Pelangi Senja dalam Renjana

Noura N
Chapter #18

BAGIAN 17 - BINTANG YANG DATANG

"Selamat Pagi..."

Sebuah suara dari depan pintu ruang direksi terdengar bersamaan dengan ketukan lembut di daunnya. Seorang laki-laki berkemeja maroon dengan celana bahan slimsuit berwarna krem dan bersepatu pantofel masuk setelah diberikan anggukan oleh kepala direksi.

"Saya Bima dari Kantor Berita Antara Jogja. Saya ditugaskan untuk membantu pengelolaan divisi baru di Kantor Jakarta"

"Ya. Saya sudah konfirmasikan kedatangan anda kepada rekan-rekan divisi. Mari, rapat divisi akan segera dimulai"

Laki-laki bernama Bima itu mengangguk.

Jakarta adalah sesuatu yang baru bagi Bima. Keputusan pimpinan redaksi kantor berita Jogja yang memberinya kesempatan untuk mengelola divisi baru di Jakarta adalah sebuah berkah tersendiri. Bagaimana tidak. Selain promosi jabatannya di kantor, ia juga bisa belajar jauh tentang Jakarta. Utamanya belajar tentang seseorang, gadis usia belasan yang ia rindukan.

Setelah rapat divisi selesai. Ia berkeliling dengan Honda Brio miliknya untuk menikmati suasana sore yang hangat. Ia berkeinginan untuk menghubungi beberapa kenalannya di Jakarta. Namun yang terkuat adalah niat untuk menghubungi gadis itu.

Sudah siap ia mendial nomornya, namun ia urungkan. Niatnya maju mundur. Ia kemudian berganti mencari kontak Ayu dan meneleponnya.

"Mas Bima? Ada yang bisa saya bantu?" sapa Ayu dari seberang.

"Hai, Yu... Apa kabar? Saya lagi di Jakarta"

"Are you sure? Ngapain, Mas?"

"Tugas kantor. Bisa ketemu?"

"Sama Naira?"

"Iya"

"Beres, Mas. I'll talk to you later"

"Makasih ya, Yu. Im waiting"

Telepon ditutup. Ada senyum lega dari bibir Bima.

Ra... Sore ini ke La Luna?

Pesan Whatsapp dari Ayu.

Cepat-cepat Naira menelepon Ayu.

"Ada apa , Yu?"

"Lo ke La Luna gak?"

"Enggak. Tadi siang udah. Badan capek banget nih..."

"Ya udah. Stay at home aja ya, Lo. Gue ntar malem ke rumah Lo. Bawa seseorang."

"Siapa?"

"Udah deh.. Lo di rumah aja sambil dandan"

"Resek kamu, Yu"

"Okay... See you later"

Telepon ditutup.

Banyak tanya di benak Naira tapi ia tidak ingin memikirkan apapun. Dalam hatinya ia masih khawatir apa yang terjadi dengan Fikri. Ia terburu-buru pergi bersama Bagas tanpa memberi penjelasan. Ia pun telah menelepon Bagas berkali-kali namun tidak ada jawaban. Betapa ia sangat mengkhawatirkan Fikri.

"Ra... Bunda mau pergi ya..."

Panggilan Bunda menyadarkan lamunannya.

Lihat selengkapnya