“Naira...”
Panggilan itu membuatnya membalikkan badan. Naira sedang ada di lobby saat suara itu terdengar dari belakang.
“Pulang sendiri?”
“Iya, mas. Ayu masih lembur tugasnya. Saya duluan soalnya mendadak perut melilit”
“Kamu tadi gak makan siang?”
Naira menggeleng.
“Aduh, Ra... Bandel juga ya kamu. Jauh dari orang tua seharusnya kamu bisa jaga diri kamu sendiri”
Naira hanya melengkingkan senyum.
“Lalu kamu mau pulang sama apa?”
“Bus Trans Jogja”
“Sama saya saja, Ra. Kalo ada apa-apa di jalan bagaimana?”
“Enggak akan ada apa-apa, Mas”
“Sudah.. Sama saya saja. Yuk”
Bima merangkul bahu Naira yang kali ini tidak ditepisnya. Sepertinya Naira mulai merasakan nyaman.
Mobil Bima melaju pelan. Dari balik kemudi ia melihat ke arah Naira.
“Masih sakit, Ra? Makan dulu yuk..”
“Enggak usah, Mas. Nanti delivery saja di kosan”
“Udah..kita makan aja dulu. Mumpung di luar. Nanti sampai kos kamu langsung istirahat saja”
Akhirnya Naira mengangguk.
Mobil Bima berhenti di tempat parkir Pendopo Lawas. Untuk kedua kalinya Naira datang ke tempat ini. Dan untuk kedua kali pula Bima membersamainya.
“Mas Bima suka banget ya ke sini?”
“Ya. Hampir setiap hari”
“Oh ya? Ngapain?”
“Ya makan lah, Ra. Kamu kok lucu”
Bima tertawa. Mereka mencari tempat duduk yang kosong dan kebetulan yang kosong adalah tempat yang Naira tempati sebelumnya.
“Loh dapet tempat ini lagi”
Naira tertawa.
“Naira punya tempat spesial loh, Mas di Jakarta. Tempat duduknya juga spesial. Harus Naira yang duduk d sana. Enggak boleh ada orang lain”, lanjutnya. Sepertinya Naira benar-benar merasa nyaman dengan orang baru itu sehingga menyebut namanya di depan Bima sudah bukan lagi menjadi sesuatu yang aneh.
“Spesial? Lalu?”
“Ya. Naira suka dateng ke sana jam lima sore setiap hari. Cuma buat apa coba? Cuma bisa lihatin senja”. Naira tersenyum dan memandang ke langit luas.
“Lalu, enggak di Jakarta kamu masih suka liat senja?”
“Masih lah... Tiap jam lima Naira selalu lihat langit dari jendela kos-an. Kalo lagi kangen Bunda atau Abang, Naira selalu bilang pada diri Naira sendiri kalo Naira harus tenang. Karena Naira dan mereka masih tetap lihat langit yang sama”
Naira melengkungkan sabit di bibirnya. Bima menelan ludah. Betapa manisnya senyum gadis ini. Kali ini Bima juga menyadari jika dibalik sikap manja Naira ada sisi lain darinya yang menyenangkan.
“Hei. Mas Bima ngelamun. Kita jadi makan?”
“Iya lah... Saya ke sana dulu ya.. Kamu mau ikut?”
“Enggak, Mas. Naira di sini aja. Naira pesen kayak yang kemaren ya...”
“Siap”
Bima menuju angkringan tempat menu-menu makanan dan minuman tersedia. Setelah mengambil menu-menu pilihannya ia menuju ke tempatnya duduk dan mempersilahkan Naira makan.
“Ayo dimakan. Biar gak sakit perut”
Lagi-lagi Naira tersenyum.
“Kamu kenapa suka Teh Rosella, Ra? Saya lihat dari kemaren kamu pesan itu. Lalu pas kita ke Taman Sari juga kamu minumnya itu”
“Sebenernya bukan Rosella sih, Mas. Naira suka Teh. Khususnya Chamomile. Nah di sini Naira belom nemu Chamomile. Nemunya Rosella. Ya udah”. Kepolosan Naira membuat keduanya tertawa.
“Balik lagi ke tempat spesial itu. Sambil lihat senja, Naira pesennya selalu aja Teh Chamomile. Sampai yang punya cafe bilang Naira disuruh belajar minum kopi”. Kali ini tawa Naira melengking.
“Kamu mau saya kenalkan jenis-jenis kopi?”
Naira kembali tertawa.
“Enggak usah repot-repot, Mas. Naira takut hidup Naira jadi pahit kayak kopi”. Tawa itu kembali terdengar.