Sepeninggalnya dari tempat itu, Fikri hanya diam, menatap ke depan dan mengemudikan mobilnya tanpa kata. Setelah mengikuti mobil mamanya pulang, ia kembali menuju La Luna dan mengembalikan kunci mobil Bagas ke tempat semula. Meski banyak tanda tanya, Bagas diam saja dan membiarkan Fikri pergi sesukanya.
Pertemuannya dengan Mama tidak menghasilkan apapun. Hanya tangis yang ia dengar. Berkali-kali permintaan maaf Mama terdengar. Buku itu hanya dipeluk Mama hingga lusuh. Setidaknya, yang bisa ia simpulkan adalah cerita di dalam buku itu adalah benar, buka hanya imajinasi seorang perempuan berusai belasan. Meski Mama tidak mengatakan apapun, namun tangisnya sudah menjawab sebuah penyesalan, mengabarkan jika ada hati yang pernah tersakiti dan ada nyawa yang pernah ia coba gugurkan.
Ya. Pernikahan Mamanya dengan Paklik Karmin adalah sebuah mimpi buruk yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Kebiasaan mereka berdua yang selalu bersama menimbulkan benih cinta itu muncul. Padahal Mama telah berhubungan dengan Papa selama Papa melaksanakan KKN di tempat Mama tinggal. Keegoisan Mama yang membuat segalanya terjadi. Mama tidak bisa melepaskan Papa yang mencintainya dan menjanjikan berupa-rupa warna untuknya. Namun, dalam hati ia juga menyadari jika Paklik Karmin adalah cinta sejatinya.
Fikri melemparkan bantal di sampingnya setelah kembali membaca beberapa bagian di buku itu. Ia membenci paklik Karmin yang terlalu lemah ketika tidak bisa membela cintanya. Ia meminta Mama untuk menggungurkan janin yang di kandungnya dan bersedia merelakan Mama menikah dengan Papa. Laki-laki macam apa dia sehingga tidak bisa mempertahankan yang ia punya?
“Aaaarrrgh”.
Fikri berteriak. Ia keluar dari gudang dan menuju arah kafe. Daun pintu ia lempar dengan keras. Bagas yang saat itu sedang akan mengambil stok bahan di gudang terperanjat kaget. Namun ia diam. Ia menunggu kapan Fikri berbicara.
---
Di meja itu ia meneguk secangkir espresso pekat yang sengaja ia minta untuk ditambah takaran kopinya menjadi dua kali lipat agar mendapatkan intensitas double shot yang kuat. Ia memaki dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi. Bagaimana bisa janin yang hampir saja digugurkan itu kini masih hidup dan bermetamorfosa menjadi dirinya. Fikri membenamkan wajahnya di meja. Ia kalut.
Ponselnya beberapa kali berbunyi. Dari Ryan. Fikri baru menyadari jika sudah beberapa hari ini dia tidak masuk kampus, tidak bergaul dengan teman-temannya dan tidak menjamah ponselnya. Ia letakkan ponsel itu di meja. Ia biarkan ponselnya berhenti berdering dengan sendirinya.
Tiba-tiba matanya menuju ke arah meja yang biasa diduduki Naira. Ada kerinduan yang sulit ia terjemahkan. Namun segera ia tepis. Ia sedang tidak ingin memikirkan apapun selain kisah pahit kehidupannya.