Aku meronta. Merayu. Berusaha melepaskan. Tapi genggamannya terlalu kuat.
“Lepaskan aku, Pak!
Dia akan mati!
Itu Nina! Murid kita, Pak!”
Tapi dunia lebih percaya pada logika, bukan nurani. Pada protokol, bukan naluri.
Dan saat tanganku tak bisa menjangkau—bambu itu lepas. Tubuh kecil itu dihantam arus. Sekali. Dua kali. Lalu hilang.
“NINAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”
Aku berteriak sampai tenggorokanku perih. Tapi suara itu tak menghentikan arus. Tak memutar waktu. Tak menyelamatkan nyawa.
Aku bersimpuh di tanah. Tanganku menggenggam lumpur.
Hatiku seperti dikubur hidup-hidup. Dan aku menangis—bukan hanya karena kehilangan Nina, tapi karena aku masih hidup... saat muridku hilang.