Senin kelabu. Setelah sebulan praktik, siswa kelas 3 SMA Daniswara mempersiapkan minggu ini untuk merampungkan laporan PKL dan beragam jenis ujian. Perpustakaan adalah tujuan Naira pagi itu. Namun sampai pukul sebelas ia tidak mengerjakan apapun. Laptop di depannya ia biarkan menyala. Tangannya berkhianat. Ia memalingkan fokusnya pada sebuah buku milik Rintik Sedu. Ayu yang sedari tadi disampingnya sedang asyik memainkan ponsel saat ia menyadari tiga jam ia dapati Naira tidak menyentuh laptop sama sekali.
"Hello... Kita ke sini itu mau kelarin laporan atau baca novel?"
Naira yang menyadari itu segera menutup bukunya.
"Eh iya, Yu.. Sampai mana kita?"
"Kita bahkan belom mulai loh, Ra"
Naira salah tingkah. Ia kemudian membereskan bukunya dan menatap layar 16 inchi dengan serius. Membuka satu persatu folder bertuliskan "File Jogja" dan mulai membuat halaman word baru untuk laporannya.
Sementara itu Ayu merasa ada yang aneh dengan sahabatnya ini. Memang untuk mendapati seorang Naira sedang membaca buku bukan hal yang aneh baginya, namun tiga jam itu ia mengamati jika pandangan Naira tidak di buku namun tengah melayang ke suatu tempat.
"Yu.. Diem aja sih. Bantuin aku dong.."
"Ra... Kayaknya jangan diterusin sekarang deh. Lo kayak enggak fokus."
"Keliat banget ya, Yu"
"Yang lo rasa?"
"Aku masih capek kali ya...."
Ayu menggeleng.
"Lo kalo mau cerita silahkan, Ra. I'll be always by your side"
"Makasih ya, Yu..."
"Lo kangen mas Bima?"
"Hah? Enggak lah"
"Then?"
"Yu... aku pernah cerita tentang temennya Abang gak?"
Ayu menggeleng.
"Entah aku pernah cerita atau enggak yang pasti aku kepikiran banget sama dia"
"Then?"
"Kemaren aku ke sanggar. Gak sengaja ketemu sama dia. Aku gak tau kalo dia ternyata jadi salah satu relawan sekarang. Dan kamu tahu, Yu. He's different. Yang aku tahu dia itu freak. Dia dingin banget. Tapi yang aku liat dia sama anak-anak sanggar itu dia humble banget. Hangat aja liatnya"
"And then kamu suka?"
"Enggak juga sih. Tapi aku jadi mempertimbangkan perkataan Abang kalo aku harus lebih terbuka sama orang lain di kehidupan aku. Kali aja aku bisa nemu yang pas buat aku"
"Nah kemaren yang sama mas Bima lo belum kebuka hati lo?"
"Nah itu yang bikin aku gak bisa mikir, Yu. Mas Bima itu baik banget orangnya. Dia romantis. Dan aku suka cara dia memperlakukan aku dengan sangat manis meskipun kita cuma kenal sebulan. Tapi pas kemaren ketemu sama temen Abang ini hangatnya itu beda pas aku lagi sama mas Bima. Beda deh pokoknya, Yu"
"Parah nih. Sekali kenal cowok langsung dapet dua kayak gini. Kemaren-kemaren dingin aja sih lo, Ra"
"Ya gak tau, Yu. Terus aku harus gimana?"
"Lo udah kenal lama sama temen Abang lo ini?"
"Cuma ketemu dan ngobrol sekali pas sebelum ke Jogja. Abis itu sekali kemaren. Nah, aneh kan kalo aku bisa ngerasain beda sama apa yang aku rasain ke mas Bima?"
Ayu menghela nafas panjang.
"Lo istirahat aja, Ra. Kita gak bisa lanjutin sekarang bikin laporannya."
"Ya deh. Aku mau ke La Luna aja"
"Tumben jam segini? Senja gak berganti jam kan?"
"Udah sebulan gak hirup chamomile jadi bete hidupku, Yu"
"Terserah deh. Bawa sepeda kan? Gue balik sendiri berarti"
Naira mengangguk, merapikan laptop dan bukunya lalu berdiri melenggangkan kaki bersama Ayu keluar dari perpustakaan.