Malam badai turun seperti langit kehilangan kesabaran.
Petir menyambar tanpa jeda, seperti amarah yang ingin mengingatkan dunia bahwa doa-doa tak selalu sampai ke surga.
Aku termenung di kamar kecil. Rumah peninggalan Bapak.
Dindingnya banyak retak, lantainya dingin, dan langit-langitnya berdebu seperti kenangan yang sudah lama tak dibersihkan.
Kupikirkan semua. Semua usaha yang sudah kutanam dengan cucuran keringat dan harapan.
Tapi jika tak tumbuh juga, harus dengan darahkah baru bisa ku panen? Dan jika memang hanya disuruh menunggu... pertanyaannya satu:
berapa lama lagi aku harus bertahan dengan luka yang terus menganga?
Lelah. Lalu tertidur. Di peluk mimpi yang entah benar-benar mimpi... atau pelarian dari kenyataan yang tak lagi bisa kupeluk.
Genangan yang Tak Menghapus Cemas
Pagi datang tanpa salam. Matahari tak bersinar, hanya mendung menggantung seperti ampunan yang ditunda.