Sore menjelang maghrib, terdengar jelas suara jangkrik saling bersahut-sahutan. Seorang petani berjalan sembari membawa arit*, dia ingin mandi di kali.
Setibanya di kali, dia menaruh aritnya, lalu menanggalkan semua pakaiannya dan lompat terjun ke kali.
Ciprat-ciprat air terdengar, ditemani suara jangkrik yang semakin nyaring. Sayup-sayup dari kejauhan, terdengar suara orang mengaji.
Si Petani membersihkan keringat di setiap sudut tubuhnya yang hitam legam. Terlihat rambut halus di sekitar dada dan perutnya.
Dari yang awalnya ramai, tiba-tiba semuanya menjadi sunyi. Suara orang mengaji lenyap begitu saja; para jangkrik seakan berhenti bersuara ketika melihat sesosok gadis berjalan menuju kali.
Gadis tersebut tak berbusana. Wajahnya tampak pucat pasi. Dia berjalan terhuyung-huyung lalu terjatuh ke tanah tak sadarkan diri.
Si Petani terkejut dan segera keluar dari kali, sampai lupa memakai baju. Dia naik ke atas dan segera berlari menghampi sosok gadis yang barusan terjatuh.
Dia berpikir sejenak, seperti mengenali sosok gadis yang ada di hadapannya.
Akhirnya dia ingat, setahun lalu ada siswi yang hilang dan sepertinya orang ini adalah siswi tersebut.
"Neng, neng..." panggil Si Petani sambil menggoyang-goyangkan tubuh gadis tersebut.
Otomatis telapak tangannya yang kasar bersentuhan dengan kulit Si Gadis yang terasa begitu halus bagaikan kain satin berkualitas tinggi. Keduanya begitu kontras.
Si Petani memeriksa hidung Si Gadis, tak ada hembusan napas.
"Sepertinya sudah mati," pikirnya.