Blurb
Tak pernah terpikir dalam benak Arini, jika pernikahan yang ia anggap akan mengobati lukanya, malah menjadi racun yang mematikan dalam hidupnya. Harapan dia menerima pinangan seorang pria tiga tahun lalu, bisa mengobati luka akan sikap keluarganya kepadanya. Namun, harapan tinggallah harapan. Sejak menikah ia tak pernah merasakan apa itu bahagia. Selangkah demi selangkah ia melewati puing-puing reruntuhan "rumahnya" yang sudah lama runtuh. Ia berusaha bangkit dari keterpurukan. Ia mengusap air matanya, ia ingin menjadikan tangisannya menjadi senyuman di masa depan. Pundaknya yang begitu berat, ia tanggung dengan kuat.