Pelita Luka Menanti Senja

Temu Sunyi
Chapter #19

Nama yang Tak Pernah Disebut

Tidak semua kisah berakhir di pemakaman. Beberapa terus hidup—di dalam kepala orang-orang yang selamat, dan terjebak di sana… seperti hantu yang menolak pergi.

Aku masih berdiri di depan papan tulis yang retak, menulis nama yang tidak akan pernah menjawab absen.

Nina. Yusuf. Nama yang dulu begitu riang, kini hanya gema yang mengiris sunyi kelas kosong ini.

Mereka tidak akan disebut dalam evaluasi pembangunan. Tak masuk dalam laporan tahunan dinas.

Tak ada rapat khusus untuk membahas mengapa dua bocah harus dikubur sebelum bisa mengeja kata "merdeka".

Tapi aku tahu, mereka tidak mati karena bencana. Bukan semata hujan atau derasnya arus.

Mereka mati karena sistem yang memilih diam— karena tangan-tangan berdasi yang lebih suka membangun baliho daripada jembatan yang benar-benar kuat.

Dan aku… guru tanpa kekuatan, tanpa pangkat, tanpa daya… hanya bisa memikul nama mereka ke mana pun aku pergi, sebagai utang yang tak akan pernah lunas.

Kini, setiap kali ada yang bertanya kenapa aku tak lagi mengajar,

aku jawab dengan senyum kecut— karena dua murid terbaikku telah selesai belajar, dan aku sudah gagal memberi mereka hidup yang layak untuk dilanjutkan.

Jika kelak ada yang menulis ulang sejarah desa ini, tulislah nama mereka dengan tinta yang pahit.

Tulis luka kami, tulis jeruji yang tak terlihat itu, dan pastikan dunia tahu— bahwa di balik angka statistik dan kata "maju",

Lihat selengkapnya