Pelindung Cahaya

Sofia Nouva
Chapter #6

5 - Hadiah Ulang Tahun



"Aku sudah membuat daftar hadiahku!" Evelyn melambai-lambaikan secarik kertas panjang di hadapan Liam, sebelum mengempaskan diri di sofa di samping pria itu. "Paman ingin memeriksanya sekarang?"


Liam mengambil kertas tersebut dari tangan Evelyn dan membacanya satu per satu. Mobil, kuda poni, voucher liburan, perhiasan, gaun sutra, dan daftar itu terus berlanjut hingga ke hal-hal kecil dan remeh seperti cat kuku serta kaus kaki beruang.


"Apa-apaan ini? Astaga, daftarmu banyak sekali. Mobil? Kuda poni? Kau tahu aku tidak akan pernah memberimu hadiah semacam itu." Liam memeriksa satu per satu daftar hadiah yang sudah disusun dengan cermat oleh Evelyn.


"Tanpa kau harus mengatakannya pun, aku juga sudah tahu. Kau tidak cukup kaya untuk itu. Tapi, siapa tahu Kakek atau Papa yang akan membelikannya untukku. Lagi pula, aku kan tidak minta dibelikan semuanya. Paman bisa pilih satu atau beberapa."


Liam melirik Evelyn. "Satu atau beberapa?"


"Tahun lalu kau memberiku dua." Evelyn mengacungkan dua jari tangannya. "Jadi kurasa, tahun ini aku layak mendapatkan tiga." Gadis itu tersenyum lebar.


Liam tertawa. "Kau mau merampokku? Aku akan membelikanmu sepatu. Dan jika sampai akhir minggu ini kau tetap bersikap baik, aku akan mempertimbangkan untuk memberimu hadiah kedua. Mungkin, aku juga akan menambahkan sepasang kaus kaki beruang untuk hadiah ulang tahunmu."


Evelyn bertepuk tangan kegirangan. "Baiklah, itu cukup adil. Jadi, kapan kita bisa pergi membeli hadiahku?"


"Hari ini cuacanya cerah dan aku sedang tidak sibuk. Jadi, bagaimana kalau kita pergi sekarang saja?"


"Ya, ayo!" Evelyn menanggapi dengan bersemangat. "Beri aku waktu sebentar! Aku perlu bersiap-siap." 


Waktu sebentar yang dimaksud Evelyn adalah satu jam lebih, bukannya beberapa menit. Liam sudah berteriak-teriak dengan tidak sabar, sementara Evelyn masih mengurung diri di kamarnya dan melakukan entah apa.


"Astaga, Evelyn. Kau sedang apa? Kenapa kau lama sekali? Cepatlah sedikit, atau kita tidak jadi pergi!"


Tidak lama kemudian pintu kamar Evelyn terbuka, dan gadis itu keluar dengan wajah bersungut-sungut. "Kenapa kau sangat tidak sabaran? Aku kan butuh waktu untuk bersiap-siap."


"Aku tidak punya waktu seharian untuk menunggumu. Ayo cepat!" Liam berjalan cepat meninggalkan Evelyn, yang masih saja menggerutu.


"Kenapa harus terburu-buru? Ini kan hari minggu. Tidak bisakah kita sedikit bersantai?" Sama seperti Liam yang tidak bisa memahami wanita, begitu pula dengan Evelyn. Gadis itu sama sekali tidak paham, mengapa para laki-laki suka sekali memburu-buru waktu? Meminta para wanita untuk bergegas dan bergerak lebih cepat, seakan mereka harus mengejar sesuatu.

"Sepatu jenis apa yang kau mau?" Liam bertanya, saat mereka berjalan di antara pertokoan mall, memperhatikan barang-barang yang terpajang di dalam etalase kaca.


"Aku ingin sepasang sepatu cantik, yang akan membuatku terlihat semakin cantik!" 


"Ah, ya. Tentu saja. Sepasang sepatu cantik." Liam sudah memiliki gambaran. Sepasang flat shoes berpita, atau mungkin dengan aksen bunga-bunga. Lebih bagus lagi kalau berwarna pink atau putih. Dan mungkin, nanti dia akan membelikan sebuah gaun cantik yang akan serasi dengan sepatu baru milik Evelyn. Syukurlah, gadis itu tidak pernah menyusahkannya soal hadiah ulang tahun. Kecuali tentu saja, saku Liam akan terasa lebih ringan setelahnya.


Lihat selengkapnya