Pelangi Senja dalam Renjana

Noura N
Chapter #5

BAGIAN 4 - PERMULAAN

Senja keesokan harinya kembali ia datangi. Naira menyapa Bagas yang sedang meracik kopi untuk seseorang yang mengantre di depannya. Naira memainkan vas bunga yang penuh dengan kelopak-kelopak lili menyembul dari dalamnya, yang terletak persis di atas meja kasir. Setelah orang itu pergi, Naira menghampiri Bagas lebih dekat.

"Mas Bagas kenal dengan laki-laki yang kemarin duduk di tempatku melihat senja?", tanya Naira.

Bagas hanya tersenyum lalu membalas,

"Kenapa? Naksir ya?"

Sebuh tinju ringan mendarat di lengan Bagas.

"Enak aja. Dia orang aneh, Mas. Bukan orang asing sih sebenarnya....dia teman Abangku. Tapi dia kayak alien. Kata Abang, dia gak pernah mau nongkrong sama temen-temennya. Padahal udah jelas-jelas sahabatan sama Abang tapi jarang keliat nongkrong sama Abang"

Bagas kembali tersenyum.

"Dia sering kesini?"

Bagas mengangguk.

"Aku itu udah kasih ijin dia buat liat senja sama-sama tapi sikapnya cuek. Lalu pergi gitu aja. Enggak minta maaf atau sekedar say hai. Padahal dia tahu loh aku adiknya Abang"

"Lagi gak mau ngomong mungkin dia, Ra"

"Fikri itu laki-laki unik yang pernah aku temui. And you, you are such a unique girl too. Dia sebenarnya baik, Ra. Baik banget malah"

"Is it true? Soalnya Abang juga pernah bilang kayak gitu. Cuma aku gak yakin sama yang dibilang Abang. Anaknya Freak."

Bagas menggeleng dan tersenyum.

Semesta menyuguhkan kebetulan yang tidak disangk. Laki-laki yang sedang mereka bicarakan tiba-tiba muncul. Ia menyapa beberapa pegawai kedai lalu menuju meja Bagas untuk memesan kopi.

"As usual?", tawar Bagas.

Lelaki itu mengangguk. Ia kemudian menoleh ke arah perempuan yang sedang berbicara kepada Bagas.

"Kakak..."

Laki-laki itu hanya diam.

Bagas membuatkan lelaki itu secangkir Espresso seperti biasanya. Setelah menerimanya, lelaki itu pergi begitu saja mencari tempat duduk yang kosong.

"Tuh kan mas Bagas liat sendiri. Aneh kan? Aku udah nyapa loh padahal. Dan aku yang sedari tadi di sini enggak dilirik sama sekali"

Naira membuat bibirnya mengerucut.

Bagas hanya tertawa dan menyerahkan secangkir Teh Chamomile kepada Naira.

“Dasar bocah”, ledek Bagas.

Naira segera menuju mejanya. Diam-diam ia memperhatikan laki-laki yang saat ini sedang duduk di meja paling ujung. Posisinya yang membelakangi Naira membuat gadis berkepang dua itu dapat leluasa memperhatikannya.

“Cowok ini bikin penasaran. Aneh. Freak. Gak jelas”, batin Naira. Ia kemudian beralih kembali melihat kaca jendela. Semburat jingga di sana nampak bagus sekali. Ia belum pernah melihat senja seindah itu. Bias jingganya bercampur dengan biru yang perlahan berganti menjadi abu. Masih ada titik-titik putih yang memberikan warna di antaranya. Naira tersenyum. Kemudian ia mengalihkan pandangannya kepada lelaki itu. Ia kembali tersenyum.

Tidak beberapa lama, lelaki itu pergi. Naira yang tersadar dari lamunannya kemudian bergegas berdiri dan bermaksud mengejar laki-laki itu keluar kafe. Diam-diam ia mengikuti di belakangnya. Motor sport hitam itu terparkir di dekat sepeda gunungnya. Ia berjalan menuju tempat sepedanya diparkir dengan berpura-pura tanpa melihat ke arah lelaki itu.

Sejenak lelaki itu berhenti ketika menyadari gadis berkepang dua itu mendahului langkahnya. Ia kemudian memperhatikan gadis yang sudah berjalan di depannya itu. Lalu, ia mengambil posisi duduk di bangku parkiran tak jauh dari motornya. Ia mengeluarkan batang rokok dari sakunya. Ia menghisapnya dalam-dalam.

Sementara itu, Naira melajukan sepeda gunungnya keluar halaman La Luna. Ia merasakan debar yang tak biasa di dadanya. Namun dalam hati ia juga mengumpat,

“Cowok Freak, kan. Sengaja banget”.

---

Hari itu Ryan membawa Anggi ke rumah. Bunda pengen ketemu Anggi, katanya. Setelah menemani Bunda memasak untuk Makan Malam, Anggi duduk berdua dengan Ryan di teras.

Naira baru saja memarkirkan sepeda gunungnya di garasi. Ia melihat kakaknya sedang bersama perempuan di teras. Ia berlari ke arah mereka berdua.

“Ngapain kakak ke sini?”

“Ra. Dateng-dateng main nyolot aja. Salam dulu apa”

“Abang ngapain bawa cewek ini ke rumah?”

“Ya kan Bunda yang minta. Kita mau Dinner bareng sama Bunda. Sama kamu juga”

Lihat selengkapnya