Pelindung Cahaya

Sofia Nouva
Chapter #1

Prolog



Liam berguling miring di tempat tidurnya, dengan mata yang enggan terpejam. Sudah satu bulan dia berada di rumah barunya. Sebuah rumah yang mewah dan megah, sangat berbeda dengan rumah lamanya yang jauh lebih sederhana. Tetapi, tidak peduli seberapa besar dan megahnya rumah ini, tempat ini terasa asing untuknya. Dan Liam merindukan rumah lamanya. 


Namun, benarkah demikian? Baru pagi ini Liam mengunjungi tempat itu. Atau lebih tepatnya, dia hanya datang untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal. Rumah itu masih sama persis seperti sebelumnya. Tidak ada satu hal pun yang berubah di dalamnya. 


Kecuali, perasaan kosong dan hampa yang Liam rasakan, serta berbagai kenangan indah yang justru membuatnya tidak bisa bernapas. Rumah itu akan tetap ada. Tempat itu akan tetap di sana. Namun, tanpa kedua orang tuanya, rumah itu tidak lagi sama. Tempat itu hanya akan menjadi bangunan kosong, bukan lagi rumah di mana Liam ingin pulang. Jadi, Liam tahu yang sebenarnya dia rindukan bukanlah rumah itu. Melainkan kedua orang tuanya, yang kini telah tiada.


Mama, Papa! Aku merindukan kalian. Liam memeluk foto berbingkai kayu yang setiap malam selalu menemani tidurnya. Di foto itu Liam duduk diapit kedua orang tuanya, dengan sebuah kue ulang tahun berada di hadapan mereka. Dan di foto itu, mereka tersenyum bahagia.


Liam kembali mengenang momen itu. Itu adalah ulang tahunnya yang ke sembilan. Ibunya memanggang sendiri kue ulang tahunnya, dengan dekorasi mobil balap yang begitu disukainya. Saat itu, dia begitu bahagia. Dia membayangkan banyak perayaan ulang tahun yang akan dilaluinya di masa mendatang, dengan ayah dan ibunya yang berada di sampingnya. Namun ternyata, itu adalah perayaan ulang tahunnya yang terakhir bersama orang tuanya. Dan tahun ini, beserta tahun-tahun yang akan datang, Liam akan melewatkan ulang tahunnya seorang diri. Tanpa ayah dan ibunya.

Bocah laki-laki itu mengusap-usap matanya yang basah. Liam bertekad tidak akan menangis lagi. Karena dia sudah lelah menangis. Dia sudah terlalu banyak menangis. Tetapi, bulan depan adalah ulang tahunnya. Ayahnya bilang, sepuluh adalah angka yang istimewa. Angka sempurna. Namun saat ini, tidak ada lagi hal istimewa dalam hidupnya. Liam tidak peduli lagi dengan angka sepuluh, ulang tahunnya, atau apa pun itu.


Setelah beberapa saat, Liam menyingkap selimut dan turun dari tempat tidur. Bocah itu mengamati kamarnya yang luas. Yang dinding-dindingnya dicat dengan warna biru, yang adalah warna kesukaannya. Dan di berbagai tempat, terdapat banyak sekali mainan yang dulu hanya bisa diidamkannya. Namun kini saat Liam memiliki semuanya, dia tidak lagi menginginkannya. Liam rela menukar semua itu hanya agar kedua orang tuanya kembali ke sisinya. Kembali ke kehidupan mereka yang sebelumnya, yang sederhana namun bahagia. 


Seandainya kecelakaan itu tidak merenggut kedua orang tuanya. Juga adik bayinya, yang masih berada dalam kandungan ibunya. Maka, saat ini mereka masih akan tetap bersama. Namun tidak peduli seberapa besar keinginan Liam untuk bersama kedua orang tuanya, mereka tidak akan pernah kembali. Keduanya sudah pergi, meninggalkannya sendirian di dunia ini.


Liam tidak datang sendirian saat dibawa ke rumah ini. Dia datang bersama Alma, pengasuhnya. Meski kini Liam tidak membutuhkan seorang pengasuh lagi, namun keluarga barunya berpikir akan jauh lebih mudah bagi Liam untuk beradaptasi jika ada seseorang yang sudah lama dikenalnya. Jadi, sekarang Alma bekerja di rumah ini. Terlebih, dia mendengar bahwa keluarga ini akan memiliki seorang bayi, sehingga keberadaan Alma sebagai seorang pengasuh akan sangat berguna. 


Jika saja dia berusia lebih kecil, mungkin Liam sudah akan pergi ke kamar wanita itu, karena pelukan Alma selalu membuatnya merasa lebih tenang. Namun Liam sudah hampir berusia sepuluh tahun. Dia tidak ingin meringkuk seperti bocah ketakutan dalam pelukan pengasuhnya, dan merengek seperti anak cengeng. Lagi pula, ini sudah terlalu larut. Alma pastilah sudah tidur. 


Saat Liam keluar dari kamarnya, sebagian besar lampu di rumah itu sudah dipadamkan, dan Liam yakin semua orang sudah tidur. Langkah-langkah kecilnya bergema dalam kegelapan. Namun, kegelapan tidak pernah membuatnya takut. Bocah itu berjalan perlahan dan turun ke lantai bawah menuju dapur, yang sama sunyinya seperti semua bagian lain rumah itu. 


Liam membuka pintu kulkas, yang lebih tinggi dari tubuhnya. Rak pintunya penuh dengan susu kotak serta camilan kesukaannya, yang memang sengaja dipersiapkan untuk dirinya. Dan Liam mengambil sekotak susu, tepat saat seseorang memasuki dapur.


Liam menoleh dan terkesiap terkejut, begitu pula dengan wanita itu. Selama beberapa saat, Liam sempat mengira wanita itu adalah ibunya. Karena wanita itu tengah hamil besar, sama seperti ibunya saat wanita itu meninggal. Namun setelah beberapa saat, Liam sadar jika ibunya tidak akan mungkin kembali, dan wanita itu adalah orang yang sama sekali berbeda. Wanita itu jauh lebih muda, dengan rambut yang lebih panjang.


"Oh, kau belum tidur?"


Liam hanya menggeleng dan menggenggam susunya erat-erat di depan dada, sembari menatap wanita itu dengan mata lebarnya. "Aku tidak bisa tidur." Jawab bocah itu lirih. Liam tidak mengatakan bahwa penyebabnya adalah karena dia merindukan ayah dan ibunya.


"Aku juga." Wanita itu tersenyum. Yang setelah mengambil segelas air, lalu menarik kursi untuk duduk. "Namamu Liam, kan? Kita belum sempat bertemu. Namaku Rosalyn."


Lihat selengkapnya