Pelangi Senja dalam Renjana

Noura N
Chapter #10

BAGIAN 9 - BELAJAR MERELAKAN

Adakalanya kita harus belajar untuk merelakan disaat kita diharuskan untuk menerima suatu hal. Begitupun dengan Fikri. Ia diharuskan untuk menerima kenyataan jika ada rahasia masa lalu yang telah disimpan rapi. Yang mana rahasia itu telah membuatnya harus belajar untuk merelakan jika Papa memang benar adalah orang lain. Di ruangan tiga kali empat yang sejatinya dipakai Bagas sebagai gudang itu, Fikri duduk terpekur sembari memegang buku milik paklik Karmin. Sesekali matanya menerawang ke arah jendela gudang yang langsung berhadapan dengan bagian gedung La Luna, tempat Naira biasa duduk.

Fikri menyadari jika memang tidak ada seratus persen dalam dirinya yang menyerupai Papa. Pun begitu dengan dirinya dan Rhein. Ia sekarang paham mengapa Papa begitu mencintai Rhein dan terlihat kurang memperhatikannya. Ternyata buku itu menjawab segalanya. Fikri bukan anak kandung Papa.

Sesekali ia melihat ke arah jendela. Ada rindu yang tiba-tiba muncul. Senyum gadis berkepang dua itu membuatnya lupa sejenak tentang pelik yang baru saja ia dapat. Ia kemudian berpikir jika tidak ada salahnya untuk membuka diri kepada orang lain. Setidaknya ia akan menemukan tempat untuk meluapkan segala resah. Namun ia tidak percaya diri. Ada kesalahan yang lagi-lagi membuatnya merasa tidak mampu. Ia sangat mencintai adiknya, Rhein. Namun ia merasa jika ia bukanlah laki-laki penjaga yang baik. Apalagi jika sekarang ia tahu bahwa mereka berdua terlahir dari ayah biologis yang berbeda. Tiba-tiba ia sangat membenci Mama.

Dalam hatinya ia geram. Mama yang selama ini ia bela atas segala sikap dan perilaku Papa justru ternyata adalah biang keladi dari segala permasalahan yang ada. Kemudian ia berpikir jika Papa hanyalah korban dari keegoisan Mama. Setelah itu ia seperti menyesal atas dilahirkannya ia di dunia ini. Ia berandai jika saja cerita cinta paklik Karmin dan Mamanya tidak ada. Lalu ia berpikir untuk membenci paklik Karmin. Betapa pengecutnya laki-laki yang ternyata Ayah kandungnya itu bersikap. Ia laki-laki tapi mengapa sebegitu tunduknya pada keegoisan Mama?

Fikri mengusap wajahnya lalu membenamkannya di bantal bludru yang telah disiapkan Bagas untuknya. Ia berteriak dalam hati, mengepalkan tangan dan berharap segalanya pergi.

---

“Abaaaaang...Kak Anggiiii...Naira bakalan kangen kalian”

Bis besar sudah disiapkan pihak sekolah untuk membawa Rombongan siswa yang akan melaksanakan kegiatan PKL di Jogja. Hari itu Bunda sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jadi Ryan dan Anggi yang bertugas mengantarkan Naira sampai ia berangkat.

“Nanti gak usah sering-sering telfon. Ribet”

“Haduh. Bang Ryan itu ya... Berasa Naira ini benalu banget ya. Ditinggal Naira sebulan pasti happy. Pake gak mau ditelfon segala juga”

“Emang. Dan gue bebas pacaran tanpa ada lo yang ngintilin gue kemanapun”

“Rese emang punya abang satu ini”

Naira manyun. Anggi tertawa melihat itu.

“Naira telfon kak Anggi aja. Nanti biar kakak yang jadi informan tunggal tentang apa saja yang dilakuin Bang Ryan”

Lihat selengkapnya