat dari kayu jambu air yang telah tumbuh beberapa tunas baru pada ketiak dahannya cukup merepresentasikan sebagai tempat yang sudah lama tidak dihuni.
Gadis kecil itu dihempaskan secara kasar, hijabnya compang-camping tak karuan lagi. Mat Tabiin mengikat tangan dan kaki gadis itu pada sebuah tiang gubuk, lalu pergi menutup pintu gubuk dengan pelan hingga menimbulkan bunyi derit panjang, diiringi pendar cahaya yang mulai redup meninggalkan Candramaya sendirian pada gubuk tua tersebut. Ketika pintu ditutup, mulai muncul aroma tak sedap menyeruak penuh di ruangan itu. Perpaduan bau pesing dan samar-samar seperti bau kambing jantan yang berahi membuat Candramaya mau muntah.
Disisi lain Eyang Latifa mulai risau sebab cucu semata wayangnya itu belum kunjung pulang dari tempat mengaji, Ia berdecak sambil menatap kawanan kalong yang melintas pada langit sandekala."Kemanalah, Maya. Tak sampai-sampai juga ke rumah. Nyangkut dimana anak ini." Ia mengeluh pada dirinya seorang diberanda rumah panggung itu. Sebagai petuah kampung yang telah banyak menyaksikan fenomena gaib, jelas saja Ia risau parah, tak menutup kemungkinan jika Eyang pernah bertemu langsung dengan sosok Mak Sumay. Namun kepercayaan setempat berkata, pantang mengeluh di Tanjung Heran, sebab apa yang dikeluhkan cepat atau lambat akan terjadi terlebih jika nama Mak Sumay sempat terucap secara lisan. Eyang kembali masuk kerumah, menenangkan fikiran sejenak dengan membuat secangkir kopi, baginya, kopi ini sebagai patokan waktu, jikalau sudah habis dua atau tiga cangkir Candramaya tak kunjung tiba, maka Ia akan turun sendiri mencarinya.
Cangkir pertama sudah habis, Cangkir kedua habis pula, belum sampai hati ingin membuat kopi ketiga Eyang sudah tak kuat menanggung resah menunggu kepulangan cucunya, pikirannya kacau dan selalu saja mengarah kepada berbagai lelembut yang mengadakan festival pada awal musim durian, berbahaya jikalau bangsa manusia ikut bergabung pada festival lelembut.
Eyang bergegas masuk ke Bilik kamar mengambil senter dan jaket merah berbahan parasut miliknya, Ia menuruni tangga dan memulai pencarian ketempat Candramaya mengaji. Suasana gelap jalanan tak membikin dia takut sebab ada ketakutan yang lebih besar menyelimutinya, kehilangan cucu semata wayangnya itu.
Setiba disurau tempat mengaji, Eyang hanya melihat kumpulan orang tua duduk melingkar masing-masing menghadap al-quran, bertadarus menghidupkan malam yang konon katanya merupakan hari-hari bangsa gaib merayakan festival. Eyang mendekati mereka lalu bertanya apakah ada yang melihat cucunya arah perginya kemana. Salah satu menanggapi, Ustd. Rosdi selaku guru mengaji anak-anak disurau itu. "Cucumu sudah pulang sedari pukul lima sore tadi. Jikalau belum pulang mungkin saja masih bertandang kerumah teman-temannya."
Eyang mengenali persis cucunya itu, berulang kali ia peringati cucunya agar selalu berada dirumah sebelum waktu sandekala tiba. Setiap kali bercerita cucunya itu selalu memasang sorot mata yang serius dan mendengarkan neneknya bercerita tentang sosok urban legend yang disebut Mak Sumay. Eyang yakin betul cucunya itu tak akan pernah ingkar terhadapnya.
"Begini saja, Eyang cari pada setiap rumah temannya, kalaupun tak ada, Eyang kembali dahulu kerumah dan pastikan ulang Dik Maya sudah pulang." Ujar Ustd Rosdi.
Tak mendapat hasil pada Surau tempat cucunya mengaji, Eyang melanjutkan pencariannya menuju rumah-rumah teman sebaya Candramaya yang Ia kenal.
Satu persatu rumah dikunjungi tak kunjung dapat jawaban, dalam benaknya Ia teringat sebuah pepatah yang mengatakan, bahwa terkadang sejauh manapun manusia mencari jawaban, jawaban dari pertanyaan itu sebenarnya berada didekat kita sendiri. Hari makin mengkelam dan udara dingin yang mulai merengsek masuk pada celah tubuh, Eyang memutuskan kembali kerumahnya, untuk memastikan barangkali pepatah itu benar adanya.
Saat pintu rumah dibuka bersamaan dengan suara deritnya yang terdengar seperti orang yang sekarat. Eyang sedikit terperanjat ketika melihat sosok Candramaya yang sedang menyuap dengan ganas nasi dingin yang berada dalam tudung saji bersamaan dengan lauk ikan salai santan kuning yang mulai tengik sebab dimasak pagi tadi. Pertemuan tanpa sapaan, Eyang bersyukur bahwa Ia tak perlu khawatir lagi mengenai Mak Sumay yang gemar memakan anak-anak, Ia menunggu sabar cucunya itu menghabiskan makanannya, seperti sosok Ibu di belahan bumi manapun yang senang hatinya ketika melihat anaknya makan dengan lahap. Benar sudah ternyata pepatah lama yang mengatakan jawaban tersulit ternyata berada disekitar kita sendiri.