
"Oh, syukurlah kalian berdua sudah pulang. Hujannya deras sekali dan aku khawatir." Rosalyn menyambut putri serta adik laki-lakinya, yang baru saja memasuki rumah. "Evelyn, ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Wanita itu bertanya pada putrinya, yang wajahnya terlihat kusut dan masam.
"Mama tidak akan percaya apa yang baru saja kunaiki!" Evelyn mengadu pada ibunya. "Bisa-bisanya Paman menjemputku ke kampus dengan truk pasir!"
"Apa dia memintamu naik di bak belakang?"
"Astaga, tentu saja tidak!" Evelyn mengempaskan diri di sofa.
"Kalau begitu, apa masalahnya?" Rosalyn bertanya pada putrinya, yang terlihat uring-uringan. "Kau duduk nyaman tanpa kehujanan. Pamanmu bukannya memintamu berdiri di bak belakang di atas tumpukan pasir."
"Masalahnya adalah, anak manja ini terlalu banyak mengeluh!" Liam melepas dan mengibas-ngibaskan kemejanya yang setengah basah.
"Manja? Siapa yang kau sebut manja?" Evelyn memelototi pamannya.
"Sudahlah, jangan bertengkar! Aku yang meminta pamanmu untuk menjemputmu. Dia pasti terburu-buru dan menggunakan kendaraan apa pun yang bisa digunakannya."
"Lagi pula, naik kendaraan apa pun kan sama saja. Tidak ada bedanya." Liam menyugar rambutnya yang sudah sedikit panjang.
"Tidak ada bedanya, kau bilang? Tentu saja itu berbeda!"
"Daripada bertengkar, kenapa kalian tidak makan saja? Kalian berdua pasti lapar." Rosalyn yakin, perut yang kenyang akan meminimalisir keributan.
"Nanti saja!" Evelyn berdiri dan berjalan cepat meninggalkan ruangan. "Besok-besok, Paman tidak perlu mejemputku. Kalau Paman Joseph sedang tidak bisa menjemputku, lebih baik aku pulang sendiri saja."