Pelita Luka Menanti Senja

Temu Sunyi
Chapter #11

Menuju Tingkat yang Lebih Tinggi


Pagi ini, matahari belum sepenuhnya keluar dari selimut embun.

Aku sudah menghidupkan sepeda motor tua yang bunyinya seperti enggan—enggan yang setia menemaniku menuju kantor kecamatan.

Kantor itu jauh. Terlalu jauh untuk disebut bagian dari kami.

Jalanan berbatu, lumpur semalam, dan tikungan sempit membuat setiap menit terasa seperti upacara kesabaran. Tapi aku tetap melaju.

Karena hati ini belum selesai bicara. Karena atap sekolah masih berguguran di kepalaku, walau aku tak lagi di kelas.

Sampai di sana, keramaian menampar kesunyian hatiku.

Warga berdesakan, berteriak, meminta hak mereka. Sedangkan aku, hanya berdiri diam di antrean, membawa selembar proposal yang nyaris lusuh—bukan karena waktu, tapi karena harapan yang selalu dipinggirkan.

Lihat selengkapnya