“Hai Bundaaaa.....”
Lengkingan suara Naira begitu memekikkan telinga saat mendapati nomor telepon rumahnya terpampang jelas di layar ponselnya.
“Aduh anak Bunda...keras banget suaranya...”, ujar Bunda dari seberang.
“Maaf, Bunda. Naira kangen... Bunda gak pernah telepon Naira”
“Lha Bunda juga nungguin telepon dari kamu. Ini sudah hampir dua minggu loh kamu di Jogja. Bertahan banget ya enggak hubungi Bunda”
“Kan gak boleh sama Abang. Jadi Naira mau tunjukin kalau Naira bisa survuve di sini sendirian”
“Oh ya? Bagus dong anak Bunda”
“Abang kemana, Bund? Lagi pacaran ya?”
“Sudah gak usah gangguin Abang kamu. Gimana jogja? Seru magangnya?”
“Seru banget, Bunda. Naira jadi banyak temen di sini”
Naira bercerita panjang lebar tentang segala yang ia alami di Jogja kepada Bundanya di Jakarta. Saking lamanya ia berbicara di telepon, ia tidak menyadari jika Ayu sudah mematung berdiri di sampingnya.
“Eh Bunda udahan dulu ya. Ini ada Ayu”
“Oke sayang. Salam buat Ayu ya... Take Care di sana. Bunda sayang Naira”
“Naira juga sayang Bunda..”
Telepon itu kemudian ditutup.
“Eh, Ra. Lo jangan kemana-kemana ya..”
“Emang kenapa?”
“Barra dateng. Gue mau keluar. Katanya nanti mas Bima ke sini. Lo jangan kemana-kemana”
“Emangnya mas Bima cari siapa? Aku atau kamu?”
“Ya kamu lah... Makanya jangan kemana-kemana”
“Emang ngapain mas Bima ke sini?”
“Bawel lo. Gak peka banget”
“Nah mas Bima sendiri kenapa cerita ke kamu kalo dia mau ke sini? Enggak langsung whatsapp aku aja..”
“Lo tuh emang cupu atau pura-pura bego sih? Udah jelas mas Bima itu naksir sama lo, Ra. Lo gak peka banget jadi cewek”
“Hah Naksir? Ngaco kamu, Yu”
Naira berdiri dari ranjangnya dan berjalan menuju nakas di ujung kamar. Ia meraih sebuah buku dan dibawanya menuju teras depan.
“Eh ada Barra. Udah lama?”
“Iya, Ra. Gue bawa Ayu dulu ya. Gak sampek malem kok”
“Sampek pagi juga gak masalah kan, Ra?”, sahut Ayu dari belakangnya yang sudah bersiap mengalungkan tas di lengannya.
“Terserah...”
Ayu dan Barra tertawa bersama.
Hari ini hari sabtu. Hari sabtu dan minggu adalah hari libur kantor untuk anak magang. Sebenarnya Naira bisa saja minta jemput Bunda atau Ryan untuk pulang ke Jakarta. Toh di awal keberangkatan Bunda sudah membicarakan tentang itu. Tapi kali ini Naira ingin membuktikan jika ia bukan lagi gadis manja yang kemana-mana harus bergantung pada Bunda dan Abangnya. Percakapannya dengan Ayu waktu itu benar-benar ia pikirkan. Sudah saatnya ia membuka diri untuk pergaulan yang lebih luas. Apalagi tahun depan ia sudah lulus SMA. Ia ingin melanjutkan kuliah di tempat yang jauh dari Bunda dan Abangnya.
Masih dalam keadaan melamun, tetiba Naira dikagetkan oleh seseorang yang sudah berdiri di depannya. Naira tersentak. Ia menggeser kursinya dan berdiri.
“Mas Bima?”
“Pagi, Ra...”
“Pagi, Mas....”
“Sorry ya saya ndak bilang dulu kalau mau kesini”