
Kalau bukan karena harus pergi ke kampus, Evelyn masih akan bergelung di tempat tidurnya. Cuaca benar-benar dingin, dan tidak ada yang lebih Evelyn inginkan selain meringkuk dengan nyaman di balik selimut tebalnya.
Namun, ibunya sudah menggedor-gedor pintunya sambil berteriak sedari tadi. Sehingga Evelyn tidak punya pilihan selain menyibak selimut dan menyeret tubuhnya yang masih mengantuk ke kamar mandi. Lantai kamar mandi basah dan beraroma sabun. Itu artinya, Liam sudah bangun dan mandi, dan mungkin saat ini pria itu tengah duduk di meja makan untuk sarapan. Jadi, jika Evelyn tidak bergegas, maka ibunya akan kembali naik ke lantai atas dan menyeretnya turun. Evelyn yakin ibunya akan benar-benar melakukannya.
"Seandainya saja ini hari minggu." Evelyn bergidik saat keluar dari kamar mandi, dan disambut hembusan udara dingin yang seketika membuatnya menggigil. Evelyn menyukai hujan. Menurutnya, hujan bisa begitu manis dan romantis, dengan tetes-tetes airnya yang berkilauan bagaikan permata.
Namun meski begitu, dia tidak pernah menyukai hujan yang turun di pagi hari, dengan udara dingin yang menyertainya. Sama sekali tidak ada hal yang manis di momen seperti ini. Dan alih-alih memandangi hujan di ambang jendela dengan secangkir minuman hangat di tangannya, yang Evelyn inginkan justru menutup jendela rapat-rapat agar tidak ada sedikit pun udara dingin yang masuk.
"Oh, bagus! Akhirnya, kau bangun juga. Aku sudah hampir menyuruh seseorang untuk menyeretmu turun dari tempat tidur!" Rosalyn berkacak pinggang, saat akhirnya dia melihat putrinya turun dari lantai dua.
"Aku sudah bangun dari tadi. Tidak perlu marah-marah!" Evelyn membela diri, dan sengaja menghindari tatapan ibunya yang tengah memelototinya dengan galak.
Rosalyn sudah marah-marah sedari pagi, karena cuaca yang mendung dan dingin membuat semua orang enggan untuk bangun. Jadi dia harus meneriaki semua orang, agar tidak ada yang terlambat. "Ayo, cepat makan!"
"Sebentar lagi aku ulang tahun." Tiba-tiba Evelyn berkata, sembari menggigiti roti panggangnya. "Aku hanya mengingatkan, kalau-kalau kalian lupa."
"Bagaimana mungkin aku lupa, jika kita selalu merayakan ulang tahun di hari yang sama?" Sahut Liam, yang ulang tahunnya dan Evelyn hanya terpaut sepuluh hari, sehingga semua orang memutuskan untuk merayakan ulang tahun mereka di waktu bersamaan demi alasan kepraktisan.
Evelyn menyeringai. "Aku tahu Paman tidak pernah melupakannya. Tetapi, Papa..." Gadis itu melirik ayahnya yang duduk di seberangnya. "Aku yakin Papa pasti melupakannya, seperti yang selalu terjadi setiap tahunnya."
Juan tersedak kopinya saat Evelyn melontarkan tuduhan itu, yang memang benar adanya. "Hahaha. Mana mungkin begitu?" Juan tertawa untuk menutupi kebohongannya. Karena nyatanya dia memang tidak pernah mengingat hal-hal seperti itu, meski dia berusaha keras untuk selalu mengingatnya. "Papa sudah menyiapkan kado istimewa untuk ulang tahunmu."