Pelangi Senja dalam Renjana

Noura N
Chapter #9

BAGIAN 8 - LUKA BARU

Malam itu Fikri tertidur di kamar orangtuanya. Pintu dibiarkan terbuka dan lampu masih tak menyala. Fikri tertidur saat ia duduk di sebuah meja kayu yang menghadap ke jendela. Dari sana ia bisa melihat bulan sedang bertengger indah di langit malam. Ia teringat masa kecilnya di sana. Saat ia menemani Mamanya bekerja menulis naskah yang esok harus dikirim ke editor. Saat ia memangku Rhein sambil membaca buku dan melihat bulan. Saat Papanya tidak ada jadwal pulang ke Malang.

Fikri tertidur di sana hingga dini hari ia dibangunkan oleh paklek Karmin dan diajak untuk kembali ke kamar Eyang. Setelahnya, ia merasa jika memejamkan mata adalah sesuatu yang sulit. Ia kemudian berbaring dan memandang langit-langit kamar. Berupa-rupa bayangan muncul di sana. Canda tawa Rhein, Mama, Eyang dan tentunya Papa. Kemudian berganti dengan gambaran perjalanannya ke semeru saat itu. Kemudian puluhan panggilan di ponselnya saat perjalanan pulang dari Semeru. Hingga berhenti pada sebuah makam bertuliskan “Rheinata Renjana”.

Fikri mengacak rambutnya. Ia berteriak dalam hati. Ia merasa tidak bisa menjaga adiknya sendiri. Lantas kemudian ia berfikir jika dengan menjaga adiknya sendiri adalah sebuah kegagalan, pantaskah ia untuk menjaga orang lain? Tiba-tiba wajah Naira berhenti di depan matanya.

Malam itu telah pergi. Kicau burung peliharaan paklek Karmin sahut-sahutan menyambut pagi. Setelah menyecap sedikit kopi pahit yang dihidangkan oleh Paklek Karmin, Fikri membersihkan sepatu The North Face Chilkat 400 miliknya yang berdebu karena perjalanannya kemarin. Kemudian, ia sandingkan sepatu yang telah bersih itu ke samping tas ransel yang baru saja ia ambil dari kamar.

“Mas Fikri berangkat jam berapa?”

“Habis ini langsung berangkat saja, paklek”

“Ndak main-main dulu di sekitar sini, mas?”

Fikri hanya menggeleng atas pertanyaan paklek Karmin.

“Nanti mas Fikri bawa motor saya saja”

“Ndak usah, paklek. Terimakasih. Saya pengen naik angkot saja ke Pasar Tumpang”

Paklek Karmin hanya mengangguk. Fikri mewarisi keteguhan hatinya. Keras kepala dan idealismenya terhadap suatu hal.

“Oya, mas Fikri nanti setelah ke Semeru mampir ke sini lagi kan?”

Sepertinya, pertanyaan itu sudah pernah ditanyakan sebelumnya. Namun Fikri tetap menjawabnya dengan senyum.

“Mboten, paklek. Saya langsung ke Jakarta. Saya ndak bisa meninggalkan Mama terlalu lama”

Paklek Karmin masuk ke dalam kamar yang ia tempati kemudian keluar kembali dengan membawa sebuah buku bersampul abu-abu.

“Ini nanti ketika sampai di Jakarta bisa mas Fikri buka”

“Ini apa, paklek?”

“Nanti mas Fikri akan mengetahuinya. Titip salam saya ke mbak Ambar ya?”

Fikri kemudian memasukkan buku itu ke dalam ransel milinya. Ia kemudian memakai sepatunya dan melingkarkan tas ke pundaknya.

“Nanti saya sarapan di luar saja, paklek. Saya lagi pengen sarapan pecel di Klojen”

Paklek Karmin mengangguk dan berdiri memeluk Fikri. Ada kehangatan berbeda yang dirasakan oleh Fikri. Kehangatan itu tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Pun begitu dengan paklek Karmin. Ada rindu yang seakan tumpah dan ingin disambut dengan suka cita. Namun ia tahu jika itu tidaklah mungkin. Ia tahu jika waktu yang ia nantikan itu belum saatnya tiba.

Fikri melangkahkan kakinya keluar. Sekali lagi ia menoleh ke rumah itu. Ia ingin mengucapkan salam perpisahan. Namun seperti ada magnet yang manriknya untuk tetap masuk dan mengunci semua jalan keluar.

Lihat selengkapnya