Pelukis Austria

Heinrich Wilhelm Franz Schantzfeuer
Chapter #2

II

Ini adalah istana, tidak salah lagi—sebuah istana, kastil, atau apapun itu jenisnya. Sama persis dengan film bertemakan sihir saat aku masih anak-anak. Dinding marmer, patung, ukiran di tembok—bahkan pegangan di sisi tangga juga … ini Eropa yang selalu dielu-elukan di dalam karya tulis.

Karl membawaku menuju lorong, karena jam istirahat sedang berlangsung. Mahasiswa berlalu-lalang seperti arus bawah laut; beberapa bercerita, beberapa memamerkan gerakan tangannya, hingga beberapa saling melukis di pinggir koridor. Hanya ada satu pertanyaanku, kenapa ini begitu nyata?

“Ngomong-ngomong, aku penasaran dengan gaya melukismu. Gaya mana yang sering kau gunakan?”

Gaya, gaya yang seperti apa?! Aku bahkan tidak tahu apa yang sudah aku lukis sebelumnya, itu hanyalah sebuah pemandangan pedesaan—tidak lebih.

Aku memandangi sekitar, terdapat berbagai lukisan yang tergantung dengan tulisan di bawahnya.

“Realisme—," secara acak aku mengutip tulisan dari salah satu lukisan yang tergantung, “—dan impresionisme, kurang lebih seperti itu.”

Aku membual padanya untuk yang kedua kalinya.

“Hebat, pantas saja Herr Professor langsung menyukai lukisanmu. Karena, sepengertianku, dirinya memang seseorang yang sangat mengapresiasi gaya realisme. Ia benci kebohongan, ia seseorang yang sangat mencintai kejujuran apa adanya. Untukku sendiri, aku lebih suka mengadopsi romantisme, karena itu indah, setidaknya untukku. Juga, kapan-kapan akan aku ajak ke dalam galeriku, ahaha.”

Romantisme? Semacam pasangan? Cinta? Apakah ia melukis sepasang kekasih yang sedang berciuman di danau? Sepasang angsa yang membentuk hati dengan lehernya yang melengkung?

“Oh, aku juga menyukainya. Ajak aku, sekalian berkeliling di Wina.”

Aku berbohong padanya untuk yang ketiga kalinya.

Tiba-tiba saja, sekelompok orang memblokir jalan kami. Seperti layaknya di sinema anak-anak, mereka memiliki perawakan yang bervariasi. Pemuda di tengah, dengan wajah keras dan rambut tertata rapi, ia sedikit lebih tinggi dariku. Di sisi kiri, bertubuh lebih pendek dari yang tengah, memakai kacamata bulat yang khas seperti seorang kutu buku. Terakhir, di sisi kanan, bertubuh tambun dengan leher yang hampir tidak terlihat.

“Oh, jadi kau anak baru yang berhasil memenangkan hati Herr Professor—," dia tersedak, “—maaf, erm, kau yang membuat—," dia tersedak lagi, “—sial, berikan aku air minum.”

Dengan sigap, pria berkacamata itu memberikan sebotol air padanya.

“Apakah, kalian ada masalah … dengan kami?” Aku memberanikan diri untuk menanyakan hal itu, walau sebenarnya aku tidak takut—hanya saja, mencari musuh dengan kekuatan ekonomi lebih menyakitkan daripada musuh yang hanya bermodalkan otot.

“Sekarang—”

“Lukas! Kalian … sudah aku bilang untuk tidak mengacau anak baru lagi.”

Suara seorang gadis, tentu saja. Pasti ada karakter perempuan yang datang untuk membela kami, kemudian memberikan kami panduan dari sekolah ini, dan menjadi pelindung dari gangguan ketiga anak nakal yang ada di depanku. Oke, kisah yang cukup klasik, aku akan menoleh untuk memastikannya.

“Terima kasih—”

Cantik!

“Der schöne Engel—,” gumam Karl secara spontan setelah menatap matanya, hampir tidak terdengar orang lain kecuali telingaku.

Mata biru itu, rambutnya yang cokelat tergerai bergelombang, kulit yang bahkan membuat nyamuk terpeleset saking halusnya, dia … Der Engel! Memang, aku sudah mati. Tapi di dalam kondisi seperti ini, aku akan mati untuk kedua kalinya!

Samar-samar aku dengar bisikan dari siswi lain yang menatap gadis itu.

“Hei, itu adalah … Nona Clara—”

“Tidak salah lihat, itu Nona Clara dari keluarga von Althaus yang masyhur di daratan Wina!”

Disusul puluhan hingga ratusan bisik-bisik yang menggema di seluruh koridor tempat kami berjalan, bak ombak yang saling bersautan.

Sudah jelas sekarang, aku dipastikan akan jatuh cinta dengan sosok di depanku kali ini. Siapa yang tidak?! Namun, sebelum aku terjatuh lebih dalam, aku ingin memastikan bagaimana rupa wajahku sekarang. Karena hal yang paling penting, aku masih tidak mengerti bagaimana fitur wajah dari sosok Herrmann tempat aku berada.

“Nona … von Althaus—tidak, ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Aku hanya … um—," pria congkak di tengah itu menyikut salah satu rekannya, dan rekan satunya yang membuatku malas menanggapi bagaimana rupanya tersebut berbisik padanya. Setelah beberapa patah kata yang disembunyikan oleh telapak tangan putih itu terdengar di telinga Lukas, ia memasang senyum yang sangat setengah hati, “—kami hanya ingin menyapa anak baru, ya, hanya menyapa.”

Barometer kebohongan di pikiranku sudah menyala, anak ini sudah jelas berbohong! Namun tidak masalah, aku harus segera berkenalan pada gadis bangsawan yang teramat sempurna di hadapanku kali ini—Clara!

“Selamat siang, Nona Clara, senang melihatmu di sini.” Sapa Karl dengan hormat sewajarnya seorang bangsawan.

“Dan kau, kau memang terlihat seperti anak baru, siapa namamu?” Gadis itu bertanya padaku, melempar tatapan dengan memicikkan mata.

“Aku, Herrmann. Senang berkenalan denganmu—," tanganku ditahan oleh Karl saat hendak menyalami gadis itu. Aku menoleh padanya, namun ia hanya mengeram dan sedikit menguatkan pegangan tangannya.

“Oh, nama yang familiar. Bagaimana dengan keluargamu?”

“Aku—”

“Dia pindahan dari Jerman, berkelana sendiri di negeri orang untuk menimba ilmu. Lichtzsche, namanya.” Karl menyambar kalimatku.

“Itu … benar.” Kataku gugup. Dengan mata tajam, aku melontarkan bisikan pada Karl, “hei, biarkan aku memperkenalkan diri dengan baik—”

“Sudahlah, serahkan dia padaku, anggap ini demi kebaikanmu.”

“Kebaikan apanya?”

Kenapa pria pirang ini sungguh protektif dan obsesif? Apakah ia menyukai gadis ini … lagian, siapa yang tidak menyukainya?

Lihat selengkapnya