Aroma secangkir Espresso melekat kuat di udara dan berpadu dengan harum parfum seorang laki-laki berkaus hitam yang sedang memegang sebuah buku. Kali ini bukan The Alchemist, tapi sebuah buku karya Orhan Pamuk yang lain. Meja yang ia duduki biasanya penuh. Ia memutuskan untuk duduk di sini, di sebuah tempat yang ia tidak tahu jika jam segini akan ada seseorang yang siap merebutnya.
"Mas Bagas kan udah tahu kalo jam segini di sebelah situ adalah meja khusus buat saya. Kenapa ada yang duduk di sana malah dibolehin sih?"
Perempuan berkepang dua itu marah-marah.
"Ya Ampun, Ra. Ini saturday night dan kafe lagi rame. Gak ada tempat. Im so sorry"
"Ya emang biasanya rame kayak gini kan, mas. Tapi Naira selalu dapet tempat di sana. Ini sebentar lagi matahari udah turun. Nanti Naira telat"
Bagas menerima berupa-rupa pelanggan. Tapi Naira adalah pelanggan yang unik. Ia mau setiap hari datang di kafe ini di jam yang sama hanya untuk melihat senja. Ya. Senja. Sesuatu yang terdengar aneh namun benar-benar terjadi.
Pernah suatu ketika ia ditanyai oleh Bagas, si pemilik kafe. Jawabannya selalu sama. Senja akan berbeda setiap hari. Persis seperti suasana hati yang selalu berganti setiap hari, katanya. Dan baginya, perbedaan tiap harinya adalah indah.
Setelah menerima secangkir Teh Chamomile favoritnya, Naira menuju meja itu dan siap untuk mengusir siapapun yang rela merebutnya.
"Permisi. Ini meja saya", katanya dengan nada ketus.
Yang diajak bicara hanya diam dan meliriknya sebentar.
"Permisi. Saya bicara dengan anda"
Kali ini Naira mengambil buku yang sedang dibaca laki-laki itu.
Mata lelaki itu berhenti tepat di bola mata Naira. Tatapan tajam itu agaknya membuat nyali Naira sedikit menciut. Ia mengenali mata biru itu. Ia pernah bertemu dengan mata sejenis itu.
"Kamu..."
Naira kaget.
"Ini tempat umum. Saya bebas duduk di mana saja"
Lelaki itu bersuara.
"Kakak temennya Abang kan?"
Lelaki itu hanya mengernyitkan dahi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Sebelumnya Kakak harus tahu kalo setiap jam 5 sore...setiap hari...tempat ini enggak boleh ada yang dudukin. Tempat ini khusus buat aku"
"Ini tempat umum dan saya bebas duduk di mana saja"
Meski nadanya mengancam namun si lelaki tetap berdiri dan bersiap meninggalkan meja itu. Naira yang tetap berdiri di sana seperti ingin mengumpat saja. Ia ingin laki-laki itu minta maaf. Tapi ia juga berpikir jika perkataan laki-laki itu tidak sepenuhnya salah. Ini adalah tempat umum. Siapa saja boleh duduk di sana.
Sebelum laki-laki itu benar-benar pergi, Naira berubah pikiran.
"Sebentar"
Laki-laki itu berhenti namun tetap tidak menoleh.
"Kakak boleh duduk di sini"
"Kenapa?"