“Dhimas! Kau akan membunuhku kali ini, bisakah kau pelankan sedikit … saja?!”
Aku memegang pundak Dhimas dengan erat, mencoba mengintip berapa kecepatan sepeda motor yang kami naiki. Mataku bahkan kesulitan untuk membuka, angin yang kami tabrak memaksa kelopak mataku menutup tidak karuan. Dengan rasa perih dan kering yang menguras air mataku, aku memaksakan kemampuanku hanya untuk mengintip sedikit saja—berapa sebenarnya kecepatan kami saat ini?!
Seratus sepuluh kilometer per jam, terpampang jelas di bawah jarum merah menyala di balik kaca yang sedikit pecah. Ia ingin membunuhku—bahkan ia ingin membuat kami berdua terbunuh!
“Akbar! Jangan khawatir, kau meremehkan kemampuan berkendaraku, huh?”
Katanya menyombongkan diri, aku sama sekali tidak meragukan bahwa ia memang orang yang selalu memberikanku tumpangan gratis. Namun, bahkan SIM yang ia punya didapatkan dengan cara menyogok polisi di sana! Satu hal tersebut sudah cukup menjelaskan kenapa seluruh tubuhku bergetar.
“Benar, aku tidak khawatir—kau bercanda! Aku khawatir, eh—awas—!”
Kemudian, hening.
Tidak ada yang bisa aku dengar, tidak ada yang bisa aku lihat, hanya gelap yang membutakan. Suara langkah kaki, bau cat, membuat hidungku mati rasa seketika.
Sejak awal aku tidak memercayai tentang kelahiran kembali atau reinkarnasi, namun hal ini terjadi kepadaku. Benar, aku terlahir kembali dengan keadaan terduduk—pandanganku masih terasa gelap. Suara samar-samar aku dengarkan, suara yang membuat telingaku merasa mengenal nuansa riuh seperti ini. Sebuah ruang kelas yang berlantaikan kayu—jika aku tidak salah menebak; suara hentakan sepatu ini menjelaskan semuanya.
Mataku kabur, kemudian mulai semakin jelas seperti ujung lensa kamera yang menyesuaikan dengan objek di depannya.
Sebuah ruang kelas, dengan barisan peralatan lukis, gulungan kanvas, hingga kaleng cat yang mengotori lantai seperti tidak sempat dibersihkan.
“Herr Paul! Apakah kau ingin membodohiku?! Karya yang sangat menodai mataku, hapus dan bakar bencana itu dari hadapanku! Tidakkah kau mengamati bagaimana hatimu berbicara dengan kuas?! Kau masih saja mengigau dengan umpatan tak berarti yang digoreskan di atas kanvas suci seperti ini? Di mana letak nuranimu?! Enyahkan omong kosong itu, berikan penggambaran jiwa yang membakar seluruh pigmen yang ada, paham?!”
Tidak salah lagi, sebuah kelas seni dengan dosen temperamental yang eksentrik. Namun, semua itu tidak masuk akal. Aku, terlahir di sebuah kelas seni? Lelucon macam apa ini?
Aku membuka mataku, mengamati tangan seputih kertas eropa dan aku bolak-balikkan dengan tanpa dosa. Di depanku, hanyalah kanvas kosong, bersandar di atas tatakan kayu segitiga. Aku tidak memiliki ide apapun mengenai sebuah kanvas yang kosong, selain mengirup aromanya yang memabukkan.
Dosen itu, berjalan dengan mantel cokelat tua panjang yang menjuntai menutup seluruh kakinya dari belakang. Berjalan dengan menyilangkan tangan di depan dada dan menggerutu tidak ada habisnya mengenai perspektif dan isi hati—sama sekali aku tidak mengerti apa yang pria tua itu ucapkan. Satu hal yang aku tahu, suara bariton yang serak menggelegar dengan aksen huruf ‘r’ yang kental, tidak salah lagi. Aku mencoba untuk tidak memandanginya, namun pria itu semakin mendekat dari belakang. Langkah kakinya membuat lantai yang aku pijak dengan kedua kakiku bergetar ketakutan. Sepatu yang ia gunakan seakan seperti pernah menginjak ribuan wajah orang tak bersalah.
Pria itu berdiri tepat di sebelahku, dan akhirnya mengeluarkan amarah yang membuat telingaku ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya.
“Herr Herrmann?! Sungguh, sungguh luar biasa—,” ia mengangkat kaki dan menerjunkannya tepat di lantai kayu yang malang itu, “—luar biasa bodoh! Apakah kau sedang melakukan pertunjukan sirkus dengan lukisan tak kasat mata itu?!” Pria itu mencengkeram kepalaku, mengarahkan wajahku pada tatapan mata birunya.
Seorang pria yang di dalam duniaku sebelumnya pernah ditolak sekolah seni sebanyak dua kali, kemudian membanting setir menjadi seorang diktator fasisme. Tidak salah lagi, kumis sikat gigi itu terpampang di bawah hidung mancungnya, dengan seringai yang siap menarikku ke dalam kamp konsentrasi dan menjadikanku abu—Adolf Hitler?!
Ia mengarahkan kepalaku menatap paksa kanvas kosong di hadapanku dengan kasar, membuat orang-orang yang memandangi kami mengurungkan niatnya. Mereka kembali menyibukkan diri dengan berpura-pura mencampur cat di atas palet, atau meraba-raba kanvas yang sudah jelas masih basah dengan jari telunjuk kotor mereka.
“Baik?! Aku, maafkan aku—,"
Mataku membelalak, aku menyadari bahwa selama ini aku mendengarkan ocehan di dalam alam kedua tempatku dilahirkan—adalah bahasa Jerman!
Aku bisa bahasa Jerman, adalah kemampuan yang pertama kali aku sadari. Tetapi, kemampuan yang tidak terlalu penting dibanding kepala yang tengah digenggam oleh Hitler sendiri.
“Sebaiknya kau meminta maaf pada kanvas yang sudah kau selingkuhi—," ia menggunakan kosakata yang blak-blakan, “—kau tidak menyentuhnya sama sekali, apakah ia tidak membuatmu bergairah, heh, Herr Herrmann?!”
“Aku—"
“Hentikan bualanmu yang denial itu! Aku berdiri di sini tidak untuk mendengar omong kosong apapun, aku membutuhkan karya yang otentik dan memiliki nyawa di setiap pigmen di dalamnya. Kau pasti sudah mengerti, Austria sedang kacau, Eropa di ujung tanduk. Lihatlah Jerman yang perkasa, Kekaisaran Suci Romawi yang kini tengah di ambang dekadensi tak berujung, menggerogoti kemampuan keuangan mereka dan membunuh perlahan. Tidakkah kau merasakan emosi itu, Herr Herrmann?!”
Sebelum aku mengiyakan sepatah kata dari ucapannya, sebuah pemikiran banal terbesit begitu saja di dalam kepalaku. Pertama, aku tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di sini. Kedua, aku hanyalah pria Indonesia biasa—kemungkinan aku mati karena sepeda motor yang aku tumpangi menabrak sesuatu.
Sudah dipastikan aku benar-benar mati.
Lagipula, dekadensi, kehancuran, kekaisaran—apapun itu, aku tidak mengerti sama sekali. Apa yang pria ini ingin coba katakan? Apakah aku harus melukis mengenai kemuraman Eropa di awal abad ke-20? Bahkan sosok biang keladi dari segala kegelapan yang menyelimuti daratan Eropa ada di depanku … seorang dosen!
Ia masih mencengkeram kepalaku, layaknya cakar elang di lambang partai kebanggaannya di duniaku sebelumnya.