Ryan dan Bunda datang tepat pukul lima sore. Naira tampak sebal karena kedatangan kakak serta bundanya yang jauh diluar prediksi. Mendapati anaknya yang manyun, Bunda menghampirinya dan memeluknya.
“Maaf ya, sayang... Acaranya sampai jam dua. Dan Bunda harus nemenin Tante Clara dulu ke rumah sakit. Dia kecelakaan sepulang dari Arisan. Untung Mobil kita gak jauh dari lokasi kejadian. Jadi kita tolong...temenin dulu sampai suaminya dateng”
“Tapi enggak juga dengan gak kasih Naira kabar kan, Bunda?”
“Bunda telfon kamu, sayang.. Tapi HP kamu mati...gak connect. Bunda telepon rumah juga loh. Pasti Naira gak denger. Tuh matanya masih merah...baru bangun tidur ya....”
“Kita juga gak mikir buat whatsapp kamu. Udah panik tadi....”
Naira semakin cemberut.
“Gimana di sanggar? Anak-anak seneng dengerin cerita kamu?”
Bunda merangkul anak gadisnya, mengajaknya duduk d sofa dan mengusap rambutnya. Bagi Bunda, Naira masih gadis kecilnya yang lucu meskipun tahun ini ia akan lulus SMA.
Mendengar pertanyaan Bunda, Naira teringat sesuatu. Di sanggar ia bertemu laki-laki itu. Tidak hanya bertemu, ia juga diantarkan pulang dan....
Ups. Hampir saja Naira membuka mulut jika ia tidak segera ingat kalau Fikri berpesan agar tidak menceritakan pertemuannya dengan Naira di sanggar.
“Tadi hujan. Gak asik banget. Hape lowbat, hujan, gak bisa pesen taksi online"
“Terus pulangnya gimana?”, tanya Ryan kaget.
“Untung ada relawan yang mau nganter. Jadi bisa pulang deh. Abis itu Naira capek banget. Terus Naira ketiduran dan bangun pas Abang dateng barusan”
“Dasar sleeping beauty.. Jam segini masih bangun. Udah mau jam enam ini.... Apa kabar senja di La Luna?”
“Ya Ampun, Abang... Jam 6 sore? Kirain pagi? Mendung banget ya di luar?”
“Hellooo..... Ini belom ganti judul harinya, adekku sayang....”
Ryan memukul bahu adiknya.
“Makanya lain kali jangan tidur sore. Begini kan akibatnya... Bunda udah bilang berapa kali? Sudah ayo mandi. Bunda juga mau mandi. Capek. Gerah.”
---
Fikri berkali-kali memutar badaannya mencari posisi yang pas untuk tidur. Namun malam itu benar-benar membuat matanya susah terpejam. Setelah siang tadi ia mengantar Naira sepulang dari sanggar, ia mendapati dirinya terus mengingat tentang gadis berkepang dua itu. Sesorean ia menunggu kedatangan Naira di La Luna namun ia tidak datang. Kata Bagas sejak kepulangannya dari Jogja, gadis itu belum sekalipun menginjakkan kakinya kembali ke La Luna. Ia hanya sempat menghubungi Bagas sekali jika ia sudah datang dan ingin segera melepas rindu dengan senja di La Luna.