AIR sawah itu dingin, tapi tidak pernah cukup untuk meredakan panas yang membakar tubuhnya.
Kaki wanita itu sudah lama kehilangan rasa—kulitnya memutih, mengelupas, dan perih setiap kali ia mengangkat langkah dari lumpur. Tangan yang dulu halus kini dipenuhi luka-luka kecil yang terus tersiram air keruh. Matahari berdiri tepat di atas kepalanya, kejam, seolah ingin memastikan tak ada satu pun napas yang diambil tanpa rasa sakit.
Namun ia tetap bekerja.
Karena di rumah… ada enam mulut yang harus makan.
“Istirahat dulu, Sar. Kamu ndak capek?” suara seorang wanita lain terdengar dari petak sawah di sebelahnya.
Wanita yang baru saja masuk kepala tiga itu hanya mengangguk kecil sembari tersenyum tipis, lalu duduk di pematang sempit. Napasnya berat. Perutnya kosong sejak pagi. Bahkan air minum pun hanya tersisa seteguk.
“Aku tidak masak hari ini,” gumamnya lirih, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Anak-anakku pasti makan apa saja yang ada… kalau ada.”e
Rekan kerja sekaligus teman kecilnya bernama Lastri itu mendengus pelan. “Mereka semua udah pada gede Sar. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Liat dirimu, siapa yang memikirkanmu? Suamimu... Palingan dia pergi lagi kan?"
Sari terdiam.
Angin berhembus pelan, membawa bau lumpur dan jerami basah. Ia mengernyit menatap hamparan sawah yang hijau menyala, seolah mencari jawaban di sana.
“Katanya kerja,” jawabnya akhirnya. Suaranya begitu pelan, hampir hilang ditelan suara angin. “Tapi aku tahu… dia tidak pernah benar-benar bekerja untukku dan anak-anakku.”
Lastri sontak tertawa pendek, getir. “Kerja? Dia jelas-jelas egois Sari. Kerjaannya cuma bikin anak.”
Wanita itu tidak tertawa.
“Enam anak, Sar… enam beban hidup untukmu” lanjut temannya, kali ini suaranya lebih tajam. “Kamu ini manusia atau mesin? Sudah capek-capek KB, masih saja diberi anak-anak yang nyusahin, ndak berguna sama sekali. Itu bukan suami, itu—”
“Tidak,” potongnya cepat. Suaranya bergetar, tapi tegas. “Dia tetap suamiku. Dan anak-anakku bukanlah beban untukku.”
“Suami macam apa yang pulang cuma untuk minta dilayani? Habis itu pergi lagi, judi, ngutang, selingkuh—”
“Sudah!”
Suara itu pecah. Lebih keras dari yang ia kira.
Beberapa burung di kejauhan beterbangan kaget.
Napasnya memburu. Matanya memerah, bukan karena marah—tapi karena lelah yang sudah terlalu lama dipendam.
“Aku tahu semuanya,” katanya pelan, nyaris berbisik. “Aku tahu dia seperti apa… aku tahu bagaimana capeknya mengurus enam anak... aku tahu aku bodoh…”
Ia menunduk. Air mata jatuh, bercampur dengan lumpur di kakinya.