Matahari seperti enggan bertengger di Minggu pagi yang sebenarnya menyenangkan ini. Membuat Naira dengan semangatnya bersembunyi di balik selimut tebal berwarna abu-abu di ranjang kamarnya. Ryan sudah menggedor pintu kamar Naira berkali-kali. Pun begitu dengan Bunda. Tapi Naira tetap setia bertahta di atas ranjangnya. ponselnya berdering berkali-kali hingga sebuah panggilan terakhir ia terima dengan mata yang masih terpejam.
"Apa sih, Bang gangguin Naira tidur aja"
"Ngapain pintu dikunci segala. Ayo bangun. Jam berapa sekarang? Bukannya kamu udah janjian sama Bu Rahma untuk kasihkan buku-buku buat anak-anak? Sekalian janji kasih cerita ke mereka kan tentang Jogja?”
“Ya Ampun Naira lupa”
Naira langsung berdiri dari ranjang dengan ponsel di telinga dan membuka pintu kamarnya.
“Udah lama ya, Bang? Jam berapa?”
Naira paham jika sampai Bunda atau Abangnya menelepon padahal mereka dalam satu rumah berarti Naira sedang dalam tempo terlambat yang sangat terlambat.
“Abang sama Bunda udah siap pergi. Nah kamu masih belum mandi. Di luar mendung juga. Takut keujanan nanti”
“Abang nganter Bunda dulu aja nanti balik jemput Naira lagi”
Senyum Naira membujuk Ryan.
“Ogah. Jauh. Ribet. Kalo mau bareng ya sekarang gak pakek lama langsung berangkat. Atau mau ditelponin ojek online aja gimana? Taksi online?”
Naira melirik jam di kamarnya. Pukul sembilan. Pasti Bunda sudah ditunggu teman-teman arisannya. Kalau ia mandi pasti akan butuh waktu lama lagi buat Bunda dan Abangnya menunggu.
“Ojek online aja deh”
“Really?”
“Iya Abang Bawel....”
“Ujan loh nanti...”
“Masih nanti kan... Sekarang belom.”
“Really?”
“Tanya lagi...”
“Mau keujanan?”
“Helloo.... Ini belom ujan, Abang... Lagian Naira pernah loh pulang kantor malem-malem pakek tukang becak keujanan pula”
Ryan terbahak dengan keras.
“Iya lupa kalo Abang punya adek yang udah gedhe. Strong juga. Ya udah Abang berangkat ya...”
Ryan kemudian mengusap kepala adeknya itu dan berbalik meninggalkan pintu kamar Naira.
“Jangan lupa sarapannya di meja ya, sayang.... Nanti kabari Bunda kalo udah sampek Bu Rahma. Paket Nasinya nanti Bunda anter dulu aja. Kamu bawa bukunya aja ya”, kata Bunda menghampiri Naira yang masih mengucek matanya.
“Ya, Bunda.....”, jawabnya lirih.
Jatah bulanan Naira adalah pergi ke sebuah sanggar milik Bu Rahma, teman kuliah Bunda. Bu Rahma mengelola itu swadaya bersama suaminya dan juga masyarakat sekitar. Sanggar yang mayoritas diisi oleh anak-anak jalanan di sekitar tempat itu merupakan tempat asik bagi Naira untuk berbagi. Ia membagi banyak sekali buku lama maupun baru yang sengaja ia simpan untuk mereka. Selain itu ia juga membawa makanan. Seringnya adalah masakan Bunda.
Naira pergi ke tempat itu setiap Sabtu Sore bersama Ryan. Namun karena ia masih capek setelah kepulangannya dari Jogja, maka ia sepakat pergi ke sana Minggu pagi bersama Bunda dan Abangnya. Kebetulan Bunda juga akan mengikuti acara Arisan dengan teman-temannya yang sejalan dengan arah Sanggar. Namun keterlambatannya membuatnya harus pergi sendiri dengan naik ojek.
---
Motor tukang ojek itu berhenti di sebuah rumah kayu yang berhalaman luas. Ia turun dari motor itu dan membawa dua tas kain yang berisi buku-buku. Ransel di belakang punggungnya bergoyang seiring langkahnya ke depan dan rambut yang tetap di kepang dua itu ia biarkan bergerak seiring langkah kakinya berjalan.
Setelah menyapa Bu Rahma dan memberikan dua tas berisi buku iku kepada Bu Rahma, Naira segera menuju belakang rumah tersebut dan menuju saung-saung yang berjajar di sana. Ada beberapa relawan yang biasa mengajar di setiap Minggu pagi. Hal ini merupakan sesuatu yang baru bagi Naira karena biasanya setiap Sabtu sore ia ke sana hanya sekedar memberikan buku dan mengobrol santai di saung-saung tersebut karena bukan waktu pembelajaran.
Naira mengamati tiap saung sembari menunggu pembelajaran usai di bawah sebuah pohon di ujung halaman belakang. Dari tiga saung yang ada, matanya berhenti di saung kedua. Sepertinya ia mengenal sosok itu. Seorang laki-laki yang sedang menuliskan beberapa kalimat dalam bahasa inggris di papan tulis. Ketika laki-laki itu turun dari saung untuk mengambil air minum di bawah tangga, Naira semakin yakin jika pandangannya tidak salah.
“Hah, Kak Fikri ngapain di sini?”
Naira bertanya dalam diam. Ia kemudian kembali mengamati laki-laki itu sampai pembelajaran di saung selesai. Naira belum beranjak dari tempatnya duduk saat anak-anak itu menyadari kedatangan Naira dan berlari ke arahnya. Mereka mengelilingi Naira dan memeluknya. Mereka seperti melepas rindu karena sudah satu bulan tidak bertemu dengan Naira. Laki-laki yang menjadi perhatian Naira itu menyadari sesuatu. Ada perempuan yang sedari tadi duduk di ujung dan sekarang dikelilingi oleh anak-anak itu. Belum ia beranjak menghampiri, Bu Rahma yang sedang berjalan ke arahnya kemudian bersuara,
“Itu Naira. Keluarganya adalah donatur tetap di sanggar ini. Dan dia selalu mengirimkan buku-buku bagi mereka setiap minggu. Tapi sebulan ini dia tidak pernah ke sini karena magang di Jogja”
“Oh...”
Hanya itu yang keluar dari mulut Fikri, laki-laki yang mengajar anak-anak di saung kedua tadi.