Kupacu kembali motorku. Tapi kali ini bukan untuk pulang. Ada satu tempat lagi yang ingin kucoba: kantor bupati.
Bangunan itu berdiri dengan megah, tiangnya tinggi, lantainya marmer.
Di depannya, air mancur menari-nari seperti mengejek siapa saja yang datang dengan keluh kesah.
Langkahku gemetar ketika memasuki halaman. Bukan karena takut… tapi karena sadar, aku hanya seorang guru honorer dengan kertas di tangan dan luka di dada.
Namun langkahku dihentikan sebelum sempat menyentuh pintu. Seorang satpam berdiri, tegas dan berwibawa.
“Sudah buat janji dengan bapak bupati?”
Aku menggeleng. Ia menggeleng juga, tapi bukan sebagai jawaban—lebih sebagai penolakan.
Aku coba jelaskan. Tentang sekolah, tentang anak-anak, tentang kemanusiaan.