
Suasana begitu hening, meski lampu-lampu masih menyala terang. Di jam dan cuaca seperti ini, Liam yakin semua orang berada di kamarnya masing-masing. Evelyn bahkan mungkin sudah tidur, karena pesan balasan yang dia kirimkan untuk gadis itu setengah jam yang lalu sama sekali belum dibaca.
Hembusan udara dingin dari lubang angin membuat Liam menggigil. Dia benar-benar perlu mandi air hangat dan berganti baju, atau dia akan terkena flu. Namun sebelum itu, dia harus melihat Evelyn, untuk sekadar memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Meski mungkin saja gadis itu hanya akan marah-marah dan mengomelinya.
Tok tok tok! Liam mengetuk pintu. "Evelyn, apa kau sudah tidur?" Karena tidak ada jawaban, pria itu membuka pintu dan mengintip ke dalam.
Liam tertawa saat melihat Evelyn yang tertidur dengan mulut setengah terbuka, hingga tanpa sadar air liur mengalir ke dagunya. Gadis itu tertidur dalam posisi miring sambil memeluk ponsel miliknya, seakan Evelyn tengah menantikan kabar dari seseorang.
"Maaf, hari ini aku sibuk sekali. Kau pasti menunggu kabar dariku." Liam menyingkirkan anak rambut yang menjuntai menutupi mata Evelyn, hingga tanpa sengaja ibu jarinya yang dingin dan kapalan menyentuh pipi gadis itu.
Evelyn seketika membuka mata dan mengerjap. "Paman?" Gadis itu mengucek matanya yang mengantuk, lalu beranjak duduk. "Paman sudah pulang?"
"Maaf, aku tidak bermaksud membangunkanmu." Liam terlihat lelah, namun senyumnya tampak cerah.
Evelyn memperhatikan penampilan sang paman, yang terlihat sama berantakannya seperti sebelumnya. Bahkan sekarang, dia terlihat lebih kumal lagi. Liam masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat dia menjemputnya sore itu. Wajahnya terlihat lusuh dan lelah, dengan rambut yang berantakan. Dan celana denim serta bootsnya kini penuh lumpur. Tanpa bisa ditahan lagi, Evelyn menyuarakan semua hal yang ada di hati dan pikirannya.
"Paman dari mana saja? Kenapa baru pulang sekarang? Dan apa sulitnya bagimu untuk membalas pesan atau teleponku?"
Liam menyeringai lebar. "Apa kau mengkhawatirkanku?"
Evelyn cemberut, sebelum bersedekap dan membuang muka. "Siapa yang khawatir? Aku hanya..." Ya, apa namanya kalau bukan khawatir? Bukankah Evelyn memang mengkhawatirkan pria itu? "Lain kali, berilah kabar jika kau pulang terlambat!"
"Aku harus menunggu kiriman barang dan memeriksa semuanya, memastikan tidak terjadi kekeliruan. Jadi aku pulang terlambat."
"Dan kenapa kau tidak membalas pesanku? Atau menjawab teleponku?" Evelyn masih merasa kesal, dan jawaban sang paman tidak membuatnya puas.