Malam itu... bukan lagi malam. Tapi kuburan yang tak menunggu liang.
Aku duduk di tanah basah, dikelilingi peluk-peluk duka dan suara pelan isak yang saling menguatkan.
Tapi tak ada yang bisa menguatkanku. Karena yang hancur di dalamku, tak bisa diperbaiki oleh pelukan, doa, atau waktu.
Aku menunduk di tengah kerumunan, bukan karena sedih saja… tapi karena malu.
Malu menjadi lelaki yang berdiri paling depan saat upacara, tapi berlutut saat badai datang.
Malu disebut guru, padahal tak mampu melindungi murid dari maut yang menyaru dalam arus.
“Pak Danu…” Suara itu menusuk lebih dalam dari hujan semalam.
Pak Heru datang, membawa kabar yang membunuhku untuk kedua kalinya. “Yusuf... sudah tidak ada. Tadi... di puskesmas.”
Aku tak bereaksi. Tubuhku masih duduk. Tapi jiwaku tumbang.
Seperti dahan yang patah, bukan oleh angin, tapi oleh kesalahan sendiri yang terlalu berat untuk ditopang.
Dua Liang, Satu Dosa
Dua nyawa, dua tawa yang dulu memanggilku "Pak Guru", hari ini dipanggil langit untuk tidak kembali.
Kupeluk kepalaku, bukan untuk menghangatkan, tapi untuk menahan semua suara yang menjerit dalam hati.
Suara Nina yang meminta tolong, suara Yusuf yang sulit berucap, dan suara hatiku sendiri yang terus mengutuk namaku sendiri.
Aku gagal. Tak ada apapun dalam diriku yang layak dipanggil panutan. Yang kulindungi cuma rasa takut, bukan anak-anak itu.