Pelita Luka Menanti Senja

Temu Sunyi
Chapter #18

Luka yang Dibiarkan Hidup


Matahari menyengat reruntuhan, tapi tak bisa menghangatkan apapun yang tinggal.

Aku masih duduk di antara puing-puing kelas yang roboh. Kayu-kayu lapuk menusuk tanah, papan tulis retak menatap langit kosong.

Dan aku... hanya satu-satunya manusia yang masih hidup di tempat yang sudah mati.

Aku menyentuh batu bata yang dulu jadi dinding tempat Yusuf menggambar.

Debu masuk ke hidungku, ke mataku, tapi tak mengganggu—karena air mata sudah lebih dulu membanjiri segalanya.

Kepalaku tertunduk. Punggungku melengkung seperti tubuh yang tak punya harapan untuk tegak lagi.

“Nina... Yusuf...” bisikku parau. “Maaf... maaf...” Tak ada yang menjawab. Bahkan angin pun tak bersuara.

Lalu... Teriakan itu datang, dari kejauhan. Ramai. Panik. Bergegas. Seperti suara dunia yang baru sadar telah membunuh terlalu banyak.

“Pak Camat ditangkap! Pak Bupati juga!”

“Kepala Desa di rumahnya sekarang, dikepung warga! Katanya korupsi dana pembangunan!”

Aku menoleh. Nafasku tercekat. Kata itu... korupsi. Kata yang menjawab kenapa atap sekolah dibiarkan bocor.

Kata yang menjelaskan kenapa jembatan itu tak pernah diperbaiki. Kata yang membuat dua anakku—dua jiwa kecil yang pernah bermimpi—kini jadi arwah yang tak sempat dewasa.

Darahku mendidih.

Tanganku gemetar. Aku bangkit, menggali puing-puing dengan tangan telanjang.

Kuku-kuku berdarah, kulit mengelupas, tapi aku terus menggali. Sampai kutemukan lemari kecil yang setengah tertimpa balok.

Kubuka paksa. Dalamnya berserakan tugas, buku gambar, dan...

Dua foto. Nina, dengan senyum dan pita kecil di rambutnya. Yusuf, dengan tulisan di bawahnya:

“Aku ingin jadi guru seperti pak Danu.”

Aku meraung.

Lihat selengkapnya