Fikri memasuki rumah berpagar putih itu dengan hati-hati. Halamannya yang luas mengingatkannya saat bermain petak umpet bersama Rhein, adiknya. Ada pohon mangga yang di bawahnya terdapat ayunan yang terbuat dari ban bekas buatan Eyang Kakung bertahun-tahun yang lalu. Fikri masuk melewati setapak yang rerumputnya seperti dipotongi setiap hari. Saat itu sudah berupa senja di hari berikutnya. Perjalan tujuh belas jam yang ditempuh Fikri sungguh sangat menguras tenaganya. Ia langkahkan kakinya hati-hati. Dari remang lampu ruang tamu yang berwarna kuning ia tahu jika ada seseorang duduk di sana. Ia Ada Paklek Karmin, pembantu setia Eyangnya yang merawat rumah ini pasca meninggalnya Eyang Putri setahun yang lalu. Karena Mama Fikri adalah anak tunggal di keluarga itu, praktis tidak ada lagi yang mewarisi segala kenangan di rumah ini setelah keputusan Papanya untuk membawa mereka semua tinggal di Jakarta.
Lelaki yang kelihatan lebih tua dari ayahnya itu menyadari kedatangan Fikri. Ia berdiri dan membuka pintu dengan terburu-buru.
“Mas Fikri kok ndak bilang dulu kalau mau ke sini?”
“Assalamualaikum, Paklek... Maaf mengagetkan Paklek.”
“Waalaikumsalam. Mari sini saya bantu bawa tasnya”
Ransel berisi logistik pendakian itu diangkat Paklek Karmin dan dibawanya menuju kamar tengah, kamar milik Eyang.
“Saya mau ke Semeru, Paklek. Ini saya mampir menginap. Besok pagi saya berangkat”
“Nanti mas Fikri istirahat di kamar Eyang saja. Kamar Eyang selalu bersih. Ngapunten, kamarnya mas Fikri saya pakai. Lalu kamarnya Mbak Ambar belum saya bersihkan”
“Ndak apa-apa, Paklek. Saya mampir cuma semalam. Kemungkinan setelah dari semeru saya langsung balik Jakarta”
“Mas Fikri menginap di sini lama juga ndak papa. Lha wong ini rumahnya mas Fikri sendiri. Sudah lama Mas Fikri ndak main ke sini. Saya saja kaget Mas Fikri ada di sini sekarang”
Fikri tersenyum.
“Saya tinggal ke belakang dulu ya, Mas. Mau buatkan Mas Fikri minum”