Pelindung Cahaya

Sofia Nouva
Chapter #2

1 - Derai Hujan



Evelyn melirik kedua sahabatnya yang tengah berbisik-bisik sembari terkikik. Dari kehebohan keduanya, dia yakin mereka tengah membicarakan sesuatu yang sangat menarik. Mungkin, mereka tengah bergosip tentang para pemuda tampan di fakultas mereka. Atau, mascara yang baru saja mereka beli, jika ditilik dari cara kedua gadis itu mengedip-ngedip untuk menunjukkan bulut mata mereka. Yang mana pun itu, Evelyn tidak peduli. Karena saat ini, pikirannya sedang tertuju pada hal lain.


"Huuft!" Evelyn meniup poninya yang menutupi mata, dengan tangan bersedekap dan sebelah kaki yang mengetuk-ngetuk lantai dengan tidak sabar. Langit gelap serta hujan yang tidak berhenti sejak dua jam yang lalu hanya semakin membuat suasana hatinya semakin masam.


Evelyn melihat jam tangannya entah untuk yang keberapa kali. Sudah empat puluh menit dia di sini, dan Evelyn sudah mulai bosan menunggu. Dan kesabarannya yang setipis bulu anak kucing kini sudah nyaris habis, terlihat dari seberapa seringnya dia menghela napas serta meniup-niup poninya yang sudah terlalu panjang dan perlu dipotong.


"Kurasa aku akan pesan taksi saja! Paman tidak akan menjemputku."


"Eeh, jangan!" Maggie dan Hailey, sahabat Evelyn, berseru bersamaan.


"Pamanmu pasti sudah dalam perjalanan."


"Ya, dia pasti segera datang. Jadi, tunggulah sebentar lagi!"


"Aku sudah menunggu di sini selama empat puluh menit. Empat puluh menit! Dan kurasa, pamanku tidak akan datang menjemputku!" Evelyn merogoh ponselnya dari dalam tas, berniat memesan taksi, tepat saat sebuah truk besar berwarna putih, atau lebih tepatnya yang dulunya berwarna putih, berhenti tidak jauh dari area lobby. 


Evelyn menatap truk itu dengan curiga. Sudah lama dia tidak melihat truk material bangunan yang berkeliaran di sekitar area gedung fakultasnya. Karena yang dia tahu, tidak ada renovasi atau pembangunan gedung baru belakangan ini. Jadi, harusnya tidak ada kendaraan berat semacam itu yang berkeliaran di sini.


Benar saja. Laki-laki yang bergegas turun dari kendaraan tersebut adalah seseorang yang sudah ditunggunya selama empat puluh menit terakhir. Yang kini berjalan cepat menuju lobby, dengan seringai lebar di wajahnya.


"Apa Paman tahu sudah berapa lama aku menunggu di sini?!" Evelyn bersedekap dengan bibir cemberut. 


"Ayolah, Maafkan aku. Aku langsung datang kemari begitu ibumu menelepon dan memintaku untuk menjemputmu. Aku datang secepat yang kubisa." Liam melirik kedua sahabat Evelyn. "Oh, hai. Kalian belum pulang?" 


Maggie dan Hailey saling sikut sambil tersenyum lebar saat mendapatkan sapaan tersebut. "Hai, Paman Liam!"


"Kami sedang menemani Evelyn." Hailey secara naluriah langsung membenahi ujung ikal rambutnya.


Saat kedua sahabat Evelyn menatap Liam dengan penuh kekaguman, Evelyn justru memandangi pamannya dengan penuh penilaian. Pria itu mengenakan kemeja flanel merah kotak-kotak yang kancingnya dibiarkan terbuka, sehingga menampakkan kaos putih polos di baliknya. Yang dipadukan dengan jeans belel bernoda pasir serta semen, serta boots kulit yang sama usangnya. Dan yang membuat Evelyn makin jengkel adalah, Liam masih mengenakan helm putih proyeknya, yang kini bertengger miring di atas kepalanya. Oh, dan pria itu sudah beberapa hari tidak bercukur. Sehingga pipi dan dagunya yang biasanya bersih kini berwarna keabuan karena bakal janggut.


"Tidak bisakah Paman mandi dan berganti baju dulu sebelum menjemputku?" Evelyn menatap Liam dari kepala hingga kaki. "Dan kurasa akan lebih bagus kalau Paman juga bercukur."


"Memangnya ada peraturan seperti itu? Sejak kapan? Dan aku tidak punya waktu untuk itu, dengan kau dan ibumu yang terus saja meneriakiku." Liam menggaruk dagunya.


"Ah, sudahlah. Ayo kita pulang. Di mana mobilmu?"

Lihat selengkapnya